Milad Himpunan Mahasiswa Islam ke
69 Tahun
Sebelum panjang lebar menjelaskan buah piker ini
saya mengucapkan kepada Selamat merayakan Ulang Tahun yang ke 69 bagi Kader –
kader HMI Di seluruh penjuru Nusantara.
Pada tanggal 5 februari 1947 H/14 Rabiul Awal 1366 M
tercetuslah organisasi kemahasiswaan yang membawa spirit ke-Islaman yang
dipelopori oleh Lafran Pane dengan 14
orang temannya. Mahasiswa – mahasiswa ini beranggapan bahwa pelajaran dikuliah
saja tidak cukup untuk memberikan solusi bagi perbaikan Bangsa ini, sedangkan
pada waktu itu kondisi Indonesia masih sangat rentan dengan gerakan – gerakan
agresif dari tentara belanda yang ingin mengambil alih kembali kekuasaan di
Republik Indonesia.
Tekanan demi tekananpun menghantui para pemuda –
pemudi ini sehingga mereka berjuang dan berfikir keras untuk memformat
organisasi ini (HMI) dengan style organisasi perjuangan dan sebagai organisasi
perkaderan. Artinya sebagai organisasi perjuangan adalah organisasi yang
peduli/peka terhadap kondisi sekitar dan melakukan segala upaya untuk
memperbaiki kondisi tersebut, tentunya dengan pencermatan – pencermatan yang
akademis karena organisasi ini juga menggunakan system perkaderan, yaitu
mempunyai konsep pembelajaran yang tersusun baik sehingga mampu melihat dan
mengambil keputusan yang terbaik dalam melangkah sesuai dengan visinya pada
waktu itu “mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Menegakkan dan
mengembangkan Agama Islam”.
Jadi tidak jarang ketika dahulu ada ungkapan –
ungkapan oleh founding father bangsa kita seperti Jendral Sudirman sang
panglima yang berperang dengan tandu mengatakan bahwa “HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia”. Dan perlu di ingat pada
waktu adanya goncangan akan pembubaran HMI
oleh PKI, Ir.Soekarno sang Revolusioner mengatakan “ Go Ahad HMI”.
Hal ini membuktikan bahwa, Himpunan Mahasiswa Islam
mempunyai nilai yang tak tergantikan di batang tubuh dan perjalanan Bumi
Pertiwi ini.
Salah satu tujuan kita mempelajari sejarah adalah
untuk mengrtahui kejadian – kejadian
yang ada dimasa lampau agar bisa dijadikan pelajaran dalam mengarungi hidup ini
terutama para praktisi/kader HMI yang tengah “berjuang” melanjutkan roda
organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua ini.
Sejarah juga bisa menjadi perbandingan kita antara
kondisi dahulu dan kekinian beserta prilaku – prilaku para tokohnya sehingga
bisa menjadi alat kita untuk merefleksikan atau menjadi cermin dalam berjalan
menuju masa depan.
Mengamati perkembangan HMI yang kian membesar secara
kuantitas dari tahun ke tahun adalah sebuah kebanggaan bagi kader – kadernya.
Karena hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di HMI telah banyak menghasilkan human resources
yang mampu berkiprah diberbagai posisi.
Namun dari hal itu semua kita seharusnya membuka
mata kita dan melihat realitas (kenyataan) serta menanyakan pada sanubari kita,
seberapa besar persentase terwujudnya 5 kualtas insan cita ? sudahkah
terwujudnya insan akademis? Dimana hasil ciptaan insan pencipta? Terlihatkah
pengabdiannya? Apakah sudah islami? Bagaimana tanggungjawabnya terhadap
kemakmuran dan keadilan rakyat? Ridho kah Allah akan perjuangannya?. Semua itu
akan terjawab didalam hati anda – anda sekalian wahai kader sang hijau hitam !
Saat ini hendaknya HMI kembali pada khittahnya
sebagai organisasi yang mandiri secara pemikiran (Independen) dengan
menghilangkan fanatisme ke-hijau-hitaman dengan mengharap serta tunduk terhadap
nilai – nilai kesenioritasan. Hmi tetap mengedepankan prinsip silaturahim dan
akhlak yang baik terhadap para pendahulunya tapi jangan menghilangkan objektifitas yang telah menjadi
hukum – hukum Tuhan. Hmi harus menunjukkan profesionalisme bukan nepotisme.
Pembahasan mengenai perjuangan tak henti – hentinya
digumamkan oleh kader – kader Hmi di setiap aksi dan setiap diskusi, kata –
kata ilmiah dengan berbagai referensi dan wacana – wacana kebangsaan yang terus
di ikuti terus menjadi spirit dalam berorganisasi, namun pada akhirnya sebagian
besar perjuangan yang ingin diperjuangkan tersebut menjadi bias dan hilang
kendali menjadi gerakan reaksional yang sangat rapuh serta mudah untuk
dipolitisasi. Maka untuk para pejuang Hmi : jangan lupakan tujuan dan jangan buat gerakan yang Tuhan sendiri
membencinya, bahkan dalam keheningan sekalipun.
Pembenahan yang paling urgent di tubuh Hmi dimulai
dari para penggeraknya dan tentunya dengan penguatan ideology. Pengenalan
terhadap diri kader sebagai manusia yang mempunyai nilai – nilai kemanusiaan
serta membangun hubungan individu dan masyarakat dengan landasan Tauhid adalah
kunci perjuangan yang hakiki dengan mengikuti utusan – utusan Allah yang diutus
di muka bumi ini sebagai wakil-Nya.
Factor lain yang membuat kita sebagai manusia
berubah haluan dari arah perjuangan yang sesungguhnya adalah factor materi
(ekonomi) yang didalam latihan kader telah kita mengupas tuntas dan membantah
teori tentang Materialisme, lalu mengapa kita menghalalkan segala cara untuk
memenuhinya, bukankah hal itu mempunyai sebab akibat yang berubah menjadi karma
yang akan membuat kita resah dan gelisah ?
Factor selanjutnya adalah system kepemerintahan yang
dzolim dimana kita diarahkan untuk berbuat sesuatu yang tidak – tidak, contoh
kasus korupsi berjamaah, deal to deal dengan korporasi untuk menindas rakyat
dan merusak lingkungan dan lain – lain. Hal ini harus kita lawan dengan
pengendalian diri kita agar tidak menajadi bagian dari gerakan pendzolim.
Saat ini sudah saatnya kader – kader Hmi sadar akan
perannya sebagai kader umat dan kader bangsa dengan mengaktualkan nilai – nilai
ideologis untuk membentuk mentalitas yang kokoh
kepada Internalnya, Mahasiswa secara umum dan masyarakat secara luas.
Banyak yang menjadi home work bagi kita untuk
membenahi Negeri ini. Kita tidak bisa berharap banyak atas mayoritasnya
komunitas kita dipenjuru nusantara ini. Kita juga tidak usah berkecil hati akan
sendirinya kita melangkah. Teruslah bergerak pada kebenaran dimanapun engkau
berada dan apapun profesimu, karena jika tujuan kita sama kita akan menyatu
dalam hubungan yang erat yaitu hanief….
Yakin Usaha Sampai…….

No comments:
Post a Comment