Thursday, June 2, 2016

Pancasila Sakti : Melawan Narkoba dan Radikalisme


Setiap Negara yang ada didunia ini pasti mempunyai falsafah atau prinsip dasar yang menjadi azas bagi negara tersebut untuk membangun bangsanya. Biasanya falsafah itu diambil dari historis dan karakteristik bangsa yang diambil untuk menjadi spirit bagi rakyatnya untuk menjalankan kehidupannya dengan mengakomodir budaya, ras, suku, adat istiadat dan berbagai kepercayaan.
Tahun 1945, adalah momentum bagi Bangsa Indonesia dalam melakukan sebuah revolusi kemerdekaan yang menggetarkan dunia, bahkan tidak sedikit bangsa – bangsa Asia yang mengikuti jejak untuk memerdekakan Negaranya dan melawan para kolonialisme. Sebelum tanggal 1 Juni 1945 para funding father kita ditanya mengenai asas Negara yang akan merdeka ini, lalu pada tanggal itulah Ir. Soekarno mengutarakan filosofi dari Negara ini, simak pidato beliau :
Selama tiga hari berturut-turut sudah banyak yang berpidato, tetapi yang diutarakan bukan yang diperlukan BPUPKI, yaitu dasar Negara. Apa arti merdeka?  Merdeka merupakan suatu kemandirian politik. Jangan terlalu “jlimet” mengartikan merdeka, jangan harus ada ide ini dan itu. Saudi Arabia merdeka ketika lebih dari 80 % rakyatnya buta huruf. Kemerdekaan itu bagai jembatan dan di seberang jembatan. Itulah prinsipnya, kita sempurnakan masyarakatnya. Jangan gentar dan jangan jlimet memikirkan harus ada ini dan itu baru merdeka, tapi kita harus merdeka sekarang, sekarang dan sekarang.
Uni Soviet, Saudi Arabia dan Amerika Serikat ternyata sanggup mempertahankan kemerdekaannya. Apabila kemerdekaan dibandingkan dengan perkawinan , aa yang berani lekas kawin , ada yang takut, ada yang harus tunggu punya rumah dan sebagainya baru kawin. Saudara kita si Marhaen berani kawin walaupun Cuma punya satu tikar dan gubug. Kita sekarang mau merdeka atau tidak!
Di dalam Indonesia merdeka, barulah kita memerdekakan rakyat kita satu per satu. Di dalam Indonesia merdeka kita sehatkan dan sejahterakan rakyat kita. Kalau kita sudah bicara tentang merdeka, kita bicarakan mengenai dasar, philosophische grondslag, weltanschaung (dasar Negara). Hitler mendirikan Jerman di atas national sozialitische weltanschaung. Lenin mendirikan uni Soviet dengan Marxistische, Nippon mendirikan Dai Nippon di atas Tenno Koodoo Seishin. Ibnu, yaitu Islam Saud mendirikan Saudi Arabia diatas dasar agama.
Weltanschaung harus kita bulatkan dulu sebelum Indonesia merdeka dan para idealis di dunia bekerja mati-matian untuk menyusun dan merea merealisasikan weltanschauung mereka. Lenin mendirikan Uni Soviet dalam 10 hari di tahun 1917, tetapi weltanshaung nya sudah dipersiapkan sejak 1895. Adolf Hitler berkuasa pada tahun 1935, tetapi weltanschaungnya sudah dipersiapkan sejak 1922. Dr. Sun Yat Sen mendirikan Negara Tiongkok pada tahun 1912, tapi weltanshaungnya sudah dipersiapkan sejak 1985 yaitu San Min Chu I.
1.      Kebangsaan
Kita tidak mendirikan Negara buat satu orang, satu golongan, tetapi buat semua sehingga dasar pertama untuk Negara Indonesia adalah dasar Kebangsaan. Kita mendirikan suatu Negara kebangsaan Indonesia, dasar kebangsaan bukan kebangsaan dalam arti sempit. Kita bukan Cuma membicarakan bangsa, melainkan juga tanah airnya. Rakyat Minangkabau yang ada dimana-mana merasakan “kehendak akan bersatu” walaupun Minangkabau hanya sebagian kecil dari nusantara, demikian juga masyarakat Jogja, Sunda dan Bugis. Nationale staat meliputi seluruh wilayah Indonesia yang merupakan wilayah kesatuan. Dalam sejarah kita Cuma dua kali mengalami nationale staat yaitu di masa Sriwijaya dan Majapahit. Di masa Mataram memang merdeka tapi tidak nationale staat. Orang Tiongha klasik tidak mau kebangsaan karena mereka memeluk paham Kosmopolitisme, tetapi untung ada Dr. Sun Yat Sen yang mengubah paham tersebut.
1.      Internationalisme
Dasar kebangsaan ada bahayanya, yaitu dapat menimbulkan chauvinism yang bias mengarah pada uber alles. Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa satu dan punya bahasa satu, tetapi Indonesia hanya satu bagian kecil dunia. Kita akan mendirikan Negara Indonesia merdeka sekaligus menuju pada kekeluargaan bangsa-bangsa, internationalisme tidak berarti kosmopolisme yang meniadakan bangsa. Internasionalisme tidak dapat hidup subur bila tidak berakar di bumi nationalisme , sedangkan nationalisme tidak dapat hidup di taman sarinya internationalisme. Prinsip pertama dan kedua saling bergandengan.
c. Mufakat, Perwakilan dan Permusyawaratan
Kita tidak mendirikan Negara untuk satu orang, stau golongan, tetapi semua untuk semua , satu buat semua, semua buat satu, dan agar Negara menjadi kuat perlu permusyawaratan perwakilan. Untuk pihak islam, inilah tempat terbaik untuk memelihara agama. Dengan cara mufakat kita pebaiki semua hal yang bersangkut paut agama. Golongan agama dapat memanfaatkan dasar ini untuk memperjuangkan kepentingannya.
d. Kesejahteraan Sosial
selama tiga hari belum terdengar prinsip kesejahteraan, prinsip tidak ada kemiskinan di Indonesia. Apakah kita mau merdeka dengan kaum kapitalis merajalela ataukah rakyatnya yang sejahtera. Di Eropa dan Amerika ada badan perwakilan, tetapi nyatanya kapitalis merajalela di sana. Demokrasi yang kita perlukan bukanlah demokrasi Barat, melainkan demokrasi yang memberi penghidupan, yaitu demokrasi politik ekonomi yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial.
Kita mengenal cerita Ratu Adil dimana rakyat miskin berjuang dan menciptakan dunia baru yang lebih sejahtera yang dipipin oleh Ratu Adil. Kita tidak saja memiliki politik, tetapi juga persamaan ekonomi yang mampu mendatangkan kesejahteraan rakyat. Badan permusyawaratan kita bukan saja badan permusyawaratan politik demokrasi melainkan juga mewujudkan dua prinsip yaitu politiche rechtvaadigheid dan sosiale rechtvaadirgheid. Dalam badan permusyawartan kita membicarakan segaa hal, termasuk urusan kepala Negara. Diharapkan semua kepala Negara harus dipilih an Negara bukan monarki.
e. Ketuhanan
Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi setiap orang Indonesia hendaknya bertuhan dengan Tuhannya sendiri. Hendaknya rakyat bertuhan secara kebudayaan, dengan tiada egoisme agama. Marilah kita jalankan agama secara berkeadaban, saling menghormati. Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur.
Kelima dasar ini tidak dinamakan Pancadharma karena dharma berarti kewajiban, sedangkan kita saat ini membicarakan dasar. Kelima dasar ini dinamakan Pancasila karena sila berarti asas atau dasar. Jika tidak ada yang senang, angka lima dapat diperas. Kebangsaan dan internasionalisme kebangsaan serta peri kemanusiaan diperas menjadi socio nasionalisme. Demokrasi dan kesejahteraan diperas menjadi satu menjadi sosio demokrasi dan tinggal ketuhanan yang saling menghormati.
Dari lima tinggal tiga, yaitu sosio nasinalisme, sosia demokrasi dan ketuhanan. Ketiga dasar ini dinamakan Trisila. Jika tidak senang dengan angka tiga dan minta satu dasar ada kata Indonesia yan tulen yaiu gotong royong. Negara Indonesia yang kita dirikan harus berdasarkan gotong royong dan dasar yang satu ini dinamakan Ekasila.


Tidak ada satu pun dasar Negara yang menjelma menjadi realitas tanpa perjuangan. Jika ingin merealisasikan Pancasila , perlu perjuangan. Dengan berdirinya Negara Indonesia tidak berarti perjuangan selesai. Justru kita baru memulai perjuangan, tetapi sifat dan coraknya lain. (DP/ materi lemhanas)
Dari pidato tersebut maka dirumuskanlah kalimat – kalimat dari saripati bangsa ini dengan nama PANCASILA yang artinya Lima Prinsip atau azas. Lima azas tersebut adalah :

1.      Ketuhanan Yang Maha Esa
2.      Kemanusiaa yang adil dan beradab
3.      Persatuan Indonesia
4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan/perwakilan
5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

Indonesia tidak henti – hentinya mendapatkan berbagai serangan baik secara internal maupun secara eksternal. Dan serangan yang paling berbahaya adalah serangan yang tidak disadari oleh masyarakatnya yaitu serangan budaya. Adanya serangan membuktikan adanya perang dan perang yang berlangsung diera kekinian adalah War of Culture (Perang Budaya). Di era digital ini akses – akses informasi dengan menggunakan teknologi sangat mudah tertancap di fikiran masyarakat dunia. Setiap negara mempunyai cara untuk menghegemoni atau mempengaruhi negara – negara lainnya, bukti dari adanya perang budaya adalah dilihat dari apa yang saat ini ditonton oleh anak – anak muda kita. Jepang mempopulerkan anime (Film Kartun) yang mampu mempengaruhi anak muda kita untuk membuat kresi cosplay ala jepang, Korea menghamburkan Drama – drama korea sehingga anak muda kita sensitif dan cendrung baper (bawa perasaan) serta K.Pop yang mengajak anak – anak gadis kita untuk menonjolkan paha – paha mereka, Amerika mempromosikan film – film kepahlawanan, brutalisme, hubungan sesama jenis, tentang kebiasaan untuk mengkonsumsi ganja dan lain – lain.

Anda bisa menyimpulkan sendiri hegemoni – hegomoni yang hadir di sekeliling kita dan perlu saya tekankan bahwa hal ini tidak bisa kita bendung dengan kemampuan kita saat ini. Kecuali anda bisa memutus akses internet di Indonesia dan itu kontra produktif karena ketika kesukaan orang terhadap sesuatu itu diputus maka akan membuat mereka mencari dan lebih kuat untuk menyukai sesuatu tersebut. Saya anggap hal itu sah – sah saja jika anak muda sekarang dimana budaya tersebut mengangkat sisi positif dalam proses pemberian pengetahuan serta wawasan. Namun yang harus kita siapkan adalah membuat para generasi kita sadar akan realita kehidupan berbangsa dan bernegara dengan membuat mereka mencintai bangsa ini.

Tentang serangan yang paling berbahaya saat ini yang membuat generasi bangsa hidup dalam kekosongan visi dan nurani adalah serangan fisik berupa Narkoba dan serangan Idiologis berupa Radikalisme (faham kekerasan atas nama agama).

1.     1.  Serangan menggunakan Narkoba

Indonesia darurat narkoba telah disampaikan oleh Preseiden Ir. Joko Widodo dengan memberikan hukuman mati kepada para pengedar asing dengan jumlah yang masal. Bukan hanya itu Kepala BNN Budi Waseso (Buwas) juga telah berusaha dengan keras untuk membongkar lembaga – lebaga hukum dan kepemerintahan yang terlibat dalam kasus narkoba. Anda bisa bayangkan setiap hari 50 orang Indonesia yang meninggal karena Narkoba dan anda bisa mengira-ngira berapa orang yang masih mencandu barang haram ini.

Dikampung – kampung, dikota - kota dan lingkungan anda, anda pasti tidak jarang mendengar kasus ini, bahkan hal ini menggerogoti pemuda, teman dan keluarga kita. Narkoba mempunyai zat yang bisa membuat orang yang mengkonsumsinya menjadi mabuk dan membuat ketagihan sehingga ketika dosis yang dikonsumsi oleh pecandu tidak ada maka mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, baik itu mencuri, merampok, dan melakukan kegiatan – kegiatan kriminalitas lainnya. Mereka akan kehilangan rasionalitasnya (akal sehat) yang siap memangsa bagai predator yang menerkam mangsa. Orang – orang yang hidup dengan narkoba akan membentuk komunitas untuk menikmati narkoba yang mereka peroleh secara bersama – sama dengan membuat kultur kehidupan bebas sebebas – bebasnya (seks bebas, dugem, pesta narkoba dll) tanpa mengindahkan norma – norma kehidupan bermasyarakat.

Di kalangan masyarakat terutama anak muda yang mengidap virus narkotika dan zat adektif beranggapan bahwa anak kekinian tidak gaul jika tidak mengkonsumsi barang jahat tersebut. Mereka juga menjadikan narkoba sebagai life style dengan iming – iming untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga mereka mampu bekerja diatas maksimal jam kerja namun mereka tidak melihat efek buruknya.

Kadang kita di Indonesia dengan sikap ramah dan tamah selalu berfikir positif seolah – olah narkoba itu hadir dengan sendirinya tanpa berfikir bahwa ada pihak – pihak yang membuat dan mendistribusikannya ke Negara kita, sikap seperti ini bagi saya adalah sikap apatis bukan husnu su’udzon. Selayaknya kita peka (care) dalam melihat, berhubungan dan berkomunikasi dengan lingkungan kita sehari – hari dan yang terutama dengan keluarga serta kerabat – kerabat kita. Hal ini mempunyai pengaruh yang baik agar kita bisa mencegah perkembangan narkoba dan memberikan pemahaman akan bahaya narkoba bahkan bagi yang sudah mencandu bisa direhabilitasi agar tidak over dosis. Kadang kita melupakan hal – hal kecil yang berefek besar yaitu kebersamaan dan sosialisasi antar sesama manusia, karena sikap individualistik menghilangkan cinta dan skema yang dibuat oleh kapitlisme.

2.    Radikalisme (Faham Radikal/Intoleran)

Invasi yang tak kalah mengerikannya di bumi nusantara yang penuh keanegaragaman ini adalah sebuah transfer idiologi yang mengatas namakan Agama namun mengkafirkan kelompok lain tanpa ada tinjauan akademis dan nilai – nilai intelektual, orang – orang/kelompok inilah yang dinamakan kaum skriptualisme atau tekstual, mereka tidak memperdulikan hal – hal yang bersifat kontektual yang sebenarnya ada di teks (teks/kitab suci), bereka seperti mesin yang didikte/dikendalikan untuk membuat cheos (kacau) suatu tempat.

Anda mungkin sering memperhatikan di media – media sosial ada orang atau kelompok tertentu dengan gamblang dan sangat mudah mengkafirkan orang yang mengadakan kegiatan – kegiatan dengan nuansa kebudayaan dan tradisi pendahulunya, anda juga mungkin pernah melihat orang – orang yang mengaku bagian dari bangsa Indonesia namun berpola fikir rasis dan selalu berfikiran negatif tanpa ada alasan yang jelas mempengaruhi orang lain untuk berfikir sama dengan mereka. Mungkin dikalangan kita menyepelekan paahaman ini, namun yang harus kita sadari adalah faham seperti ini akan menggerus kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sadar atau tidak ada sebuah transformasi ideologi yang menginginkan bangsa kita menjadi bangsa bar – bar yang saling sikat, saling bunuh dan saling berpecah belah guna menyiapkan kepentingan – kepentingan kolonialisme. Saya meyakini ideologi ini hadir tidak mungkin tanpa sebab melainkan ada aktor intelektual yang “bermain” untuk memisahkan hubungan antar suku, daerah di bangsa kita agar dengan mudah Negara luar menyedot Sumber Daya Alam kita. Kita juga mungkin sudah belajar dari sejarah keterjajahan kita yang dimana pada zaman dahulu antar keluarga kerajaan dipecah belah dan terjadi civil war yang selanjutnya kolonialisme masuk, kita juga pasti mengingat bahwa dahulu kita blum bersatu yang membuat penjajah mudah untuk menaklukkan bangsa kita.

Ingat saudara – saudara sekalian sudah saatnya kita bangkit untuk berkonstribusi demi mempertahankan bangsa ini, marilah kita memulai dengan cara berfikir yang benar dalam melihat isue – isue yang berkembang dengan melihat fakta lapangan yang kejadiannya benar – benar ada, jangan mudah percaya dengan fitnah – fitnah yang berkembang menggunakan dalil agama. Marilah kita tingkatkan kewaspadaan kita terhadap gerakan – gerakan musuh kita yang sebenarnya yaitu Rezim Zionis. Karena saat ini satu – satunya negara yang menjadi penjajah dimuka bumi ini adalah Negara Ilegal Israel, merekalah yang membuat kekacauan di negara – negara lain agar bisa mengeruk keuntungan dengan fatnernya amerika dan Negara – negara Pengkhianat di Timur Tengah seperti Arab Saudi dll.

Diakhir tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri sama seperti negara – negara lain berupa Asas yang kokoh yang menjadi saripati keseluruhan bangsa ini yaitu PANCASILA, Presiden pertama Republik ini Ir.Soekarno memaparkan pancasila bukan tidak mempunyai riset yang mendalam mengenai persoalan ini melainkan ada kajian yang dipelajari dari leluhur kita baik dimulai dari kerajaan Sriwijawa maupun kerajaan Majapahit. Maka sudah barang tentu kita yang menjadi generasi penerus yang melanjutkan perjuangan para pahlawan kita untuk senantiasa mempertahankan nilai – nilai  Pancasila didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menolak invasi (serangan) budaya luar baik Narkoba dan Radikalisme tau faham – faham negatif yang dibuat oleh Negara – Negara luar. Kita juga harus memahamkan anak – anak bangsa yang ada disekitar kita untuk selalu membangun peradaban dengan tidak mengesampingkan sesuatu yang menjadi jati dirinya yaitu ke khasan budayanya.

Wednesday, May 25, 2016

Gravitasi Cinta



Kata “Gravitasi” dan kata “Cinta” tidak jarang kita dengarkan dikehidupan kita sehari – hari disetiap waktu dan tempat dimana fikiran kita terbang manja menembus cakrawala. Angan – angan yang tinggi kadang membiaskan makna, maka dalam artikel ini saya akan menjelaskan maksud dari semua ini.
Seperti yang kita ketahui bahwa Gravitasi adalah gaya tarik menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa dialam semesta. Artinya segala bentuk materi apapun yang ada dimuka bumi ini akan mengikuti hukum – hukum gravitasi, buah jatuh dari pohon ketanah dengan kecepatan yang berimbang pada masanya, panah yang melesat dengan gaya pegas menancap pada sasarannya, burung yang terbang, awan yang bergerak dan hujan yang membasahi bumi semua terukur oleh gaya gravitasi bumi. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang diluar materi seperti cinta ? berikut definisi cinta
Sebelum kita membahas cinta saya terlebih dahulu memaparkan bahwa cinta adalah salah satu bagian dari ilmu wahmi yang ada didalam cabang ilmu logika yang menjelaskan tentang perasaan atau ilmu yang tidak bisa dilihat, diukuran, berbentuk, bermassa tapi dia eksis. Apakah anda mengerti maksud saya..?? yap, maksud saya adalah ilmu wahmi adalah ilmu tentang perasaan baik itu marah, bahagia, sedih dan juga cinta didalamnya.
Lebih sederhananya lagi bisa dicontohkan begini :
Apa kah anda bisa mengukur rasa marah anda ?
Apakah  anda bisa mengukur beratnya kesedihan anda ?
Apakah anda bisa menyelami dalamnya cintamu pada sesuatu ?
Jawabannya pasti tidak kan? Mungkin kita hanya bisa mengambil analogi/perbandingan dari perasaan kita pada sesuatu tersebut, seperti lirik lagu bahari yang mengatakan “sedalam – dalamnya lautan Hindia lebih dalam lagi cintaku padanya” , sampai saat ini saya yakin cinta yang dia maksud itu belum ada ukurannya bahkan  alat ukurnyapun belum ditemukan.
Begitu pula  antara gravitasi yang bersifat materi dengan Cinta yang bersifat nonmateri, berlawanan sub pembahasan. Namun bisa dijadikan analogi agar bisa dipahami secara sederhana. didalam pembahasan ini ada kesamaan – kesamaan yang juga bisa dijadikan pemahaman baru bagi kita untuk memperkaya pengetahuan kita tentang sisi – sisi lain dari cinta.
Berbicara tentang gravitasi cinta berarti berbicara tentang Pecinta, Cinta dan obyek yang dicintai dimana Pecinta dianalogikan dengan Bumi, Cinta sama dengan Gravitasi dan yang dicintai adalah matahari. Kita mengetahui bumi dan orbit – orbit kecil lainnya selalu mengitari atau tertarik oleh kekuatan gravitasi matahari sekaligus matahari menjadi pusat kehidupan bagi Bumi. Selain punya ketergantungan terhadap matahari, bumi juga mendapatkan efek positif dari ketergantungan tersebut dianataranya adalah berfotosintesisnya tumbuhan yang menghidupkan bumi dengan menghasilkan oksigen sehingga  makhluk lainya bisa bernafas untuk bertebaran di muka bumi ini. Matahari juga mampu merubah bumi dari malam menjadi siang, matahari bisa menerangi bumi dari kegelapan dan perlu diingat pula bahwa bumi adalah bagian dari matahari. benda – benda yang menjadi bagian dari matahari akan senantiasa mengikuti aturan tata surya yaitu berputar pada porosnya, tidak saling tabrakan dan  tidak tenggelam bersama matahari. artinya bahwa maksud dari tarik menarik itu adalah ada daya tolak yang membuat benda – menda yang mengitari matahari menjadi gerakan yang konstan.
Pembaca sekalian, Begitu pula dengan cinta ada ketertarikan dan ada pula sekat pemisah antara pecinta dan obyek dicintai. Anggaplah diri kita sebagai bumi yang mempunyai daya tarik terhadap bulan sebagai satelit yang dimana bulan membutuhkan kita untuk berpijak dan kita mengambil keuntungan dari bulan berupa proses pasang surutnya lautan yang ada didalam diri kita, namun kita jangan melepaskan kepada cinta yang lebih besar karena ketika kita melepaskan cinta yang besar maka akan melumpuhkan cinta – cinta yang ada disekeliling kita.
Persoalan cinta bukanlah pembahasan yang baru – baru ini dirasakan oleh manusia, jauh sebelum generasi kita hadir sudah banyak teori – teori tentang hakikat cinta, kita selayaknya selalu mempelajari dari sejarah dan posisi cinta di kehidupan kita sehari – hari. Kita semestinya mampu memisahkan antara cinta yang menjadi prioritas dan cinta yang menjadi penghias. Mempelajari hakikat cinta secara mendalam selayaknya menjadi kewajiban para generasi muda agar bisa melihat realita cinta yang seutuhnya sebagaiamana hakikat cinta yang bersifat nonmateri teraktualkan dalam kehidupan fisikal. Lebih sederhananya mempelajari cinta akan mencegah kita dari tipuan cinta yang fana yang berefek pada moralitas anak bangsa.
Hal yang harus kita lakukan dalam pemahaman cinta adalah tentang merubah paradigma (pola pikir) kita tentang cinta itu sendiri bahwa cinta adalah fitrah untuk manusia yang diberikan oleh Tuhan untuk membangun sebuah peradaban, beranak pinak, persahabatan untuk bergotong royong dalam membangun, menghargai sebuah karya, menangisi ketika ada bencana sehingga hati menjadi peka dan banyak perasaan lain yang timbul dari adanya cinta. Namun disisi lain kadang manusia memperlakukan cinta dan orang yang dicintainya secara berlebih – lebihan serta kadang sebaliknya, memperlakukan cinta dengan sekurang – kurangnya sehingga mengakibatkan ketidak seimbangan dalam hubungan percintaannya. maka diperlukan rule (norma) dalam mencintai dan mengetahui lebih dalam tentang obyek yang dicintainya. Selayaknya bumi yang mencintai matahari dengan sederhana, dia (bumi)  mengikuti porosnya, tidak masuk tertarik oleh matahari dan tidak keluar dari peredarannya.

Cinta itu tidak bisa dipaksakan kawan, karena pemilik cinta bukan kita melainkan sang pencipta...
Cinta bukan permainan yang melahirkan banyak penyimpangan – penyimpangan...
Cinta itu bukan kata – kata karena kata – kata hanya melahirkan wacana....
Cinta selayaknya menggunakan logika agar kita bisa menilainya...
Cinta itu akan melahirkan banyak warna jika kita toleran untuk mempersatukannya...
Cinta perlu perjuangan ketika hal itu adalah kebenaran yang layak untuk diperjuangkan...
Cinta ada dimana – mana, baik cinta terhadap manusia, benda, negara bahkan kepada Tuhannya...

Wednesday, March 23, 2016

Jika Pemuda Gamang ?


Sudah menjadi hal yang sangat umum ketika manusia mencari jati dirinya karena pada fitrahnya manusia mempunyai fikiran dan hati yang selalu merespon fenomena – fenomena yang ada menjadi sebuah pertanyaan – pertanyaan dan selalu mencoba untuk mencari jawaban tentang arti kehidupan. Banyak cara orang dalam menyikapi problema ini, ada yang menacuhkannya seolah – olah tak perduli dan ada juga yang mencarinya dengan serius tanpa henti walau kegalauan menimpa diri. 
Pencarian jati diri selayaknya kian hari kan semakin mendewasakan terutama bagi para pemuda yang mempunyai banyak keutamaan, diantaranya :
 
1.        Secara Fisik
Di dalam Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan Pasal 1 ayat 1 mengatakan bahwa : “Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun”. Umumnya diusia tersebut, pemuda mempunyai kondisi kesehatan yang baik, waktu yang  panjang, tenaga yang prima dan gerak yang gesit.
Kelebihan fisik yang dimiliki oleh pemuda adalah kondisi yang paling ideal dalam kehidupan manusia. Yang dimana posisi usia muda berada ditengah – tengah antara usia dini dan usia lanjut. Jadi berbanggalah yang pada saat ini masih di usia muda, anda – anda semua berada dipuncak kenikmatan dunia.

2.      Secara Psikis
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam kehidupan dengan lingkungannya. Sedangkan secara etimology Psyche yang artinya Jiwa. Pemuda dalam bingkai kejiwaan adalah kombinasi yang tepat dalam pembahasan ini.
Ada hal lain yang terdapat didalam diri seorang pemuda sehingga orang – orang usia lanjut pun sering mengistilahkan dan menyebut dirinya “berjiwa muda” serta tidak jarang kita melihat para pengurus organisasi kepemudaan di Indonesia rata – rata berusia 30 tahun keatas. Bahkan kementerian kepemudaanpun di urus orang – orang yang tak muda lagi. ada apa gerangan dengan semboyan Pemuda sehingga menjadi pusat perhatian semua kalangan ?
Beberapa perkara yang ada dibenak kita tentang kondisi kejiwaan pemuda adaalah tentang semangat yang menggebu – gebu, rasa ingin tahu yang berapi – api, pengalaman yang terus dicari – cari, pertemanan yang menimbulkan simpati, kreatifitas yang selalu terproduksi, perjuangan dengan nilai independensi, keinginan yang harus terlengkapi dan banyak yang lainnya.

Dari sedikit uraian tentang kondisi fisik dan psikis pemuda diatas kita bisa menilai bahwa berkah yang sangat besar diberikan Tuhan kepada manusia adalah pada usianya yang muda. Jadi sangat disayangkan ketika pemuda membuang – buang umurnya dengan sesuatu yang tak bermaslahat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya dengan mengulur – ngulur waktu produktif, sangat memilukan ketika pemuda terjebak oleh komitmen cinta yang tak pasti dan cendrung hanya permainan tanpa ikatan yang suci sehingga melepaskan prioritasnya dalam berkehidupan, sangat menyedihkan ketika pemuda menjual harga dirinya dengan sifat individualisnya sehingga tidak lagi menilai pertemanan dan persaudaraan lebih mulia dari materi, sangat mengecewakan ketika pemuda tak lagi mempunyai visi – visi dan mimpi dalam mewujudkan kehidupan yang layak bagi orang – orang disekelilingnya.
Di usia muda manusia dituntut dengan berbagai kebutuhan – kebutuhan ekonomis sehingga mengharuskan baginya untuk mencari pekerjaan dengan berbagai kemampuan dan profesi yang dimilikinya. usia 20 s/d 27 tahun adalah masa transisi yang dimana pemuda dituntut untuk membangun mahligai rumah tangga yang penuh cinta guna menciptakan generasi pejuang. Pemuda dituntut pula untuk berbakti pada keluarga dengan memenuhi kebutuhan – kebutuhan ekonomi sebagai balas budi karena telah di sekolahkan/di kuliahkan.
Pecahnya konsentrasi membuat pemuda gamang dan terpuruk dalam menentukan sikap serta arah juang sehingga kadang melupakan tujuan yang sebenarnya dicita – citakan. Walaupun saya yakin dihati yang terdalam anak – anak muda pasti menginginkan orang – orang disekelilingnya bahagia, bahkan hanya dengan melihat orang – orang tersenyum adalah hal yang menggelorakan hatinya.
Ujian, Cobaan, goncangan, hempasan dan terpaan akan menjadi kekuatan yang mengkristal jika mampu dihadapi dengan mentalitas yang kokoh. Kenyataan pahit dan system yang tidak mendukung selayaknya menjadi alasan bagi pemuda untuk berjuang menciptakan suasana yang kondusif, melihat banyaknya pemuda desa dan kota yang tak kerja, meningkatnya angka kemiskinan dan kolepsnya perusahaan – perusahaan tambang.
Memaknai perjuangan bukan hanya ketika teriak – teriak dijalan, bakar – bakar Ban mobil dan membuat rekomendasi – rekomendasi yang kemungkinan besar hanya akan menjadi bungkusan kacang, berjuang bukan hanya memprovokasi emosi dengan issue – issue yang tidak bertanggung jawab. Bagi saya, memaknai perjuangan adalah merubah cara fikir masyarakat yang konsumtif menjadi produktif dan itu hanya bisa dilakukan oleh Pemuda. Maka yang harus berubah terlebih dahulu adalah cara berfikir pemuda. Hilangnya independensi kita karena kita mencari materi di perusahaan – perusahaan swasta, jadi PNS, dan profesi – profesi lainnya bukan menjadi alasan untuk menghilangkan spirit revolusi kita selaku pemuda. Tetap jalani namun jangan lupakan cita – cita yang sesungguhnya, jadikan itu adalah langkah awal untuk mencari modal (materi dan pengalaman) menuju level perjuangan selanjutnya yaitu kemaslahatan umat manusia dan bangsa kita. Dan tentunya dengan tindakan, karena hal itu akan menginsfirasi, dimana insfirasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang akan memunculkan insfirator – insfirator baru.
Ayo bangkit apapun profesimu dan dimanapun posisimu…
Ayo bergerak apapun hobbymu dan apapun keahlianmu….


Ahmad Fauzi (Poji)


Tulisan Cinta Untuk Himpunan



Milad Himpunan Mahasiswa Islam ke 69 Tahun
Sebelum panjang lebar menjelaskan buah piker ini saya mengucapkan kepada Selamat merayakan Ulang Tahun yang ke 69 bagi Kader – kader HMI Di seluruh penjuru Nusantara.
Pada tanggal 5 februari 1947 H/14 Rabiul Awal 1366 M tercetuslah organisasi kemahasiswaan yang membawa spirit ke-Islaman yang dipelopori oleh Lafran Pane  dengan 14 orang temannya. Mahasiswa – mahasiswa ini beranggapan bahwa pelajaran dikuliah saja tidak cukup untuk memberikan solusi bagi perbaikan Bangsa ini, sedangkan pada waktu itu kondisi Indonesia masih sangat rentan dengan gerakan – gerakan agresif dari tentara belanda yang ingin mengambil alih kembali kekuasaan di Republik Indonesia.
Tekanan demi tekananpun menghantui para pemuda – pemudi ini sehingga mereka berjuang dan berfikir keras untuk memformat organisasi ini (HMI) dengan style organisasi perjuangan dan sebagai organisasi perkaderan. Artinya sebagai organisasi perjuangan adalah organisasi yang peduli/peka terhadap kondisi sekitar dan melakukan segala upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut, tentunya dengan pencermatan – pencermatan yang akademis karena organisasi ini juga menggunakan system perkaderan, yaitu mempunyai konsep pembelajaran yang tersusun baik sehingga mampu melihat dan mengambil keputusan yang terbaik dalam melangkah sesuai dengan visinya pada waktu itu “mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Menegakkan dan mengembangkan Agama Islam”.


Jadi tidak jarang ketika dahulu ada ungkapan – ungkapan oleh founding father bangsa kita seperti Jendral Sudirman sang panglima yang berperang dengan tandu mengatakan bahwa “HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia”. Dan perlu di ingat pada waktu adanya goncangan akan pembubaran HMI  oleh PKI, Ir.Soekarno sang Revolusioner mengatakan “ Go Ahad HMI”.
Hal ini membuktikan bahwa, Himpunan Mahasiswa Islam mempunyai nilai yang tak tergantikan di batang tubuh dan perjalanan Bumi Pertiwi ini.
Salah satu tujuan kita mempelajari sejarah adalah untuk mengrtahui  kejadian – kejadian yang ada dimasa lampau agar bisa dijadikan pelajaran dalam mengarungi hidup ini terutama para praktisi/kader HMI yang tengah “berjuang” melanjutkan roda organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua ini.
Sejarah juga bisa menjadi perbandingan kita antara kondisi dahulu dan kekinian beserta prilaku – prilaku para tokohnya sehingga bisa menjadi alat kita untuk merefleksikan atau menjadi cermin dalam berjalan menuju masa depan.  
Mengamati perkembangan HMI yang kian membesar secara kuantitas dari tahun ke tahun adalah sebuah kebanggaan bagi kader – kadernya. Karena hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di HMI  telah banyak menghasilkan human resources yang mampu berkiprah diberbagai posisi.
Namun dari hal itu semua kita seharusnya membuka mata kita dan melihat realitas (kenyataan) serta menanyakan pada sanubari kita, seberapa besar persentase terwujudnya 5 kualtas insan cita ? sudahkah terwujudnya insan akademis? Dimana hasil ciptaan insan pencipta? Terlihatkah pengabdiannya? Apakah sudah islami? Bagaimana tanggungjawabnya terhadap kemakmuran dan keadilan rakyat? Ridho kah Allah akan perjuangannya?. Semua itu akan terjawab didalam hati anda – anda sekalian wahai kader sang hijau hitam !
Saat ini hendaknya HMI kembali pada khittahnya sebagai organisasi yang mandiri secara pemikiran (Independen) dengan menghilangkan fanatisme ke-hijau-hitaman dengan mengharap serta tunduk terhadap nilai – nilai kesenioritasan. Hmi tetap mengedepankan prinsip silaturahim dan akhlak yang baik terhadap para pendahulunya tapi jangan  menghilangkan objektifitas yang telah menjadi hukum – hukum Tuhan. Hmi harus menunjukkan profesionalisme bukan nepotisme.
Pembahasan mengenai perjuangan tak henti – hentinya digumamkan oleh kader – kader Hmi di setiap aksi dan setiap diskusi, kata – kata ilmiah dengan berbagai referensi dan wacana – wacana kebangsaan yang terus di ikuti terus menjadi spirit dalam berorganisasi, namun pada akhirnya sebagian besar perjuangan yang ingin diperjuangkan tersebut menjadi bias dan hilang kendali menjadi gerakan reaksional yang sangat rapuh serta mudah untuk dipolitisasi. Maka untuk para pejuang Hmi : jangan lupakan tujuan  dan jangan buat gerakan yang Tuhan sendiri membencinya, bahkan dalam keheningan sekalipun.
Pembenahan yang paling urgent di tubuh Hmi dimulai dari para penggeraknya dan tentunya dengan penguatan ideology. Pengenalan terhadap diri kader sebagai manusia yang mempunyai nilai – nilai kemanusiaan serta membangun hubungan individu dan masyarakat dengan landasan Tauhid adalah kunci perjuangan yang hakiki dengan mengikuti utusan – utusan Allah yang diutus di muka bumi ini sebagai wakil-Nya.
Factor lain yang membuat kita sebagai manusia berubah haluan dari arah perjuangan yang sesungguhnya adalah factor materi (ekonomi) yang didalam latihan kader telah kita mengupas tuntas dan membantah teori tentang Materialisme, lalu mengapa kita menghalalkan segala cara untuk memenuhinya, bukankah hal itu mempunyai sebab akibat yang berubah menjadi karma yang akan membuat kita resah dan gelisah ?
Factor selanjutnya adalah system kepemerintahan yang dzolim dimana kita diarahkan untuk berbuat sesuatu yang tidak – tidak, contoh kasus korupsi berjamaah, deal to deal dengan korporasi untuk menindas rakyat dan merusak lingkungan dan lain – lain. Hal ini harus kita lawan dengan pengendalian diri kita agar tidak menajadi bagian dari gerakan pendzolim.
Saat ini sudah saatnya kader – kader Hmi sadar akan perannya sebagai kader umat dan kader bangsa dengan mengaktualkan nilai – nilai ideologis untuk membentuk mentalitas yang kokoh  kepada Internalnya, Mahasiswa secara umum dan masyarakat secara luas.
Banyak yang menjadi home work bagi kita untuk membenahi Negeri ini. Kita tidak bisa berharap banyak atas mayoritasnya komunitas kita dipenjuru nusantara ini. Kita juga tidak usah berkecil hati akan sendirinya kita melangkah. Teruslah bergerak pada kebenaran dimanapun engkau berada dan apapun profesimu, karena jika tujuan kita sama kita akan menyatu dalam hubungan yang erat yaitu hanief….
Yakin Usaha Sampai…….