Tuesday, December 14, 2010

PERUBAHAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL
Proses Perubahan Sosial
Catatan perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak diulas oleh para peneliti. Salah satunya hasil penelitian Frans Hüsken yang dilaksanan pada tahun 1974. Penelitian yang mengulas tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan Jawa sebagai akibat kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah. Penelitian ini dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja merekam pengalaman perubahan sosial (revolusi) tersebut, namun juga menggali studi dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang. Penelitian ini berhasil mengungkap fenomena perubahan politik, sosial dan ekonomi melintasi tiga zaman, yaitu penjajahan Belanda, Jepang hingga masa pemerintahan orde lama dan orde baru. Husken menggambarkan terjadinya perubahan di tingkat komunitas pedesaan Jawa sebagai akibat masuknya teknologi melalui era imperialisme gula dan berlanjut hingga revolusi hijau.
Pendapat Marx tentang perubahan moda produksi menghasilkan perubahan pola interaksi dan struktur sosial tergambar jelas dalam tulisan husken. Masyarakat jawa yang semula berada pada pertanian subsisten dipaksa untuk berubah menuju pertanian komersialis. Perubahan komoditas yang diusahakan menjadi salah satu indikator yang dijelaskan oleh Husken. Imperialisme gula telah merubah komoditas padi menjadi tebu yang tentu berbeda dalam proses pengusahaannya. Gambaran ini semakin jelas pada masa orde baru dengan kebijakan revolusi hijaunya.
Gambaran serupa tampak pada tulisan Hefner, Jellinek dan Summers. Kebijakan pemerintah yang mengacu pada model modernisasi selalu menekankan pada pembangunan ekonomi yang merubah moda produksi dari pertanian menuju industri. Pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kapitalisme membawa dampak pada kehidupan di tingkat komunitas.
PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL
Perkembangan masyarakat seringkali dianalogikan seperti halnya proses evolusi. Suatu proses perubahan yang berlangsung sangat lambat. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penemuan ilmu biologi, yang memang telah berkembang dengan pesatnya. Peletak dasar pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk “evolusi” antara lain Herbert Spencer dan Augus Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan yang linear menuju ke arah yang positif. Perubahan sosial menurut pandangan mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk “kesempurnaan” masyarakat.
Pemikiran Spencer sangat dipengaruhi oleh ahli biologi pencetus ide evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin, dengan menunjukkan bahwa perubahan sosial juga adalah proses seleksi. Masyarakat berkembang dengan paradigma Darwinian: ada proses seleksi di dalam masyarakat kita atas individu-individunya. Spencer menganalogikan masyarakat sebagai layaknya perkembangan mahkluk hidup. Manusia dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan mengalami perkembangan secara bertahap. Mula-mula berasal dari bentuk yang sederhana kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks menuju tahap akhir yang sempurna.
Seperti halnya Spencer, pemikiran Comte sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmu alam. Pemikiran Comte yang dikenal dengan aliran positivisme, memandang bahwa masyarakat harus menjalani berbagai tahap evolusi yang pada masing-masing tahap tersebut dihubungkan dengan pola pemikiran tertentu. Selanjutnya Comte menjelaskan bahwa setiap kemunculan tahap baru akan diawali dengan pertentangan antara pemikiran tradisional dan pemikiran yang berdifat progresif. Sebagaimana Spencer yang menggunakan analogi perkembangan mahkluk hidup, Comte menyatakan bahwa dengan adanya pembagian kerja, masyarakat akan menjadi semakin kompleks, terdeferiansi dan terspesialisasi.
Berbeda dengan Spencer dan Comte yang menggunakan konsepsi optimisme, Oswald Spengler cenderung ke arah pesimisme. Menurut Spengler, kehidupan manusia pada dasarnya merupakan suatu rangkaian yang tidak pernah berakhir dengan pasang surut. seperti halnya kehidupan organisme yang mempunyai suatu siklus mulai dari kelahiran, masa anak-anak, dewasa, masa tua dan kematian. Perkembangan pada masyarakat merupakan siklus yang terus akan berulang dan tidak berarti kumulatif.
Teori-teori terus berkembang dengan pesatnya. Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Seperti para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.
Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsu adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
1. Adaptasi, sebuah sistem harus mampu menanggulangu situasi eksternal yang gawat.
Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2. Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3. Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi
komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi
penting lainnya.
4. Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki
motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang
motivasi.

Francesca Cancian memberikan sumbangan pemikiran bahwa sistem sosial merupakan sebuah model dengan persamaan tertentu. Analogi yang dikembangkan didasarkan pula oleh ilmu alam, sesuatu yang sama dengan para pendahulunya. Model ini mempunyai beberapa variabel yang membentuk sebuah fungsi. Penggunaan model sederhana ini tidak akan mampu memprediksi perubahan atau keseimbangan yang akan terjadi, kecuali kita dapat mengetahui sebagaian variabel pada masa depan. Dalam sebuah sistem yang deterministik, seperti yang disampaikan oleh Nagel, keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau.
Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku.
Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial.
Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori perilaku kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi sebagai subsistem sosial.
Perspektif Penjelasan Tentang Perubahan
Barrington Moore, teori kemunculan diktator dan demokrasi Teori ini didasarkan pada pengamatan panjang tentang sejarah pada beberapa negara yang telah mengalami transformasi dari basis ekonomi agraria menuju basis ekonomi industri.
Teori perilaku kolektif Teori dilandasi pemikiran Moore namun lebih menekankan pada proses perubahan daripada sumber perubahan sosial.
Teori inkonsistensi status Teori ini merupakan representasi dari teori psikologi sosial. Pada teori ini, individu dipandang sebagai suatu bentuk ketidakkonsistenan antara status individu dan grop dengan aktivitas atau sikap yang didasarkan pada perubahan.
Analisis organisasi sebagai subsistem sosial Alasan kemunculan teori ini adalah anggapan bahwa organisasi terutama birokrasi dan organisasi tingkat lanjut yang kompleks dipandang sebagai hasil transformasi sosial yang muncul pada masyarakat modern. Pada sisi lain, organisasi meningkatkan hambatan antara sistem sosial dan sistem interaksi.
Teori Barrington Moore
Teori yang disampaikan oleh Barrington Moore berusaha menjelaskan pentingnya faktor struktural dibalik sejarah perubahan yang terjadi pada negara-negara maju. Negara-negara maju yang dianalisis oleh Moore adalah negara yang telah berhasil melakukan transformasi dari negara berbasis pertanian menuju negara industri modern. Secara garis besar proses transformasi pada negara-negara maju ini melalui tiga pola, yaitu demokrasi, fasisme dan komunisme.
Demokrasi merupakan suatu bentuk tatanan politik yang dihasilkan oleh revolusi oleh kaum borjuis. Pembangunan ekonomi pada negara dengan tatanan politik demokrasi hanya dilakukan oleh kaum borjuis yang terdiri dari kelas atas dan kaum tuan tanah. Masyarakat petani atau kelas bawah hanya dipandang sebagai kelompok pendukung saja, bahkan seringkali kelompok bawah ini menjadi korban dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara tersebut. Terdapat pula gejala penhancuran kelompok masyarakat bawah melalui revolusi atau perang sipil. Negara yang mengambil jalan demokrasi dalam proses transformasinya adalah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.
Berbeda halnya demokrasi, fasisme dapat berjalan melalui revolusi konserfatif yang dilakukan oleh elit konservatif dan kelas menengah. Koalisi antara kedua kelas ini yang memimpin masyarakat kelas bawah baik di perkotaan maupun perdesaan. Negara yang memilih jalan fasisme menganggap demokrasi atau revolusi oleh kelompok borjuis sebagai gerakan yang rapuh dan mudah dikalahkan. Jepang dan Jerman merupakan contoh dari negara yang mengambil jalan fasisme.
Komunisme lahir melalui revolusi kaun proletar sebagai akibat ketidakpuasan atas usaha eksploitatif yang dilakukan oleh kaum feodal dan borjuis. Perjuangan kelas yang digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas. Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific communism). Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat borjuis sehingga untuk mencapai tahap “kesempurnaan” perkembangan perlu dilakukan revolusi oleh kaum proletar. Revolusi ini akan mampu merebut semua faktor produksi dan pada akhirnya mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud masyarakat tanpa kelas. Negara yang menggunakan komunisme dalam proses transformasinya adalah Cina dan Rusia.
Teori Perilaku Kolektif
Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial. Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai ketegangan baik dari dalam sistem atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud konflik status sebagai hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat ketegangan sebagai variabel antara yang menghubungkan antara hubungan antar individu seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial.
Perubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan sosial yang dapat berupa kompetisi atau konflik bahkan konflik terbuka atau kekerasan. Kompetisi atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk merubah norma dan nilai.



Teori Inkonsistensi Status
Stratifikasi sosial pada masyarakat pra-industrial belum terlalu terlihat dengan jelas dibandingkan pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya derajat perbedaan yang timbul oleh adanya pembagian kerja dan kompleksitas organisasi. Status sosial masih terbatas pada bentuk ascribed status, yaitu suatu bentuk status yang diperoleh sejak dia lahir. Mobilitas sosial sangat terbatas dan cenderung tidak ada. Krisis status mulai muncul seiring perubahan moda produksi agraris menuju moda produksi kapitalis yang ditandai dengan pembagian kerja dan kemunculan organisasi kompleks.
Perubahan moda produksi menimbulkan maslaah yang pelik berupa kemunculan status-status sosial yang baru dengan segala keterbukaan dalam stratifikasinya. Pembangunan ekonomi seiring perkembangan kapitalis membuat adanya pembagian status berdasarkan pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Hal inilah yang menimbulkan inkonsistensi status pada individu.
Penulis Bahan Kajian Proses Perubahan Konsep Penyebab Perubahan
Sosrodihardjo Masyarakat Jawa Kemunculan kelas pemasaran yang menimbulkan perubahan pada struktur sosial masyarakat. Stratifikasi sosial (status sosial), pola konsumsi. Moda produksi (kapitalisme) melalui kolonialisme yang ditandai adanya komersialisasi pertanian.
Sarman Komunitas petani plasma PIR Karet Danau Salak Kalsel Perubahan pola konsumsi pada masyarakat serta fenomena “pembangkangan” oleh petani. Selain itu muncul kelas sosial baru yaitu pedagang tengkulak. Stratifikasi sosial (status sosial), hubungan kerja, gaya hidup, pola konsumsi. Moda produksi (materialis), peningkatan pendapatan, permasalahan ekonomi perusahaan inti.
Wertheim Kawasan asia selatan dan tenggara Masuknya kapitalisme di asia menyebabkan polarisasi pada struktur sosial masyarakat. Kemunculan kelas borjuis membawa dampak pada semakin sengitnya kompetisi dan konflik dengan borjuis asing. Stratifikasi sosial (status sosial), gerakan sosial Moda produksi (kapitalisme) melalui kolonialisme yang ditandai adanya komersialisasi pertanian.
Kuntowijoyo Masyarakat agraris Madura Terjadinya segmentasi pada masyarakat Madura yang dapat dipandang sebagai perubahan pola stratifikasi sosial yang ada di masyarakat. Kemunculan kelompok strategis sebagai bentuk usaha untuk mempertahankan status sosial yang ada. Stratifikasi sosial (status sosial), gerakan sosial. Moda produksi (kapitalisme) melalui kolonialisme
Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiologi mempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi mengaitkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari, sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons yang bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktur sebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum (1988) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.
Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi.
Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status).
Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.
Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memberikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosial antar individu di dalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terbagi dalam suatu susunan atau stratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Konsep kelas, status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max Weber (Beteille, 1970).
Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hidup atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ras, usia dan agama (Beteille, 1970).
Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami sebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. Kemunculan kelas-kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tradisional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinkan timbulnya kelas-kelas baru. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu dengan persamaan status. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. Seiring dengan lahirnya industri modern, pembagian kerja dan organisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status, seperti pekerjaan, pendapatan hingga pendidikan.
Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi dalam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. Konsep ini memberikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyarakat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempengaruhi struktur sosial yang telah ada.
Apabila dilihat lebih jauh, kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin ketatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. Fenomena kompetisi dan konflik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunculkan perubahan sosial dalam masyarakat.
Penulis Tajuk tulisan Asumsi-asumsi Thesis Sumber perubahan Pola perubahan
Talcott Parsons A functional Theory of Change Sebuah sistem terdiri dari beberapa bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Sistem harus mempunyai empat fungsi (adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan pemeliharaan pola) agar dapat tetap bertahan hidup. Dari luar dan dalam sistem sosial. Siklus.
Francesca Cancian Functional Analysis of Change Sistem sosial merupakan sebuah model dengan persamaan tertentu.
Keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau. Sebuah sistem fungsional terdiri dari dua tipe variabel yaitu G’s dan state coordinates.
Perubahan di dalam sistem merupakan perubahan yang tidak merubah struktur dari sitem tersebut.
Perubahan pada sistem adalah segala perubahan yang merubah struktur dari sistem tersebut. Dari luar dan dalam sistem sosial. Siklus.
Everett E. Hagen On the Theory of Social Change Perubahan sosial dapat digambarkan dari perubahan struktur ekonomi. Perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor kepribadian masing-masing individu.
Perubahan struktur sosial yang tradisional sangat diperlukan untuk mencapai pertmbuhan ekonomi. Dari dalam. Linear.



ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut “struktur sosial” atau “pola nilai dan norma” serta “pran”. Dengan demikina, istilah yang lebih lengkap mestinya adalah “perubahan sosial-kebudayaan” karena memang antara manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri. Cara yang paling sederhana untuk mengerti perubahan social (masyarakat) dan kebudayaan itu, adalah dengan membuat rekapitulasi dari semua perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri, bahkan jika ingin mendapatkan gambaran yang lebih jelas lagi mengenai perubahan mayarakat dan kebudayaan itu, maka suatu hal yang paling baik dilakukan adalah mencoba mengkap semua kejadian yang sedang berlangsung di tengah tengah masyarakat itu sendiri. Kenyataan mengenai perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat dianalisa dari berbagai segi diantaranya : ke “arah” mana perubahan dalam masyarakat itu “bergeak” (direction of change)”, yang jelas adalah bahwa perubahan itu bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor itu mungkin perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang baru sama sekali, akan tetapi boleh pula bergerak kepada suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau. Lalu apa sebenarnya yang kita maksud dengan perubahan masyarakat disini? Kebanyakan definisi membicarakan perubahan dalam arti yang sangat luas. Wilbert Moore misalnya, mendefinisikan perubahan sosial sebagai “perubahan penting dari stuktur sosial” dan yang dimaksud dengan struktur sosial adalah “pola-pola perilaku
dan interaksi sosial" . Dengan demikian dapat diartikan bahwa perubahan social dalam suatu kajian untuk melihat dan mempelajari tingkah laku masyarakat dalam kaitannya dengan perubahan. Nah, apakah Islam juga mempunyai konsep tentang ingkah laku dan struktur masyarakat dalam kaitannya dengan perubahan? Mari kita lihat dalam uraian berikutnya.

Dalam menghadapi perubahan sosial budaya tentu masalah utama yang perlu diselesaikan ialah pembatasan pengertian atau definisi perubahan sosial (dan 1 Wilbert E. Maore, Order and Change, Essay in Comparative Sosiology, New York, John Wiley & Sons, 1967 perubahan kebudayaan) itu sendiri. Ahli-ahli sosiologi dan antropologi telah banyak membicarakannya. William F. Ogburn berpendapat, ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan, baik yang material ataupun yang bukan material. Unsurunsur material itu berpengaruh besar atas bukan-material. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial ialah perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, dengan timbulnya organisasi buruh dalama masyarakat kapitalis, terjadi perubahan-perubahan hubungan antara buruh dengan majikan, selanjutnya perubahan-perubahan organisasi ekonomi dan politik2. Mac Iver mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan hubunganhubungan sosial atau perubahan keseimbangan hubungan sosial. Gillin dan Gillin memandang perubahan sosial sebagai penyimpangan cara hidup yang telah diterima, disebabkan baik oleh perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi ataupun karena terjadinya digusi atau penemuan baru dalam masyarakat. Selanjutnya Samuel Koeing mengartikan perubahan sosial sebagai modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, disebabkan oleh perkara-perkara intren atau ekstern, Akhirnya dikutip definisi Selo Soemardjan yang akan dijadikan pegangan dalam pembicaraan selanjutnya. “Perubahan –perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Penantar, (Jakarta : Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974), mempengaruhi sistem sosialnya, termasuka didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola per-kelakukan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Definisi ini menekankan perubahan lembaga sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segi lain struktur masyarakat. Lembaga sosial ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata tertib melalui norma. Perubahan masyarakat yang berlangsung dalam abad pertama Islam tiada tara bandingannya dalam sejarah dunia Kesuksesan Nabi Besar Muhammad SAW. Dalam merombak masyarakat jahiliyah Arab, membentuk dan membinanya menjadi suatu masyarakat Islam, masyarakat persaudaraan, masyarakat demokratis, masyarakat dinamis dan progresif, masyarakat terpelajar, masyarakat berdisiplin, masyarakat industri, masyarakat sederhana, masyarakat sejahtera adalah tuntunan yang sangat sempurna dan wahyu ilahi. Allah berfirman, yang artinya : “Kitab ini tidak ada keraguan atasnya bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. 2 :2). Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling sukses diantara para pemimpin agama, mendapat pengakuan dunia. Ajaran Islam yang dibawanya berhasil dan kuasa membasmi kejahatan yang sudah berurat berakar, penyembahan berhala, minuman keras, pembunuhan dan saling bermusuhan sampai tidak berbekas sama sekali, dan Muhammad berhasil membina di atasnya suatu bangsa yang berhasil menyalakan ilmu pengetahuan yang terkemuka, bahkan menjadi sumber kebangunan Eropa. Proses perubahan masyarakat yang digerakkan oleh Muhammad adalah proses evolusi. Proses itu berlangsung dengan mekanisme interaksi dan komunikasi sosial, dengan imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Strategi perubahan kebudayaan yang dicanangkannya adalah strategi yang sesuai dengan fitrah, naluri, bakat, azas atau tabiat-tabiat universal kemanusiaan. Stratagi dan dikumandangkannya strategi mencapai salam, mewujudkan perdamaian, mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera, persaudaraan, dan ciri-ciri masyarakat Islam yang dibicarakan di atas tadi.
Walaupun demikian Muhammad harus mempersiapkan bala tentara untuk mempertahankan diri dan untuk mengembangkan dakwahnya, adalah karena tantangan yang diterima dari kaum Quraish dan penantang-penantang jahiliyah lainnya untuk menghapuskan eksistensi Muhammad dan pengikutnya. Justru karena tantangan itu, kaum muslimin kemudian bertumbuh dengan cepat dan mengembangkan masyarakat dan kebudayaan dengan sempurna. Dalam situasi yang demikian, kita perlu merenungkan mengapa Muhammad SAW, junjungan kita, panutan kita, mampu membuat perubahan suatu masyarakat bodoh, terkebelakang, kejam, menjadi suatu masyarakat sejahtera, terpelajar, dinamis dan pogresif dalam waktu yang begitu singkat. Strategi kebudayaan yang dibandingkan Muhammad itu perlu kita kaji kembali Metode perjuangannya perlu kita analisa. Semua itu harus mampu membenkan anda suatu pisau analisa untuk kemudian menytrsttn suatu strategi kebudayaan untuk masa kini, untuk membangun kembali umat Islam dari keadaannya yang sekarang ini. Suatu hipotesa patut diketengahkan. Muhammad pada dasarnya membawa suatu sistem teologi yang sangat berlainan dengan sistem teologi jahiliyah Arab.

B. Teori Perubahan Masyarakat
Karena perubahan masyarakat merupakan fakta, tidak heranlah kita kenapa filosof-filosof tertarik untuk merumuskan prinsip-prinsipnya dan kenapa ilmuwanilmuwan berusaha menemukan hukum-hukumnya. Banyak diantara mereka berpendapat bahwa kecenderungan kepada perubahan sosial adalah gejala yang wajar, timbul dari pergaulan hidup manusia.
Ada yang berpendapat, terjadinya perubahan sosial ialah karena timbulnya perubahan pada unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, misalnya perubahan pada unsur geografi, biologi, ekonomi atau kebudayaan Ada pula teori yang menyatakan bahwa perubahan sosial ada yang bersifat berkala dan tidak berkala. Selanjutnya ada teori yang menyimpulkan, bahwa perubahan sosial terjadi karena kondisi-kondisi sosial primer, misalnya kondisi ekonomi, teknologi, geografi atau biologi. Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya. Pendapat selanjutnya ialah, semua kondisi tersebut sama pentingnya, baik salah: situ ataupun kesemuanya memungkinkan terjadinya perubahan sosial. Karena masyarakat itu bersifat dinamik, adalah masyarakat Muslim sebaga salah satu masyarakat manusia tentu mengalami perubahan-perubahan pula. Kajian sejarah umat Islam membuktikan bahwa telah terjadi perubahan demi perubahan dalam perjalanan hidup umat. Sejarah adalah kisah tentang perkembangan masyarakat. Kalau masyarakat itu berubah, seperti batu atau gunung, barulah ia tidak bersejarah. Tetapi betapapun perubahan itu jadi gejala umum, seolah-olah dinafikan oleh ulam tradisional. Efek dari paham taklid terjadi pembekuan pemikiran. Mereka hanya bersedia menerima fakwa gurunya. Si guru itu menerima dari gurunya
pula. Guru dari guru menerima dari gurunya pula, demikianlah selanjutnya. Sikap ini tidak terbatas pada perkara-perkara di bidang agama, tapi juga di bidang sosiobudaya. Urusan sosiobudaya diatur oleh adat. Adat mewariskan dan mengawal peraturan, nilai, kepercayaan, sikap dan pandangan nenek-moyang dari generasi ke generasi. Pendukunga adat hanya taat kepada adat. Perkara-perkara yang diluar adat, apalagi yang berlawanan, mestilah ditolak. Seperti pula orang taklid yang hanya bersedia menerima fakwa gurunya. Fatwa yang bukan dari pada guru, apalagi yang berlawanan, mestilah ditolak. Maka tertutuplah kemungkinan untuk menerima fatwa baru dalam bidang agama (baru dalam pengertian bukan fatwa lama yang turun menurun, atau fatwa yang dirumuskan oleh tafsiran dan pandangan baru), dan tertutup pula kemungkinan menerima perkara baru dalam sosiobudaya. Dengan demikian tersekatlah perubahan. Orang mempertahankan apa yang selama ini ada. Apa yang ada itu berasal dari masa lalu. Tanpa perubahan pembaharuan tidak mungkin timbul. Masyarakat menjadi statik (lawan dari pada dinamik), mereka dekat oleh tradisi, menjadi tradisional. Suatu teori perubahan yang baik juga disinggung disini ialah prinsip perubahan imanen (dari dalam) yang dibicarakan oleh Sokorin dalam bukunya Social and Cultural Dynamics. Suatu sistem sosiobudaya semenjak ujudnya tidak hentihentinya bekerja dan bertindak. Dalam menghadapi lingkungan tertentu sistem itu menimbulkan perubahan, disamping dirinya sendiri juga ikut mengalami perubahan. Karena telah mengalami perubahan, maka dalam menghadapi lingkungan yang sama dengan yang sebelumnya, is memberikan reaksi yang berbeda dari pada reaksinya yang pertama. Jadi lingkungan tetap sama, tapi sistem itu dan reaksinya berubah. Demikianlah selanjutnya, reaksi yang ketiga terhadap lingkungan yang sama mengalami pula perubahan. Perubahan tidak hanya pada sistem dan reaksinyam tapi juga pada lingkungan itu sendiri. Bagaimana dengan perubahan sosial budaya? Apakah perubahan-perubahan yang sudah berlangsung tidak tentu arah, ataukaah is bergerak kepada suatu tujuan? Apakah perubahan-perubahan itu digerakkan atau ditentukan oleh manusia sendiri, ataukah is ditentukan oleh kekuasaan di luar manusia? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kepada perdebatan filsafat serba tentu dan tak serba tentu yang tidak habis-habisnya.
C. Faktor Penyebab Perubahan
a. Bertambahnya atau Berkurangnya Penduduk
Seperti telah diuraikan bertambahnya penduduk yang cepay menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat yang diikuti pula dengan perubahan pola kebudayaan masyarakat (pola sikap, pola perilaku dan pola sarana fisik), nyata terjadi misalnya, perubahan dalam sistem hak milik atas tanah; orang Pitrim A. Sarokin, Social and Cultural Dynamies, (Boston : Sargent, 1957), mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan seterusnya, yang sebelumnya tidak dikenal orang. Berkurangnya penduduk dapat disebabkan oleh hal-hal yang alamiah (wabah, bencana alam dan sebagainya); tetapi dapat pula karena berpindahnya sebagian penduduk dari desa ke kota atau dari suatu daerah (pulau) ke daerah (pulau) lain. Gejala pertama yang kini banyak kita temui di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dikenal dengan gejala urbanisasi (gejala ini meningkat pada negara-negara dimana industri berkembang). Dalam hal yang kedua, perpindahan penduduk dari pulau Jawa ke Pulau lainnya (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya) dan dikenal dengan transmigrassi. Perpindahan penduduk tersebut mungkin mengakibatkan kekosongan, misalnya nampak pada gejala stratifikasi sosial atau pembagian kerja dan lain-lain yang akan mempengaruhi lembaga-lembaga lainnya. Perpindahan penduduk atau imigrasi itu (antar negara dikenal sebagai emigrasi dan bagi negara yang menerimanya dikenal sebagai imigrasi) telah berkembang beratus-ratus ribu tahun lamanya di dunia ini. Hal ini sejajar pula dengan meningkatnya jumlah penduduk di dunia itu. Pada masyarakat-masyarakat yang mata pencahariannya yang utama, berburu, perpindahan selalu dilakukan, karena kehidupan mereka khususnya dalam hal persediaan hewan-hewan perburuan, sangat “tergantung” dari alam (dikenal sebagai masyarakat “nomaden”). Apabila hewan-hewan tersebut habis, mereka akan berpindah ke tempat-tempat lain.
b. Penemuan-penemuan Baru
Suatu proses soisial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak lama, disebut “inovasi” (innovation). Proses tersebut bermula pada suatu penemuan baru, dikenal sebagai suatu “Discovery”. Jalannya penyebaran dan penerimaan unsur baru itu dalam masyarakat yang sering kali menyebabkan berkembangnya hal-hal baru pula yang mendukung penemuan (discovery) tersebut dikenal sebagai proses “invention”. Hal baru yang ditemukan itu bisa berupa unsur-unsur kebudayaan (nilai, norma, cita-cita, yang mengarahkan pola bersikap, atau pola perilaku atau pola sarana fisik), atau bias berupa unsur struktur masyarakat (hubungan, status atau organisasi baru).
c. Pertentangan (Conflic)
Pertentangan dalam masyarakat dapat pula menjadi sebab dari pada terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertimbangan itu bisa terjadi antara orang perorangan dengan kelompoknya atau pertentangan antar kelompok. Pertentangan antara kepentingan individu dengan kelompoknya misalnya terjadi pada masyarakat tradisionil di Indonesia, yang mempunyai ciri kehidupan kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan individu dengan kelompoknya yang menyebabkan mempunyai fungsi sosial. Tidak jarang timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kelompoknya yang menyebabkan perubahan. Misalnya, pada masyarakat yang patrilineal seperti masyarakat Batak terdapat suatu kekuasaan/adat, bahwa apabila suami meninggal maka keturunannya berada di bawah kekuasaan kerabat suami. Dengan terjadinya proses individualisasi, terutama pada orang-orang Batak yang pergi merantau, kemudian terjadi penyimpangan, yaitu bahwa anak-anak tetap tinggal dengan ibunya, walaupun hubungan antara si ibu dengan keluarga almarhum suaminya telah putus, karena meninggalnya suami. Keadaan tersebut membawa perubahan besar pada peranan keluarga batih dan juga pada kedudukan wanita, yang selama ini dianggap tidak mempunyai hak apa-apa apabila dibandingkan dengan lakilaki. Pertentangan antara kelompok mungkin terjadi antara generasi tua dengan generasi muda, khususnya pada masyarakat berkembang yang mengalami perubahan masyarkataa tradisionil ke tahap mayarakat moderen. Generasi muda yang belum terbentuk kepribadiannya, lebih mudah untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing (misalnya kebudayaan Barat) yang dalam beberapa hal mempunyai taraf lebih lanjut, sehingga menimbulkan perubahan tertentu (contoh : pergaulan bebas antara pria dan wanita karena kedudukan kedua jenis kelamin setaraf).
d. Terjadinya Pemberontakan (Revolusi) dalam Masyarakat itu Sendiri
Suatu revolusi dalam massyarakat seperti, revolusi pada bulan Oktober 1917 di Rusia, atau tanggal 17 Agustus 1945 di Indonesia, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan besar, baik struktural maupun dalam pola kebudayaan mayarakat. Seperti sudah diuraikan pada BAB X, lazimnya suatu revolusi merupakan perubahan yang cepat dan mengenai dasar-dasar atau sendisendi pokok dari kehidupan massyarakat. Suatu perubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebabsebab yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri seperti berikut ini.

e. Sebab Perubahan Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia
Terjadinya gempa bumi, taufan, banjir besar dan lain-lain dapat menyebabkan, bahwa masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Di tempat yang baru mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersbeut, hal mana dapat merubah kehidupan mereka (contoh : jika biasanya di tempat yang lama suatu pencaharian adalah berburu, kemudian di tempat yang baru adalah harus bertani, maka timbullah suatu lembaga baru yaitu pertanian). Kadang-kadang sebab perubahan yang bersumber pada lingkungan alam fisik, dapat disebabkan oleh tindakan-tindakan dari warga masyarakat itu sendiri (contoh : penebangan hutan, penggalian tanah secara melampaui batas). Hal ini jelas akan mengakibatkan perubahan, dimana warga itu karenanya harus meninggalkan tempat tinggalnya.

f. Peperangan
Peperangan dengan negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan, karena biasanya negara yang memang akan memaksakan negara yang takluk untuk menerima kebudayaannya yang dianggap sebagai kebudayaan yang lebih tinggi tarafnya. Negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia Ketiga seperti Jerman dan Jepang, mengalami perubahan-perubahan yang besar dalam masyarakatnya. Jerman, misalnya mengalami perubahan yang menyangkut bidang kenegaraan, dimana negara tersebut akhirnya dipecah menjadi dua negara yaitu Jerman Barat (Republik Federasi Jerman) dan Jerman Timur (Republik Demokrat Jerman), yang masing-masing beroerientasi pada Blok Barat dan Blok Timur.

D. Arah Perubahan (Direction of Change)
Apabila seseorang mempelajari perubahan masyarakat, perlu pula diketahui ke arah mana perubahan dalam masyarakat itu bergerak. Yang jelas, perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan factor itu, mungkin perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, namun mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau. Usaha-usaha masyarakat Indonesia bergerak ke arah modernisasi dalam pemerintahan, angkatan bersenjata, pendidikan dan industrialisasi yang disertai dengan usaha untuk menemukan kembali kepribadian Indonesia, merupakan contoh dari kedua arah yang berlangsung pada waktu yang sama dalam masyarakat kita. Guna memperoleh gambaran jelas mengenai arah perubahan termaksud, akan diberikan suatu contoh yang diambil dari Social Changes in Yogyakarta. Jauh sebelum orang Belanda datang ke Indonesia, orang Jawa telah mempunyai lembaga-lembaga pendidikan tradisionalnya. Dalam cerita-cerita wayang, sering diceritakan bahwa guru yang bijaksana, mengumpulkan kaum muda sebagai cantriknya ke tempat kediamannya serta mengajarkan kepada mereka bagaimana caranya untuk dapat hidup sebagai warga masyarakat yang baik. Cantrikcantrik tersebut hiudp bersama-sama dengan guru mereka dalam pondok-pondok, dimana mereka bekerja untuk kelangsungan hidupnya dan kehidupan gurunya, sambil menerima ajaran-ajaran sang guru di sela-sela pekerjaan sehari-hari. Sistem tersebut berlangsung berabad-abad lamanya, baik waktu pengaruh Hindu, Budha maupun Islam masuk, hingga kini. Dengan masuknya pengaruh Islam para guru dinamakan kiai, sedangkan pondok-pondok tersebut dinamakan pesantren yang artinya adalah tempat para santri (yaitu orang-orang yang mendalami ajaran-ajaran agama Islam). Banyak yang berguru pada para kiai tersebut untuk mempelajarai dan memperdalamajaran agama Islam. Oleh karena kiai hanya mempunyai satu atau beberapa keahlian saja, maka banyak murid-murid yang belajar pada beberapa orang kiai, agar mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Tidak ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak belajar pada pesantren tersebut, kecuali bahwa dia sungguh-sungguh ingin belajar dan memenuhi segala persyaratan yang ditentukan oleh hukum agama. Kehidupan di pesantren diatur sebagai satu keluarga yang dipimpin oleh kiai. Di luar pesantren, para muda mudi dapat pula memperoleh pendidikan keagamaan, misalnya di masjid-masjid. Akhir-akhir ini, banyak sekolah-sekolah yang didirikan oleh lembagalembaga agama Islam dimana para siswa juga mendapatkan pelajaran mengenai halhal yang berhubungan dengan soal keduniawian (sekuler). Sekolah-sekolah tersebut dinamakan madrasah. Sistem pendidikan yang demikian di daerah Istimewa Yogyakarta tidak mengalami perubahan-perubahan yang mencolok, kecuali para santri kemudian diperkenankan mengikuti pelajaran-pelajaran pada sekolah-sekolah biasa di pagi hari. Sesudah revolusi fisik, kecenderungan yang mengarah ke sekulerisasi sebagai pandangan hidup masyarakat Yogyakarta, semakin nyata. Persoalan-persoalan individual maupun sosial, lebih ditafsirkan dalam pengertianpengartian yang sekuler dan rasional. Kecenderungan tersebut tampak pula pada madrasah-madrasah dimana para siswa meminta agar diajarkan lebih banyak hal-hal yang menyangkut soal-soal keduniawian, seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu pasti dan sebagainya, supaya menyamai pelajaran-pelajaran yang diberikan pada sekolahsekolah biasa. Pemerintah dalam hal ini tampak memberikan bantuan dan semakin banyak pula siswa-siswa madrasah yang mengikuti pelajaran-pelajaran pada sekolah biasa.
Dari gejala tersebut di atas, tidaklah dapat disimpulkan bahwa madrasah dan pesantren-pesantren tersebut sebagai lembaga pendidikan akan terdesak oleh lembaga-lembaga pendidikan yang sekuler. Akan tetapi keinginan-keinginan yang kuat untuk mendapat pendidikan yang sekuler rupa-rupanya lebih kuat pada generasi muda. Pendidikan di Indonesia dianggap sebagai alat utama untuk mengadakan perbaikan-perbaikan, dahulu pusat perhatian adalah kebahagiaan di dunia akhirat, tetapi dewasa ini pusat perhatian lebih ditujukan pada kehidupan di dunia ini. Pendidikan keagamaan seyogyanya disesuaikan dengan aspirasi generasi muda sejak roklamasi kemerdekaan. Sebagaimana telah dikatakan, suatu perubahan bergerak meninggalkan factor yang diubah. Salah satu jenis perubahan dapat dilakukan dengan mengadakan modernisasi.

KONSEP ISLAM TENTANG PERUBAHAN
A. Perubahan Sebagai Hukum Alam
Alam ini selalu dalam perubahan. Dalam filsafat metafisika filosof berkata, tidak ada yang ada, yang ada itu ialah perubahan. “Panta rei”, kata Heraklitos. Semua mengalir bagai air di sungai. Islam menyebut alam itu “makhluk”, yang diciptakan. Tuhan sebagai pencipta disebut khalik. Makhluk itu senantiasa dalam perubahan, hanya Khaliklah yang serba tetap. Pelajarilah sejarah bumi kita ! Dari tidak ada suatu ketika is menjadi ada. Dari matahari is lahir 3.350 juta tahun yang lalu. Ketika itu bumi berbentuk bintang kabut pijar. Tidak ada air setetespun di bumi. Perubahan-perubahan dalam jarak waktu hampir semilyar tahun, menjadikan bumi dingin. Terbentuk kerak bumi, gunung, batuan, sungai, laut. Tetapi tak satu pun ada kehidupan di bumi. Kira-kira dua milyar tahun yang lalu baru ada hayat yang pertama di dalam air. Sejarah perubahan bumi dua milyar tahun terakhir berlangsung bersama dengan evolusi flora dan fauna, yang tumbuh dan berkembang di permukaan bumi. Perubahan demi perubahan yang dialami oleh lumut karang, setelah dua milyar tahun terbentuklah tumbuh-tumbuhan berbunga. Teori evolusi beranggapan fauna dimulai oleh binatang satu sel dua milyar tahun yang lalu, berujung dengan beberapa juta terakhir dengan manusia. Demikianlah jagat raya dengan nebula serta bintang-bintangnya berubah. Bumi berubah. Hewan, tanaman, lautan, sungai, daratan, pegunungan, pantai pulau-pulau berubah serba terus. Manusia sebagai makhluk juga dikenal oleh hukum perubahan. Dari tidak ada suatu ketika is menjadi ada. Dalam “adanya” itu is mengalami perubahan demi perubahan. Dari bayi is menjadi kanak-kanak, menjadi pemuda, dewasa, tua, mati. Kalau filsafat meterialisme menutup riwayat hidup manusia dengan kematian, Islam mengajarkan masih berlanjutnya eksistensi manusia di seberang kuburan. Tetapi riwayat manusia setelah wafat inipun berubah-ubah : di alam barzakh roh menunggu kedatangan kiamat, kepada roh diberikan lagi jasad, mulailah perjalanan menuju tempat pembalasan “nar” dan “jannah”. Di dalam tempat-tempat itupun manusia mengalami perubahan-perubahan melalui pengalaman-pengalamannya. Kalau tidak ada perubahan masyarakat dalam perjalanan waktu, sejarah tidak ada. Lucy M. Salmon memberi syarat “perkembangan” (jadi perubahan) kepada 6 Sidi Gazalba, Antropologi Budaya Gaya Baru II, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974), hal. 121 sejarah. “Sejarah untuk menjadi sejarah haruslah kajian tentang perkembangan, dan suatu sayatan atau stadium yang manapun juga baru menjadi sejarah apabila sayatan itu diperbandingkan dengan sayatan lain, sedemikian rupa hingga perkembangannya menjadi jelas.

B. Perubahan pada Masyarakat Muslim
Sebab-sebab perubahan yang bersumber di dalam dan dari luar masyarakat tentu ditemukan juga pada umat Islam. Dalam masyarakat Islam perubahan itu terkawal. Perubahan selalu boleh terjadi, selama prinsip asas-asas sosial yang ditentukan oleh then tidak ikut berubah. Tetapi dalam masyarakat Muslim kawalan itu tidak ada atau lemah sekali. Mereka tidak atau kurang memahami atau tidak menyadari lembaga-lembaga apa yang boleh dan yang tidak boleh berubah, selanjutnya apa perubahan sosio budaya yang sesuai dan yang berlawanan menurut then Islam.
Kalau dikaji pandangan-pandangan yang hidup di kalangan umat Islam, kita temukan kebanyakan menolak perubahan. Terutama aliran kaum tua kuat berpegang pada pandangan ini. Menolak perubahan bermakna menolak yang baru. Yang baru itu mungkin berbentuk ide, konsepsi, teori, prinsip atau tindakan. Mereka berbuat demikian demi mempertahankan iman dan menyelamatkan agama. Kalau pandangan menolak perubahan itu kita tinjau dari konsep lembaga-lembaga yang boleh dan tak boleh berubah (Pasal 7), maka pandangan itu hanya “separoh” benar. Karena yang tidak boleh berubah ialah prinsip-prinsip atau asas then dan pelaksanaan agama. Selain daripada itu masyarakat Islam terbuka untuk perubahan, apakah karena terciptanya sesuatu yang baru, ataupun karena asimilasi, difusi dan akulturasi. Ada pula orang-orang di kalangan umat Islam yang menerima perubahan tanpa batas. Demi untuk maju semua perubahan dihalalkannya, apakah mengenai prinsip sosial atau cara pelaksanaannya. Dengan menerima prinsip yang bukan daripada then Islam maka is tergelincir kepada cara hidup yang bukan daripada then Islam, maka is tergelincir kepada cara hidup bukan-Islam, sekalipun is tetap bertahan di dalam agama Islam. Karena sosiobudayanya tidak tertakluk kepada agama Islam, artinya dalam kehidupannya sehari-hari di luar Rukun Islam, is melupakan Allah, tidak berpedoman kepada Wur’an dan dalam tindak tanduknya tidak memperhitungkan akhirt, maka Muslim itu menjadi sekularis. Agamanya tetap Islam, tapi cara hidupnya putus daripada agama itu. Mereka yang menolak perubahan sosial menjadi statik. Statik dalam pengamalan agama adalah tersuruh. Prinsip dan cara pengamalannya diputuskan oleh naqal. Akal tidak berwenang untuk merubahnya. Tetapi statik dalam pengamalan prinsip-pinsip kebudayaan membawa orang terkebelakang, ketinggalan dalam dunia yang selalu bergerak maju. Cara pelaksanaan prinsip kebudayaan diputuskan oleh akal, karena is mengenal dunia yang selalu berubah. Kenyataan yang dapat diamati pada sebagian terbesar umat Islam dewasa ini ialah mereka memang statik dalam sosial. Mereka bertahan dengan cara pelaksanaan prinsip-prinsip kebudayaan ratusan tahun yang lewat, bahkan ada yang sampai seribu tahun. Mereka mempertahankan dunia lamanya. Mereka mempertahankan cara-cara lama dalam sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknik, kesenian, seolah-olah polapola kebudayaan sejagat itu adalah agama. Dilihat dari segi ini maka salah satu masalah pokok umat Islam dewasa ini ialah sikapnya tentang perubahan masyarakat.
Karena kebanyakan umat Islam tidak mau meninggalkan unsur kebudayaan lama atau norma-norma lama, tidak bersedia menggantikannya dengan yang lebih maju, dan unsur dan norma itu dengan setia diwariskan dari satu angkatan kepada angkatan berikutnya, maka masyarakat Muslim pada umumnya menjadi statik. Yang baru ditolak, yang lama dipertahankan dengan gigih, maka buntulah gerak masyarakat, mereka menjadi statik, ketinggalan atau terbelakang di tengah-tengah gerak kemajuaan dunia yang dahsyat dalam abad ke-XX ini yang ditimbulkan oleh kebudayaan Barat.

C. Nilai Perubahan
Ruang lingkup pengertian perubahan sosiobudaya atau perubahan masyarakat adalah luas, didalamnya termasuk : pertumbuhan, perkembangan, penyimpangan gerak. Kalau dikatakan masyarakat itu berubah, adalah ungkapan ini ternilai netral. Bagaimana perubahan itu? Apakah positif atau negatif, “progress” atau “regress”, majukah atau mundur? Pertanyaan ini menyangkut nilai perubahan. Tidak tiap perubahan bersifat maju, mungkin juga bersifat mundur. Apakah berisfat maju atau mundur banyak bergantung pada ukuran yang dipakai. Seorang pemuda desa datang ke kota, melepaskan ikatan-ikatan adat daerahnya, menggantikannya dengan cara hidup Barat, dipandang oleh orang “modern” sebagai perubahan yang maju, tapi sebaliknya oleh orang-orang desanya. Orang tuanya mengeluh, karena anaknya sudah rusak, artinya mundur. Tetapi kalau perubahan menyangkut hasil metarial, ukuran mudah disatukan. Menjahit pakaian dengan tangan diubah dengan menjahit dengan mesin bermakna maju, karena lebih cepat, lebih rapi, tidak banyak membuang tenaga. Pada umumnya orang berpendapat bahwa motivasi perubahan adalah kemajuan teknik. Tetapi setiap penemuan teknik berakibat pada perubahan mental. Dengan demikian perubahan teknik dapat menyebabkan perubahan masyarakat disemua sektor. Pendapat dan penilaian berubah, sehingga penemuan teknik dan penggunaannya menghendaki filsafat hidup baru, meninggalkan filsafat hidup lama. Dari pandangan sejarah di atas tersimpul, perubahan teknik mengubah ekonomi, perubahan ekonomi mengubah kebudayaan. Bagi Marx ekonomilah yang jadi faktor penentu kehidupan manusia. Jadi perubahan ekonomi menguba kehidupan manusia. Soal ekonomi ialah soal materi. Tindakan dalam ilmu, seni, agama, moral, hukum dan politik (aspek-aspek kebudayaan menurut Marx) adalah endapan dan keadaan ekonomi. Jadi kebudayaan adalah hasil daripada keadaan materi. Kalau kehidupan dibagi dua, yaitu bangunan atas dan bangunan bawah, adalah bagian atas itu kebudayaan yang bersifat rohaniah; dan bangunan bawah :
ekonomi, bersifat materi. Bangunan atas bergantung pada bangunan bawah. Selanjutnya Marx berteori, ekonomi ditentukan oleh produksi dan produksi ditentukan oleh adat. Alat-alat itu materi, yang dihasilkannyapun materi. Karena itulah perkembangan masyarakat ditentukan oleh materi. Perkembangan masyarakat itu adalah “histrory” (sejarah). History ditentukan oleh materi. Karena itulah filsafat Marx itu disebut orang historis materialisma. Berbeda dari teori materialisma itu, Islam memandang motivasi perubahan ialah rohani. Mari kita ikuti kembali jalan fikiran materialisma itu kembali. Masyarakat berubah karena perubahan ekonomi. Ekonomi berubah karena perubahan teknik (alat). Jalan pikiran ini tidak dapat ditolak, karena memang demikianlah adanya. Sekarang kita lanjutkan. Kenapa terjadi perubahan teknik? Karena manusia
mendapat ilham, atau karena manusia berpikir, atau hasil dari pemikiran manusia. Kalau kita bicara tentang ilham atau pemikiran, kita bicara tentang rohaniah. Jadi perubahan teknik rupanya bukan berpangkal dari teknik itu sendiri, tapi dari rohani manusia. Jadi motivasi perubahan masyarakat ialah rohani manusia, melalui teknik. Penemuan dan penggunaan teknik baru membawa kepada perubahan nilai. Filsafat hidup lama menjadi disangsikan, perubahan teknik itu menghendaki filsafat hidup baru. Perubahan teknik menimbulkan perubahan antara kesatuan-kesatuan sosial dalam masyarakat. Untuk masa tertentu terganggu keseimbangan dalam masyarakat, sebab setiap perubahan sikap suatu kesatuan sosial meminta perubahan sikap pula pada kesatuan sosial lainnya. Akibatnya seluruh pola masyarakat menjadi berubah. Masyarakat Muslim yang “sedang berkembang” menghadapi masalah dalam pembangunan itu. Apakah dengan memperbaiki keadaan materinya masalah sudah selesai? Kemajuan materi dapat membawa mereka kepada sekularisma. Menurut penilaian Islam sekularisma itu bukanlah kemajuan, tapi kemunduran. Dilihat dari segi materialisma is maju, tapi dipandang dari segi rohaniah ia mundur. Sekularisma hanya memperhitungkan kepentingan kebudayaan. Kepentingan agama diabaikan, seterusnya ditolak. Kebahagiaan bagi sekularisma ada di dunia, bukan di akhirat. Karena itu kemajuan teknik dan ilmu-ilmu modern itu mesti diimbangi oleh kemajuan agama (kepahaman, amalan dan penghayatan). Kemajuan materi saja tanpa kemajuan rohaniah, menimbulkan ketidakseimbangan agama dan kebudayaan. Ketakpaduan (desintegrasi) then Islam akan membawa kepada krisis, terutama dalam bentuk sekularisma itu.
Agama Islam memainkan peranan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, sekalipun masyarakat itu telah disusupi oleh kebudayaan Barat atau dipengaruhi oleh sekularisma. Dalam masa massyarakat mengalami perubahan sosial yang dahsyat, maka pribadi danm masyarakat kehilangan pegangan, karena lembaga-lembaga yang sesungguhnya merupakan pemberi pegangan (seperti kebudayaan, keluarga, pendidikan) sedang dalam perobahan dan lembaga-lembaga itu sendiri tidak dapat mengatasi persoalannya. Dalam suasana dan keadaaan beginilah agama dapat membantu dengan memberi pegangan agar pribadi dan masyarakat tidak gelisah dan menemukan pegangan yang pasti dan benar pada ajaran Tuhan. Tetapi untuk ini metoda atau pendekatan ajaran agama itu mestilah di hidangkan sesuai dengan perobahan sosial. Misalnya tafsiran dan penjelasan diberikan sesuai dengan perobahan cara berfikir masyarakat dan ilmu-ilmu modern di manfaatkan untuk menerangkan ajaran-ajaran agama.
Agama Islam mampu, bahkan justeru berfungsi, untuk mengawal dan mengarahkan perobahan-perobahan sosiobudaya, baik perobahan lembaga dan norma-normanya ataupun konsepsi-konsepsi. Karena is (berbeda dengan agama Nasrani yang hanya mengatur urusan agama) memberikan prinsip dan asas kebudayaan dan menentukan arah perobahan masyarakat. Prinsip, asas dan arah itu bersifat serba tetap. Kembali kita kepada teori then Islam. Agama yang serba tetap menggariskan pegangan hidup, menentukan prinsip dan asas yang serbatatap sosiobudaya dan menunjukkan tujuan kehidupan. Pelaksanaan sosiobudaya boleh berobah serbaterus yang di laksanakan oleh akal, tapi tetap dalam pola yang di gariskan oleh agama. Maka perobahan-perobahan tidak menimbulkan krisis. Banyak kita dengar misalnya krisis kehidupan pribadi berujung dengan bunuh diri. Ini tidak ditemukan pada Muslim. Kalau ia terbentur dengan krisis ada tempat pelariannya. Tuhan adalah tempat pelarian yang terjamin dan selamat. Agar agama Islam kembali berperanan dalam perobahan-perobahan sosiobudaya umat Islam, konsepsi then Islam yang lengkap dan utuh perlu diamankan, yaitu perpaduan agama Islam dengan kebudayaan Islam. Asas dan prinsip kebudayaan di kembalikan kepada agama untuk menentukannya, sehingga norma-norma sosial di kawal dan di arahkan oleh agama.





















KEPUSTAKAAN

Alfian, “ Transprmasi Sosial Budaya “ Penerbit, UI Press, 1986
Ali A. Mukti, “ Manusia, Islam dan Kebudayaan” IAIN Sunan Kalijaga Yoyakarta,
1980
Ali, Ameer, “The Spirit of Islam” Christopher, London, 1923
Deang, Hans, “Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan“, Penerbit Pustaka Pelajar
Yogyakarta, 2000
Eko Supriyadi, “Sosialisme Islam”, Penerbit Pustaka Pelajar, 2003
Faisal Ismail, “Paradigma Kebudayaan Islam”, Penerbit Titian Ilahi Press,
Yogyarakata, 1996
Gazalba, Sidi, “Modernisasi dalam Persoalan, Bagaimana Sikap Islam”, Penerbit
Bulan Bintang, Jakarta, 1973
Giddens, Anthony, “Jalan Ketiga : Pembaharuan Demokrasi Sosial”, Penerbit
Gramedia, Jakarta, 1999
Judistira K. Gorna, “Teori-teori Perubahan Sosial”, Penerbit Program Pascasarjana
UNPAD, 1993
Pitirim A. Sarokin, “Social and Cultural Dynamics”, Bastom : Sargent, 1957
Soejono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit UI Yogyakarta, 1974
Wilbert E. Moore, Order and Change. Essay in Comparative Sosiology”, New York,
John Willey & Sons, 1967
SEJARAH KUTAI KARTANEGARA


A. Sejarah
Patut disyukuri bahwa kabupaten kutai kartanegara memiliki latar belakang kebanggaan sejarah yang luar biasa yakni sebagai kerajaan tertua di Indonesia dimana pada abad ke-IV telah berdiri kerajaan bercorak hindu-india yang bernama kerajaan kutai mulawarman yang lebih sering dikenal dengan kerajaan muawarman.
Peafsiran para ahli sejarah menyimpulkan bahwa sesungguhnya kerajaan kutai mulawarman adalah kerajaan kutai yang berdiri di martapura, muarakaman sehingga sering di sebut kerajaan martapura atau martadipura. Kesimpulan tersebut berdasarkan catatan sejarah dari cina dan india yang menyabut dengan tegas adanya kerajaan kho thay (bahasa cina) yang berarti kerajaan besar dan quetaire (bahasa india) artinya hutan belantara. Kerajaan kutai mulawarman didirikan oleh pembesar kerajaan campa (kamboja) bernama kudungga, yang selanjutnya menurunkan raja asma warman, raja mulawarman, sampai dua puluh tujuh generasi kerajaan kutai mulawarman yaitu sebagai berikut:
1. Kudungga
2. Asmawarman
3. Mulawarman
4. Sri Warman
5. Mara Wijaya Warman
6. Gaya Yana Warman
7. Wijaya Tungga Warman
8. Jaya Naga Warman
9. Nala Sina Warman
10. Nala Perana Warmana Dewa
11. Galingga Warman Dewa
12. Indara Warman Dewa
13. Sangga Wirama Dewa
14. Singa Wardala Warmana Dewa
15. Candra Warmana
16. Prabu Mulia Tungga Dewa
17. Nala Indra Dewa
18. Indra Mulia Warmana Tungga
19. Sri Langka Dewa
20. Guna Perana Tungga,
21. Widaya Warman
22. Indra Mulia
23. Sri Aji Dewa
24. Mulai Putra
25. Nala Pendita
26. Indra Paruta Dewa
27. Darma Setia
Sementara itu pada abad-XIII di muara sungai mahakan berdiri kerajaan bercorak hindu jawa yaitu kerajaan kutai karta Negara yang didirikan oleh salah seorang pembesar dari kerajaan singa sari yang bernama raden kusuma yang kemudian bergelar aji batara agung dewa sakti dan beristrikan putrid karang melenu sehingga kemudian menurunkan putra bernama aji batara agung paduka nira.
Proses asimilasi (penyatuan) dua kerajaan tersebut telah dimulai pada abad XIII dengan pelaksanaan kawin politik antara aji batara agung paduka nira yang mempersunting putri indra perwati dewi yaitu seorang putr dari guna perana tungga salah satu dinasti raja mulawarman (martadipura), tetapi tidak berhasil menyatukan kedua kerajaan tersebut. Baru pada abad ke- XVI melalu perang besar antara kerajaan kutai kartanegara pada masa pemerintahan aji pangeran sinom ing mendapa deengan kerajaan kutai mulawarman pada masa pemerintahan raja darma setia.
Dalam pertempuran tersebut raja darna setia mengalami kekalahan dan gugur ditangan raja kutai karta Negara aji pangeran sinum panji, yang kemudian berhasil menyatukan kerajaan kutai tersebutt sehingga wilayahnya menjadi sangat luas dan nama kerajaannyapun berubah menjadi kutai kartanegara ing martadipura yang kemudian menurunkan dinasti raja-raja kutai kartanegara sampai sekarang.
Literatur sejarah menyebutakan bahwa sejak abad XIII sampai tahun 1960 yang menjadi raja (sultan) daerah swapraja (kerajaan kutai kartanegara) berdasarkan tahun pemerintahannya adalah sebagai berikut:
1. 1300-1325 aji batara agung dewa sakti
2. 1350-1370 aji batara agung paduka nira
3. 1370-1420 aji maharaja sultan
4. 1420-1475 aji raja mandarsyah
5. 1475-1525 aji pangeran tumenggung jayabaya (aji raja putri)
6. 1525-1600 aji raja mahkota
7. 1600-1605 aji dilanggar
8. 1605-1635 aji pangeran sinum panji mendopo
9. 1635-1650 aji pangeran dipati agung
10. 1650-1685 aji pangeran mejo kusumo
11. 1685-1700 aji begi gelar aji ratu agung
12. 1700-1730 aji pangeran dipati tua.
13. 1730-1732 aji pangeran dipati anum panji pendopo
14. 1732-1739 sultan aji Muhammad idris
15. 1739-1782 aji imbud gelar sultan muhamad muslihuddin
16. 1782-1850 sultan aji Muhammad salehuddin
17. 1850-1899 sultan aji muhamad sulaiman
18. 1899-1915 sultan aji alimuddin
19. 1915-1960 aji Muhammad parikesit
20. 1960-sekarang, sultan haji aji Muhammad salehuddin II


B. Pemerintahan
Literature sejarah mengatakan bahwa pada tanggal 17 juli 1863 kerajan kutai kartanegara mulai menjadi daerah swapraja sebagai bagian dari kerajaan hindia belanda, akibat di tanda tangannya lange contact oleh sultan kutai pada waktu itu karena kalah perang.
Pada masa penjajahan jepang tahun 1942 daerah swapraja kutai kartanegara mendapat pengaturan tersendiri dan mempunyai kedudukan istimewa. Sultan selaku swapraja dinobatkan menjadi koo, yang berarti mempunyai kedudukan jelas sebagai anggota keluarga dari raja jepang. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan putusnya hubungan dengan belanda dan kemudian menunjukkan kesetiaan kepada kerajaan jepang.
Akan tetapi tahun 1945 kalimantan timur berhasil diduduki kembali oleh belanda termasuk daerah swapraja kutai kartanegara tahun 1947. Kalimantan timur dibentuk menjadi daerah federasi dengan status satuan kertanegaraan yang berdiri sendiri dan terdiri atas kesultanan kutai, bulungan, sambaliung, gunung tabor, dan pasir dengan sebutan swapraja.
Selanjutnya pada tanggal 27 desember 1949 masuk dalam wlayah republic Indonesia serikat (RIS) dan pada tanggal 10 april 1950 federasi kalimantan timur masuk dalam fedeerasi Kalimantan timur dalam republic Indonesia (yang beribukota di yogyakarta).



WILAYAH KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA

Pada masa kejayaan hingga tahun 1959, kesultanan kutai kartanegara ing martadipura memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Wilayah kekuasaannya meliputi beberapa wilayah otonomi yang ada dipropinsi Kalimantan timur yakni:
1. Kabupaten kutai kartanegara
2. Kabupaten kutai barat
3. Kabupaten kutai timur
4. Kota Balikpapan
5. Kota bontang
6. Kota samarinda
Dengan demikian luas wilayah kesultanan kutai kartanegara hingga tahun 1959 adalah seluas 94.700 km2.
Pada tahun 1959, wilayah kesultanan kutai kartanegara dibagi menjadi 3 wilayah pemerintahan:
1. Daerah tingkat II yakni kabupaten kutai
2. Kota madya Balikpapan
3. Kota madya samarinda
Dan sejak itu berakhirlah pemerintahan kesultanan kutai kartanegara setelah disyahkannya pemerintah daerah tinggakat II Kabupaten Kutai melaului UU No. 27 Tahun 1959 tentang Pencabutan Status Daerah Istimewa Kutai.
Kabupaten kutai kertanehara erupakan kelanjutan dari kesultanan kutai kartanegara ng martadipura. Setelah republic Indonesia berdiri pada tahun 1947 kesultanan kutai kartanegara dengan status swapraja kutai masuk dalam federasi Kalimantan timur bersama daerah-daerah kesultanan lainnya seperti: Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Pasir. Kemudian pada 27 desember 1949 masuk dalam republic Indonesia serikat.
Daerah swapraja kutai diubah menjadi daerah istimewa kutai yang meruakan daerah otonomi berdasar UU Darurat No. 3 tahun 1953.
Pada tahun 1999 wilayah kabupaten kutai dimekarkan menjadi daerah otonom berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999, yakni:
1. Kabupaten kutai dengan ibukota tenggarong
2. Kabupaten kutai barat dengan ibukota sendawar
3. Kabupaten kutai timur dengan ibukota sangatta
4. Kota bontang dengan ibukota bontang.
Istilah kabupaten induk sering digunakan untuk membedakan antara hasil pemekaran dengan kabupaten kutai yang lama. Pada musyawarah nasional APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yang di adakan ditenggarong tahun 2000, presiden RI Abdurahman Wahid yang membuka munas tersebut mengusulkan agar kabupaten kutai hasil pemekaran menggunakan nama kabupaten kutai kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota kesultanan Kutai Kartanegara.
Tanggal 23 Maret 2002, presiden megawati soekarno putri menetapkan penggnaan kabupaten kutai kartanegara melalui peraturan pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang “ perubahan nama kabupaten kutai menjadi kabupaten kutai kartanegara”
Daftar bupati kutai artanegara (termasuk bupati kutai)
No. Periode Nama Bupati Keterangan
1 1950-
1960 A.M Parikesit Kepala Daerah Istimewa Kutai
2 1960-
1964 A.R Padmo Bupati KHD Tingkat II Kutai pertama setelah berakhirnya Pemerintahan Daerah Istimewa Kutai
3 1964-
1965 Rosdibyono
4 1965-
1979 Drs. H. Achmad Dahlan Terpilih mnejadi bupati kutai selama 3 periode berturut-turut hingga meninggal karena kecelakaan.
5 1979-
1984 Drs. H. Awang Faisyal
6 1984-1989 Drs. H. Chaidir Hafiedz
7 1989-
1994 Drs. H. Said Sjafran
8 1994-
1999 Drs. H.A.M. Sulaiman MSc
9 1999-
2004 Drs. H. syaukani HR.MM Bupati Kutai Kartanegara pertama setelah pemkaran Kutai
10 2004-
2005 H. Awang Dharmabakti, ST. MT PJS bupati kutai kartanegara menggantikan syaukani namun ditolak oleh legislative dan sebagian masyarakat.
11 2005-2005 Drs. Hadi Sutanto Menjadi PJS kutai kartanegara setelah mendagri merevisi SK pengangkatan awang dharma bakti.
12 2005-2010 Drs. H. syaukani HR.MM Terpilih melalui pilkada kutai karta Negara 1 juni 2005.
13 2006-2008 Syamsuri Aspar Menjadi Plt. Bupati kutai kartanegara menggantikan syaukani.
14 2008-2010 Sjachruddin Menjadi Pj Bupati kutai kartanegara selama 15 bulan.


Kecamatan
Kabupaten kutai kartanegara terdiri dari 18 kecamatan:
1. Tenggarong
2. Tenggarong seberang
3. Loa kulu
4. Loa janan
5. Samboja
6. Muara jawa
7. Anggana
8. Sanga-sanga
9. Sebulu
10. Muara Kaman
11. Kota bangun
12. Muara wis
13. Muara muntaikenohan
14. Kembang janggut
15. Tabang
16. Marang kayu
17. Muara badak
Penduduk yang bermukim di kutai kartanegara terdiri dari penduduk asli terdiri dari suku kutai, suku dayak benuaq, suku dayak tanjung, suku dayak bahau, suku dayak punan, suku dayakmodang, suku dayak kenyah, suku dayak kayan. Sementara penduduk pendatang terdiri dari suku banjar, suku jawa, suku bugis, suku mandar, suku Madura, suku butun, suku timor.
Danau – danau yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara :
1. Danau Semayang (13.000 Ha)
2. Danau Melintang (11.000 Ha)
3. Danau Ngayau (1.900 Ha)
4. Danau Tempatung (1.300 Ha)
5. Danau Mulupan (750 Ha)
6. Danau Siran (750 Ha)
7. Danau Perian (750 Ha)
8. Danau Wis(750 Ha)
9. Danau Karang (750 Ha)
10. Danau Loa Kang(450 Ha)
11. Danau Batu Bumbu (450 Ha)
12. Danau Merandi (350 Ha)
13. Danau Puan Rabuk (350 Ha)
14. Danau S’kajo (100 Ha)
15. Danau Tanah Liat (45 Ha)
16. Danau Man
Pariwisata
Wisata alam
1. Bukit bengkirai di samboja
2. Pantai tanah merah di samboja
3. Danau semayang di kota bangun
4. Danau murung di kota bangun
5. Waduk panjia sukarame di tenggarong
6. Pulau kumala di tenggarong
7. Taman rekreasi tepian Mahakam jembatan kartanegara di tenggarong
Wisata Budaya
1. Museum Mulawarman di tenggarong (peninggalan kesultanan kutai kartanegara)
2. Kedaton kutai kartanegara di tenggarong (istana baru sultan kutai kartanegara)
3. Desa pondok labu di tenggarong (kehidupan suku dayak)
4. Desa lekaq kidau di sebulu
5. Lamin suku dayak di tabang (kehidupan suku dayak)
6. Desa brubus di muara Kaman (situs kerajaan tertua di Indonesia)
Wisata pendidikan
1. Planetarium jagad raya di tenggarong
2. Museum kayu tuah himba di tenggarong
3. Museum perjuangan merah putih do sanga-sanga


MITOLOG KUTAI
Lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti
( raja kutai kartanegara yang pertama )
Tersebutlah dalam hikayat kutai, bahwasanya petinggi jaitan layar dengan isterinya tinggal di sebuah gunung, di tempat mana mereka membuka sebuah kebun untuk keperluan hidup sehari-hari. Puluhan tahun mereka hidup sebagai suami istri, namun dewa di khayangan belum juga menganugerahkan seorang anak pun sebagai penyambung dari keturunan mereka untuk memerintah negeri jaitan layar ini. Sering petinggi jaitan layar beserta isterinya bertapa, menjauhi kerabat dan rakyatnya, memohon kepada dewata untuk mendapatkan anak. Pada suatu malam ketika mereka sedang tertidur dengan nyenyaknya, terdengar suara di luar rumahyang begitu gegap gempita hingga menyentakkan mereka dari tidurdi peraduan. Mereka pun bangkit membuka pintu untuk melihat apa gerangan yang terjadi di luar rumah. Nampaklah oleh mereka sebuah batu besar yang melayang dari udara menghempas ketanah. Suasana malam yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang benderang seakan-akan bulan purnama sedang memancar. Terkejut melihat batu dan alam yang terang benderang itu, petinggi beserta isterinya segera masuk kembali kedalam rumah serta menguncinya dari dalam. Dari dalam rumah mereka mendengar suara yang menyerunya.
“Smabut mati babu, tiada sambut mati mama”
Sampai tiga kali suara ini didengar oleh petinggi jaitan layar dan akhirnya dengan rasa cemas dijawabnya juga, “ular mati lumus, tiada diulur mati lumus!” “sambut mati babu, tiada di sambut mati mama.” Kembali suara itu terdengar. “ulur mati lumas, tiada di ulur mati lumas,” jawab si petinggi. Dan terdengarlah gelak ketawa dari luar rumah sambil berkata, “barulah ada jawaban dari tutur kita”. Mereka yang di luar rumah itu agaknya sangat gembira sekali, karena tutur katanya mendapatkan jawaban. Petinggi jaitan layar pun tidak merasa takut lagi dan kemudian keluar rumah bersama isterinya mendatangi batu itu yang ternyata adalah sebuah raga emas. Raga emas itu lalu di buka dan betapa terkejutnya petinggi beserta isterinya tatkala melihat didalamnya terdapat seorang bayi yang diselimuti dengan lampin berwarna kuning. Tangannya sebelah memegang sebuah telur ayam, sedang tangan lainya memegang keris dari emas., keris mana merupakan kalang kepalanya. Pada saat itu menjelmalah tujuh orang dewa yang telah menjatukan raga emas itu. Mereka mendekati petinggi jaitan layar dengan muka yang gembira memberi salam dan salah seorang dari dewa itu menyapa petinggi, “berterima kasihlah kepada dewata, karena do’amu dikabulkan untuk mendapatkan anak. Meskipun tidak melalui rahim isterimu. Bayi ini adalah keturunan dewa-dewa dari khayangan, krena itu jangan sia-siakan untk memeliharanya, tapi jangan di pelihara seperti anak manusia biasa.” Dewa juga berpesan agar bayi keturunan dewa ini jangan diletakkan senbarangan diatas tikar, akan tetapi selama empat puluh hari empat puluh malam bayi ini harus di pangku berganti-ganti oleh kaum kerabat petinggi. “bilamana engkau ingin memandikan anak ini, maka janganlah dengan air biasa, akan etapi dengan air yang diberi bunga wangi.””dan bilamana anakmu sudah besar, janganlah ia menginjak tanah, setelah diadakan erau (pesta), dimana pada waktu itu kaki anakmu ini harus di injakan kepala manusia yang sudah mati. Selain itu kaki anakmu ini di injakan pula pada kepala kerbau hidup dan kepala kerbau mati.”
“Demikian pula bilamana anak ini untuk pertama kalinya ingin mandi ketepian, maka hendaklah engkau adakan terlebih dahulu upacara erau (pesta) sebagaimana upacara pada titik tanah..”
Setelah pesan-pesan tersebut disampaikan oleh salah seorang dewa itu maka ketujuh dewa itu naik kembali ke langit. Petinggi dan isterinya dengan penuh rasa bahagia membawa bayi itu masuk kerumahnya. Bayi ini bercahaya laksana bulan purnama, wajahnya indah tiada bandingnya, siapa memandang akan bangkit kasih sayang terhadapnya. Akan tetapi isteri petinggi susah hatinya, karena payudaranya tidak dapat meneteskan air susu. Apa yang bias diharapkan lagi dari seorang perempuan yang sudah tua untuk bias menyusui anaknya? Akhirnya petinggi jaitan layar membakar dupa dan setanggi srta menghambur beras kuning, sambil mereka memanjatkan do’a kepada para dewa, agar memberikan kurnia kepada isteri petinggi supaya teteknya mengandung air susuyang harum baunya. Seteklah selesai berdo’a, terdengarlah suara dari langit, “hai nyai jaitan layar, usap-usaplah tetekmu tangan berulang-ulang sampai terpancar air susu darinya. “mendengar perintah ini, isteri petinggi jaitan layar segera mengusap-usap teteknya sebelah kanan dan pada waktu sampai tiga kali dia berbuat demikian, tiba-tiba mencuratlah dengan derasnya air susu dengan baunya yang sangat harum seperti bau ambar dan kasturi. Maka bayi itupun mulai dapat diberikan air susu dari tetek isteri petinggi jaitan layar itu sendiri. Kedua laki istri itu sangat bahagia melihat anak keturunannya dari dewa, mulai dapat mnyusu. Sesudah tiga hari tiga malam tanggallah tali pusat bayi itu.maka semua penduduk jaitan layar pun gembira. Meriam”sapu jagad” ditembakkan sebayak tujuh kali. Selama empat hari empat puluh malam bayi itu dipangku silih berganti dan di pelihara secermat-cermatnya. Selama itu pula telor ayam yang sudah menetaqs menjadi ayam jagi dan suara kokokannya terdengan llantang. Sesuai petunjuk para dewata mka anak tersebut di beri nama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Sampai batara agung umur lima tahun maka sukarlah dia ditahan untuk bermain-main di dalam rumah saja, dia ingin bermian-main dialam bebas, seperti halaman dan mandi-mandian di pinggir sungai Mahakam. Maka petinggi jaitan layarpun mempersiapkan upacara tijak tanah (menginjak tanah) dan upacara erau mengantarkan anak kmandi ketepian untuk pertama kalinya. Empat puluh hari empat puluh malam di adaka pesta dimana disediakan makanan dan minuman untuk penduduk. Gamelan gajah perwata ditabuh siang malam membuat suasana tambah meriah. Berbagai permaian ketangkasan dipertunjukkan silih berganti. Sesudah erau dilaksanakan berbagai macam binatang baik betima maupun jantan disembelih. Disamping itu juga petinggi jaitan layar tidak melupakan pesan dari dewa yaitu agar membunuh beberapa orang baik laki-laki maupun perempuan untuk di injak kepalanya oleh batara agung pada upacara “tijak tanah”. Kepala-kepala tersebut diselimuti dengan kain kuning, lalu diarak ketepian Mahakam. Ditepi sungai Mahakam batara agung dimandikan dimana kakinya dipijakkan berkali-kali pada batu dan besi. Penduduk jaitan layarpun juga ikut mandi baik laki-laki maupun perempuan, baik muda maupun uta. Setelah selesai mandi maka khalayak membawa batara agung kembali kerumah orang utnaya dan dipakaian pakaian kebesaran. Kemudian dia dibawa kembali kehalaman dan di lindungi paying agung, diiringi gamelan gajah [perwata dan meriam sapu jagad. Tiba-tiba Guntur tsangat dahsyat menggoncang bumi dan hujan panas pun merintik. Awan dilangit bergulung-gulung seakan memayungi penduduk yang sedang melaksanakan upacara di bumi.
Kemudian penduduk membuka kasur agung dimana aji batara agung disuruh berbaring. Upacara selanjutnya adalah gigi batara agung diasah dan kemudian disuruh makan sirih. Setelah upacara selesai acara dimeriahkan dengan makan dan minum, serta tarian dan tak lupa juga diadakan adu binatang. Keramaian itu berlangsung selama tujuh malam. Kemudian bekas balai-balai keramaian dibagikan kepada penduduk yang melarat. Demikian juga perhiasan-perhiasan rumah oleh nyai jaitan layar juga dibagikan ke penduduk. Kemudian penduduk memuji-muji aji batara agung dengan sebutan” tiada siapapun yang dapat membandinginya, baik perkataannya maupun wibawanya. Patutlah dia anak dari batara dewa-dewa”. Aji batara agung dewa sakti kelak akan menjadi raja pertama dari kerajaan kutai kartanegara.


NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU
zaman dahulu di kampungb melati hulu dusun diamlah dua orang suami –istri yakni petinggi hulu dusun yang bennama bubu jaruma. Usianya cukup lanjut tapi belum memiliki keturunan.
Suatu hari keadaan sangat buruk.hujan deras petir menyambar-nyambar, diiringi dengan suara gemuruh. Penduduk dusun hulu tak ada yang berani keluar rumah termasuk petinggi dan istrinya.
Pada hari ketujuh persediaan kayu bakar yang digunakan unutk memaqsak keluarga ini telah habis. Mereka tidak berani keluar rumah untuk mencari nkayu bakar. Akhirnya petinggi memutuskan untuk mmengambil salah satu kayu atap rumahnya untuk memasak.
Saat membakar kayu alangkah terkejutnya sang petinggi ketika melihat ada seekor ulat kecil yang melingkar di kayu tersebut dan memandanginya seakan minta belas kasihan dan ingin di pelihara.
Ulat kecil itu dipelihara dengan baik oleh babu jaruma. Setia hari deberi makanan dedaunan yang segar. Hari berganti hari, bulan berganti bulan lama-lama ulat tersebut berubah menjadi Naga. Pada suatui malam bubu jaruma bermimpi bertemu dengan seorang yang sangat cantik jelita penjelmaan Dario naga trersebut. “ ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda” kata sang putrid. Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di Desa ini ijinkanlah ananda pergi dan buatkanlah Tangga agar ananda dapat meluncur kebawah.
Pagi harinya sang petinggi hulu dusun menceritakan mimpinya kepada istrinya. Mereka berdua membuatkan tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu hendak bergerak turun, tiba-tiba terdengar suara seperti sang putrid yang didengar dalam mimpinya.
“ bilamana ananda telah turun ketanah maka hendaklah ayah dan bunda mengikuti mkemana ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam dan menaburi anada dengan beras kuning. Jika ananda merayap kesungai dan telah masuk kedalam air maka iringilah buih yang muncul dipermukaan air sungai”.
Setelah merayap dan diikuti oleh petinggi dan istrinya ular naga itu menuju sungai dan berenanglah naga itu ke hulu dank e hilir sebanyak tujuh kali, kemudian berenang ketepian batu. Ditepian batu itu sang naga berenang ke kiri tiga kali dan akhirnya menyelam.
Disaat naga itu menyelam tiba-tiba terjadi angin topan dahsyat, air gelombang hujan petir Guntur bersahutan. Petinggi dan istrinya mengarahkan perahu ketepi. Setelah cuaca membaik matahari bersinar lagi dan air hujan yang jatuh hanya berintik-rintik mereka berdua mengamati apermukaan air sungai Mahakam dan mencari-cari dimana keberadaan naga tersebut.
Tiba-tiba mereka berdua melihat permukaan air sungai yang dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpuki buih, mereka berdua mendekati gelombang buih tadi. Mereka serasa berada di kumala dengan cahaya berkilau-kilau dan alangkah terkejutnya ketika mereka melihat didalam buih tersebut ada seorang bayi yang berbaring di dalam gong. Gong itu semakin meninggi dan nampaklah naga yang menghilang tadi menjunjung gong yang berisi bayi tersebut. Semakin meninggi gong tersebut nampaklah seekor binatang vaneh menjunjung sang naga dan gonmg tersebut. Binatang itu tak lain adalah lembuswana. Petinggi ketakutan melihat hal itu. Kemudia dia menepikan perahunya menuju tepian batu.
Setelah beberapa saat kemudian naga dan lembuswana itu menghilang yanga da tinggalah gong yang berisi bayi yang datang dari khayangan tersebut. Segera petinggi dan istrinya membawa bayi perempuan itu pulang. Sesuai dengan mimpinya bayi itu di beri nama puteri karang melenu yang kelak akan menjadi isteri raja Aji Batara Agung Dewa Sakti.

SEJARAH KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA
Aji Imbud Gelar Sultan Aji Muhammad muslihudin memindahkan kesultanan kutai kartanegara ke tepian pandan.pada tanggal 28 september 1782. Pemindahan ini dilakukan untuk menghilangkan kenangan pahit pada masa pemerintahan kado dan pemarangna yang dianggap telah kehilangan tuahnya. Tepian pandan kemudian diubah menjadi tangga arung yang sampi sekarang terkenal dengna sebutan tenggarong.
Tahun 1883, kesultanan kutai kartanegara dipimpin di pimpin aji Muhammad salehudin setelah aji imbud mangkat.
Tahun 1844, dua kapal dagang pimpinan james erskin murray asal inggris memasuki perairan Tenggarong. Murai dating ke tenggarong untuk berdagang dan meminta tanah untuk pos dagang dan meminta hak eksklusif untuk mendirikan kapal uap diperairan Mahakam. A.M salehudin hanya mengizinkam murai untuk berdagang disamarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran sultan, akhirnya menembakkan meriam kea rah istana kutai dan dibalas oleh pasukan kerajaan kutai. Pertempuranpun tak dapat di hindari. Murai akhirnya kalah dengan tiga orang anggotanya termasuk murai sendiri. Akhirnya mereka melarikan diri ke laut lepas.
Insiden di tenggarong sampai di pihak inggris. Karena kutai merupakan wilayah bagian hindia belanda maka belanda akan menyelesaikan dengan caranya sendiri. Belanda mengirim armada thooft dan menyerang kutai. Raja bsalehuddin diungsikan ke kota bangun. Pangeran awing long dengan gagah berani bertempur melawan armada t’hooft untuk mempertahankan kehormatan keraja kutai kartanegara. Awing long gugur dan kutai tunduk kepada balanda.
Tahun 1853 kutai mengadakan perjanjian dengan belanda dan disepakati kerajjan kutai kartanegara menjadi bagian pemerintahan hindia belanda.
Tahun 1888, pertambangan batubara pertama dibuka di batu oleh insinyur tambang asal belanda, J.H Menten. Royalty dari pengeksploitasian sumberdaya alam diberikan kepada sultan sulaiman.
Tahu 1899 sultan sulaiman wafat digantikan putra mahkotanya aji Muhammad dengan gelar sultan aji Muhammad alimudin. Sultan alimudin bertahta selama 11 tahun dan wafat pada tahun 1910. Putra mahkota aji kaget jkarena belum dewasa dan digantikan oleh dewan perwalian Aji Pangeran Mangkunegoro.
14 november 1920 aji dinobatkan sebagai sultan kutai kartanegara denga gelar sultan aji Muhammad parikesit.
Awal abad-20 ekonomi kutai kartanegara berkembang pesat sebagai hasil dari pendirian perusahaan borneo-sumatra trade co. surplus dicapai tiap tahun hingga tahun 1924 kutai memiliki dana sebesar 3.280.000 gulden.
Tahun 1936 parikesit mendirikan istana baru yang megah dan kokoh terbuat dari beton. Istana tersebut berhasil diselesaikan dalam kurun waktu selama satu tahun.
Tahun 1942 ketika jepang menduduki kutai, sultan kutai harus tunduk kepada tenno heika, kaisar jepang. Dan member nama sultan kutai dengan gelar koo dengan nama kerajaan kooti.
Indonesia merdeka tahun 1945. Dua tahun kemudian kesultanan kutai dengan status swapraja masuk kedalam federasi Kalimantan timur bersama dengan kesultanan lainnya seperti: bulungan, sambaliung, gunung tabur dan pasir dengan membentuk dewan kesultanan. Kemudian pada 27 desember 1949 masuk kedalam Republik Indonesisa Serikat (RIS). Daerah swapraja kutai di ubah menjadi daerah istimewa kutai yang merupakan daerah otonom tingakt kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Tahun 1953.
Berdasarkan UU No.27 tahun 1959 tentang “ pembentukan daerah tingkat II dikalimantan timur”. Daerah istimewa kutai dipecah menjadi 3 yakni:
1. Daerah tingakat II kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda
Tanggal 20 januari 1960, A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai gubernur kaklimantan timur melantik 3 kepala daerah untuk 3 daerah swatantra tersebut. Yakni:
1. A.R. Padmo sebagai Bupati kepala daerah tingkat II kutai.
2. Kapt. Suedjono sebagai walikota samarinda
3. A.R. Sayid sebagai walikota Balikpapan.
21 januari 1960, di balairung keratin sultan kutai di tenggarong diadakan siding khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari siding ini adalah serah terima pemerintahan dari Sultan Aji Muhammad Parikesit kapada A.R. padmo sebagai Bupati Daerah tingkat II Kutai, Kapt. Suedjono sebagai walikota samarinda, A.R. Sayid sebagai walikota Balikpapan. Pemerintahan kutai kartanegara di bawah pemmerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit berakhir. Dan beliaupun menjadi rakyat biasa.
Tahun 1999 bupati Kutai Kartanega Drs. H. Syaukani HR, berniat menghidupkan kembali kesultanan kutai kartanegara ing martadipura. Ini dimaksud bukan untuk menghidupkan kembali feodalisme tapi untuk pelestarian warisan budaya Kerajaan Kutai sebagai Kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu dihidupkannya kesultanan kutai adalah salah satu sector pendukungsektor pariwisata di Kalimantan timur dalam upaya menarik minat Wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.
Pada tanggal 7 november 2000 presiden RI menyetujui maksud di atas dan pada tanggal 22 september 2001 putra mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan sebagai sultan kutai Kartanegara dengan gelar Sulatan H. Aji Muhammad Salehuddin II.
KERATON KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA
Kata keraton berasal dari kata” Keratuan” yang berarti sebagai istana atau tempat kediaman Raja. Istilah ini juga sering disebut sebagai kedaton yang berasal dari kata “kedatuan”. Sejak abad-13 kerajaan kutai telah mengalami 3 kali perpindahan ibukota. Namun tidak ada dokumentasi sejarah yang menggambarkan bangunan istana raja-raja kutai pada masa lalu baik dari kutai lama maupun di pamarangan sebagai kerajaan kutai yang ke dua.
Dokumentasi hanya ada pada masa pemerintahan A.M Sulaiamna yang beribukota Ditenggarong. Pada abad 18 Carl Block, seorang penjelajah norwegia berhasil membuat ilustrasi pendopo istana A.M sulaiman.istana sultan kutai tersebut terbuat dari kayu ulin dengan bentuk yang cukup sederhana.
Setelah sultan sulaiman wafat pada tahun 1899, kesultanan kutai kartanegara kemudian dipimpin oleh sultan A.M. Alimuddin (1899-1910). Sultan Alimuddin mendiami keratin baru yang terletak tak jauh dari bekas keratin Sultan Sulaiman. Keratin sultan Alimuddin ini terdiri dari dua lantai dan juga terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Keratin ini di bangun menghadap sungai Mahakam. Hingga sultan A.M. Parikesit naik tahta pada tahun 1920, keratin ini tetap digunakan dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan.


PENINGGALAN BUDAYA
Ketopong sultan kutai
Ketopong atau mahkota sultan kutai ini terbuat dari emas dengan berat hamper 2 kg. saat ini, ketopong sultan kutai di simpan di museum nasional Jakarta.
Pedang sultan kutai
Pedang kerajaan kutai ini terbuat dari emas padat. Pada gagng pedang terukir seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung sarung pedang dihiasi dengan seekor buaya. Pedang sultan kutai ini dapat diliahat di museum nasional, Jakarta.
Kalung ciwa
Kalung yang terbuat dari emas ini diketemukan oleh penduduk di sekitar danau lipan, kecamatan muara kaman pada masa pemerintahan sultan Aji Muhammad sulaiman (1850-1899). Oleh penduduk kalung ini di serahkan kepada sultan, yang kemudian dijadikan perhiasan kerajaan dan digunakan sultan pada waktu diadakan pesta adat erau dalam rangka ulang tahun penobatan sultan sebagai sultan kutai kartanegara Ing Martadipura.
Kalung uncal
Kalung uncal yang merupakan atribut dari peragaan kutai Martadipura ( Mulawarman ) ini digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara setelah Kerajaan Kutai Martadipura berhasil ditaklukan dan dipersatukan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Terbuat dari emas 18 karat dengan berat 170 garam. Kalung ini dihiasi dengan relief cerita Ramayana. Menurut sejarah, kalung uncal tersebut kemungkinan berasal dari India. Dalam bahasa India kalung ini disebut unchele dan didunia ini terdapat 2 buah atau satu pasang, yakni sebuah untuk pria dan sebuahnya lagi untuk wanita. Kalung Uncal yang saat ini ada di India hanya sebuah saja. Menurut keterangan salah seorang duta India yang berkunjung K Tenggarong pada 1954, kalung Uncal yang ada di Kutai ini sama bentuk, rupa dan ukurannya dengan kalung Unchele yang ada di India. Sehingga, ada kemungkinan Bahwa Raja Mulawarman Nala Dewa merupakan salah seorang keturunan dari Raja – raja India dimasa silam dan menbawa kalung Uncal tersebut ke daerah Kutai ini.
Kura – Kura Emas
Menurut riwayat, datanglah kepusat Kerajaan Mulawarman beberapa rombongan perahu dari Negeri Cina yang di Pimpin oleh seorang Pangeran yang ingin meminang salah seorang Putri Raja yang bernama Aji Bidara Putih. Setelah lamaran diterima, sang Pangeran mengantarkan barang – barang bertanda kesungguhannya untuk memperistri sang Putri berupa perhiasan dari emas dan intan, termasuk diantaranya adalah Kura – Kura Emas tersebut.
Tali Juwita
Tali Juwita adalah symbol dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah muara sungai dan 3 buah anak sungai ( Sungai Kalinjau, Belayan, dan Kedang Pahu). Tali Juwita ini terbuat dari benangyang banyaknya 3 x 7 helai, kemudian di kuningi dengan kunyit untuk di pakai dalam upacara adat bepelas.
Keris Bukit Kang
Keris ini adalah tusuk konde dari Aji Putri Karang Melenu, Permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti. Menurut legenda kutai, bayi perempuan yang diberi nama Aji Putri Karang Melenu ini ditemukan dalam sebuah Gong bersama – sama dengan Keris Bukit Kang dan sebuah telur ayam. Gong ini terletak pada sebuah balia dari bambu kuning. Balai tersebut terletak diatas tanduk seekor binatang aneh yang disebut Lembuswana yang muncul diperairan Kutai Lama.

Kelambu Kuning
Berbagai benda yang menurut kepercayaan mengandung magis ditempatkan dalam Kelambu Kuning, yakni :
a. Kelengkang Besi
Pada suatu hari ketika hujan panas, petinggi yang tinggal disungai Bengkalang ( Kecamatan Long Iram ) yang bernama Sangkareak mendengar suara tangisan bayi. Setelah dicari akhirnya ditemukannya seorang bayi berada dalam suatu wadah yang di sebut Kelengkang Besi.
b. Tajau ( Guci/Molo )
Tajau atau tempayan ini dipergunakan untuk mengambil air ketika hendak memandikan Aji Batar Agung Dewa Sakti untuk pertama kalinya.
c. Gong Rden Galuh
Tempat Aji Putri Karang Melenu bersmam Keris Bukit Kang diketemukan. Gong besar ini disebut juga Gong Maharaja Putri.
d. Gong Bende ( Canang Ponograh )
Gong kecil ini dipukul bila mana ada sesuatu yang akan diumumkan kepada khalayak.
e. Arca Singa Noleh
Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang memakan beraslempukut yang baru di tumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang tersebut jatu, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.

f. Keliau Aji Siti Berawan
Keliau atau perisai ini adalah yang selalu dipakai oleh Aji Siti Berawan, Keluarga dari Sultan Kutai Kartanegara. Aji Siti Berawan disebut pahlawan wanita karena selalu mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Mandau yang dipakainya dinamakan Mandau Piatu.
g. Sangkoh Piatu
Sangkoh (lembing) ini dipakai pada waktu Erau dan dikaitkan pada tali Juwita dan kain Cinde.
h. Sangkoh Buntut Yupa
Lembing ini penjelmaan dari seekor ular yang diketemukan di ujung pulau Yupa oleh seorng penduduk kampung sekitarpulau tersebut.
Singgasana Sultan
Setinggil / Singgasana yang dipakai Sultan Aji Muhammad Sulaiman maupun yang dipakai Sultan Aji Muhammad Parikesit, berikut paying, umbul-umbul, dan geta (peraduan pengantin Kutai Keraton).
Meriam Sapu Jagat dan Meriam Gentar Bumi
Kedua meriam yang dianggap memiliki kekuatan daya sakti ini digunakan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa untuk menundukan Kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman.
Meriam Aji Entong
Meriam buatan VOC ini awalnya ditempatkan di daerah muara sungai Mahakam, tepatnya di Terantang (Kecamatan Anggana), untuk berjaga-jaga dan mengahadapi musuh yang dating melalui selat Makasar.

Meriam Sri Gunung
Meriam Sri Gunung inilah yang dipakai Awang Long gelar Pangeran Sinopati untuk menembak armada kapal Inggris dan Belanda yang menyerang Tenggarong pada tahun 1844.
Tombak Kerajaan Majapahit
Tombak-tombak tua dari Kerajaan Majapahit yang tersimpan di Museum Mulawarman membuktikan adanya hubungan sejarah antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan Kerajaan Majapahit.
Keramik Kuno Tiongkok
Ratusan koleksi keramik kuno dari berbagai dinasti di Cina yang tersimpan diruang bawah tanah Museum Mulawarman membuktikan telah adanya perdagangn yang ramai antara daerah Kutai dengan daratan Cina dimasa lampau.
Gamelan Gajah Prawoto
Seperangkat gamelan yang terdapat di Museum Mulawarman berasal dari pulau Jawa, begitu pula topeng-topeng, beberapa keris, pangkon, barang-barang perak maupun kuningan, serta wayang kulit membuktikan adanya hubungan yang erat antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa semenjak jayanya Majapahit.


PELAKSANAAN ERAU
Pelaksanaan Erau
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesulatanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs. H. Ahmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakn 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun Kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782.
Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai dengan kewajiban untuk mengerjakan bebrapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkanseoerti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan Olahraga/ketangkasan.
Erau Sebagai Pesta Budaya
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibikota Kabupaten Kutai dan kesultanan Kutai Kartanegara.
Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of even pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai.


Bahasa
Masyarakat kutai memiliki banyak suku dan sub suku dengan bahasa yang beragam. Beberapa bahasa sub suku yang sudah tidak di pergunakan lagi atau sudah punah yaitu: umaa wak, umaa palaa, umaa luhaat, umaa palog, bang kelo, umaa sam. Bahasa tersebut dalulunya biasa digunakan oleh suku dayak hulu maupun hilir Mahakam. Saat ini bahasa Indonesia telah banyak dikenal oleh masyarakat kutai dan dipergunakan untuk acara-acara resmi dan untuk berkomunikasi dengan pihak luar daerah. Sedangkan bahasa suku hanya dipergunakan untuk berkomunikasi antar suku iut sendiri.
Seni drama kutai
Seni drama tradisional masyarakat kutai disebut mamanda. Istilah ini berasal dari pamanda yang artinya paman. Kata tersebut merupakan panggilan raja yang ditujukan kepada menteri” pamanda wajir dan pamanda mangkubumi”.
Seni drama tradisional pamanda merupakan pertunjukan yang sangat popular dimasa lalu. Acara ini selalu dipertunjukkan di acara perayaan nasional, perkawinan, khitanan dan sebagainya.
Pamanda dapat disejajarkan dengan kethoprak atau ludruk jawa. Jika jalan cerita yang disajikan dalam pamanda adalah kerajaan maka mamanda tersebut mirip dengan kethoprak. Namun jika yang dilakonkan adalah cerita rakyat biasa maka cerita tersebut mirip ludruk. Mamanda selalu menggunakan dua alat music gendang dan biola.
Kesenian ini sudah jarang dipentaskan secara terbuka. Namun pada saat pertunjukan erau dipertunjukkan secara terbuka untuk mengisi salah satu acara untuk menghibur rakyat.


Seni musik kutai
1. Tingkilan
Seni music khas suku kutai adalah tingkilan. Seni music ini memiliki kesamaan dengan kesenian rumpun melayu. Alat music yang digunakan adalah gambus (sejenis gitar berdawai 6) ketipung (semacam gendang kecil), kendang (sejenis rebana yang berkulit sebidang dan besar) dam biola.
Music tingkilan disertai dengan nyanyian yang dinyanyikan secara nersahut-sahutan, dengan isi lagu berupa nasehat-nasehat, percintaan, saling memuji atau bahkan ssaling menyindir atau saling mengejek dengan kata-kata lucu. Music tingkilan sering juga digunakan untuk mengiringi tarian khas kutai yaitu tari jepen.

2. Hadrah
Kesenian ini menggunakan alat music terbang atau rebana. Kesenian ini dibawakan dengan menabuh alat tersebut disertai nyanyian dalam bahasa arab yang diambil dari kitab barjanji.
Kesenian ini ditujukan untuk mengarak pasangan pengantin. Atau ketika mengarak pengantin pria menuju rumah pengantin wanita. Selain itu juga pada acara tasmiyah dan naik ayun.
Seni Tari
Seni tari di kutai dibagi menjadi 2. Yaitu:
1. Seni tari rakyat
Merupakan kreasi artistic yang timbul ditengah-tengah masyarakat umum. Gerakan tarian ini menggabungkan unsure-unsur tarian yang ada pada tarian suku yang mendiami daeraah tersebut.
Yang termasuk tarian rakyat yaitu:
a. Tari jepen
Tari jepen dipengaruhi oleh kebudayaan melayu. Tarian ini popular dikalangan masyarakat yang mendiami sekitar sungai Mahakam maupun daerah pesisir pantai.tarian ini biasanya dimainkan berpasang-pasangan, tetapi juga dapat dimainkan sendiri (tunggal). Tarian ini biasanya diiringi music tingkilan. Tarian ini berkembang sangat pesat hingga muncul kreasi baru seperti tari jepen tengku, tari jepen gelombang, tari jepan 29, tari jepen sidabil, tari jepen tali.
2. Seni tari klasik
Merupakan tarian yang tumbuh dikalangan keratin kutai kartanegara pada masa lampau.
Dahulu tarian ini adalah tarian wanita keratin kutai kartanegara, namun akhirnya tarian ini boleh ditarikan oleh siapa saja. Tarian ini diiiringi gamelan yang khusus di sajikan untuk para tamu yang berkunjung ke kutai nkartanegara dalam suatu upacara resmi. Penari tidak terbatas jumlahnya. Makin bnyak makin dianggap bagus.
Yang termasuk dalam seni tari klasik yaitu:
a. Tari ganjur
Tari ganjur merupakan tarian pria istana yang ditarikan berpasang-pasangan dengan menggunakan ganjur (gada yang terbuat dari kain dan memiliki tangkai untuk memegang). Tari ini diiringi music gamelan dan ditarikan pada upacara penobatan raja, pesta perkawinan, penyambutan tamu kerajaan, kelahiran dan khitanan keluarga kerajaan. Tarian ini banyak mendapat pengaruh dari unsure-unsur gerak tari jawa (gaya yogya dan solo)
b. Tari kanjar
Tarian ini tidak jauh berbeda dengan tari ganjur. Hanya saja tarian ini ditarikan oleh pria dan wanita dengan gerakan lebih lincah. Komposisi sgak longgar dan tidak terlalu ketat sehingga tarian ini dapat disamakan denga tari pergaulan. Dalam penyajiannya biasanya didahului oleh tari persembahan, karena tarian ini juga untuk menghormati tamu dan termasuk sebagai tari pergaulan.
c. Tari topeng kutai
Tarian ini asal mulanya memiliki hubungan dengan seni tari dalam kerajaan singosari dan Kediri. Namun gamelan yang mengiringi sedikit berbeda. Cerita yang dibawakanpun juga berbeda, demikian pula pada custum penarinya.
Tari topeng kutai terbagi dalam beberapa jenis sebagai berikut:
1. Penembe
2. Kemindhu
3. Patih
4. Temenggung
5. Kelana
6. Wirun
7. Gunung sari
8. Panji
9. Rangga
10. Tagoq
11. Bota
12. Tembam
Tari topeng hanya disajikan untuk kalangan keraton, sebagai hiburan keluarga dengan peneri-penari tertentu. Acara ini juga biasanya dipersembahkan pada acara penobatan raja, perkawinan, kelahiran, dan penyambutan tamu keraton.
d. Tari dewa memanah
Tarian ini dilakukan oleh kepala ponggawa dengan menggunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa mengelilingi temapt upacara diadakan sambil mengayunkan bususrnya keatas dan kebawah, disertai juga dengan bememang (membaca mantera) yang isinya meminta kepada para dewa agar mengusir roh-roh jahat, dan meminta ketentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.
e. Tari hudoq
Tarian ini dilakukan dengan memakai topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa untuk menutupi tubuh si penari. Tarian ini erat hubungannya dengan suku dayak bahau dan modang. Tari hudoq dimaksud untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi hama perusak tanaman dan mengharapkan diberi kesuburan dengan hasil panen yang baik.
f. Tari hudoq kita’
Tari suku dayak kenyah ini prinsipnya sama dengan tari suku dayak bahau dan modang. Yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun menunjukkan rasa terimakasih kepada dewa yang telah member panen yang baik. Perbedaanya ada pada topeng, kostum dan iringan music.

Kostum penari hudoq kita’ memakai baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, dengan topeng berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas dayak kenyah. Ada dua jenis topeng tari hudoq kita’ yaitu terbuat dari kayu dan ada yang berupa cadar terbuat dari manic-manik dengan ornament dayak kenyah.
g. Tari serumpai
Tarian suku dayak benua dialkukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Tarian ini diiringi lat music serumpai (sejenis seruling bambu)
h. Tari belian bawo
Upacara belian bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar. Setelah diubah dalam bentuk tarian, tari ini sering dilakukan untuk menyambut tamu. Tarian ini berasal dari dayak benuaq


i. Tari kuyang
Sebuah tarian dari suku dayak benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.
j. Tari pecuk kina
tarian ini menggambarkan perpindahan suku dayak kenyah yang berpindah dari daerah apo kayan (bulungan) ke daerah long segar (kutai barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.
k. Tari datum
Tari ini merupakan tariasan bersama gadis suku dayak
Kenyah yang berjukmbalah yang tak pasti, boleh 10-hingga 20 morang. Menurut riwayatnyatari bersama ini di ciptakanoleh se orang kepala sukudasyak kenyah di apo kayan yang ber nama nyik selung,sebagai tanda syukur dan kekegimbiraanatas kelahiran seorang cucunya ,kemudian tari iniberkembanga segenap daerah suku dayak kenyah
l. Tari ngerangkau
Tari ini merangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku dayak tanjung dan benuaq. Tari ini mempergunakan alat alt penumbuk padi yang di bentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.
m. Tari Baraka,bagantar
Awalnya baraga ‘bagantar upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari NAYUN GANTAR .sekarang upacara ini sudah di ubah menjadi sebuah tarian oleh suku dayak benuaq,
n. Tari gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang yang menanam padi ,tongat menggambarkan kayu penumbuk,sedangkan bambu serta biji-bijian di dalamnaya menggambarakan benih padi dan wadahnya.


0. Tari Kencet Papati/Tari Perang
Tari ini menceritakan tentang seseorang pahlawan dayak kenyah berperang melawan musuhnya ,gerakan ntarian ini sangat lincah,gesit penuh semangat dan kadang –kandang di ikuti oleh pekikan si penari
Dalam tarian ini kencet pepati penari mempergunakan pakaian tradisional suku dayak kenyah di lenglkapi dengan perlengkapan perang dan seperti mnadau perisai dan baju perang . tari ini di iringi dengan lagu sak paku dan hnaya menggunakan alat music sampae
p. Tari kancet ledo/tari gong
Jikia tari kancet pepatay menggambarakan kejantanan dan keperkasaan pria dayak kenyah , sebaliknya tarian kancet ledo menggambarkan kelemah lembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang bmeliuk-liuk lembut di tiup oleh angin .
Tari ini di bawah oleh seorang wanita dengan memkai pakain tradisional suku dayak kenyah dan pada ke dua tanganya memegang rankain bulu- bulu ekor burung enggang .biasanya tari ini di tarikan di atas sebuah gong sehingga kancet ledo di sebut juga tari gong
q. Tari kancet lasan
Menggambarkan sehari –hari burung enggang ,burung yang di muliakan oleh suku dayak kenyah karena di anggap sebagai tanda keagungan kepahlawanan. Tari kancet lasan merupakan tarian tunggal wanita suku dayak kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti tari kancet ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong,dan bulu –bulu burung enggang dan juga sipenari banyak mempergunakan posisi merendah, dan berjongkok /dudukdengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih di tekan pada gerak gerak burung enggan ketika burung enggang ketika ter bnag melayang dan hinggap ,tertengger di dahan pohon .
r. tari leleng
Tari ini menceritakan seorang gadis bernama utan Along yang akan di kawinkan secra paksa oleh orang tuanya dengan pemuda yang tak di cintainya.utan alon akhirnya melarikan diri kedalam hitan.tarian gadis suku dayak kenyah,ini di tariakn di iringi dengan lagu leleng.
Suku dayak memiliki bermacam alay music, baik berupa alat music petik,pukul dan tiup.dalam kehidupan sehari – hari suku di pedalaman ini.musik juga merupakan sarana yang tidak kalh penting untuk menyampekan maksud – maksud serta puja dan puji kepada yang kuasa, baik terhadap roh-roh maupun manusia bias biasa. Selain itu music alat –alat music ini di gunakan untuk mengiringi ber macam macam tarian. Seperti halnya dalm seni tari , pada seni music pun mereka memiliki beberapa bentuk ritmesera lgu lagu tertentuuntuk mengiringi suatu tarian dan upacara-upacara tertentu masing –masing suku memiliki kekhasanya sendri sendri.

Gendang Ada beberapa jenis gendang yang di kenal suku dayaktanjung
. prahi
. gimar
Tuukng tuat
.pampong
Genikng Sebuah gong besar yang juga di gantungkan pada sebuah standar ( tempat gantungan )seperti halnya gong jawa
Gong Sama seperti gong di jawa dengan dia meter 50-60cm
Glunikng Sejenis alat music pukul yang bilah-bilahnya yang terbuat dari kayu ulin . mirip alat music saron di jawa
Jantung tutup Sejenis alat music pukul dari kayu yang berbentuk gambang. Memiliki 12 kunci yang tergantung dari atas sampai bawah dan dimainkan dengan kedua belah tangan.
Kadire Alat music tiup yang terbuat dari pelepah batang pisang dan memiliki 5 buah pipa sumbu yang dibunyikan dengan mempermainkan udara pada rongga mulut yang menghasilkan sura dengung.
Klentangan Alat music pukul yang terdiri dari 6 buah dong kecil tersusun menurut nada-nada tertentu pada sebuah tempat kedudukan terbentuk semacam kotak persegi panjang (rancak). Bentuk alt music ini mirip denga boning di jawa. Gong-gong kecil terbuat dari logam sedangkan tempat duduknya terbuat dari kayu.
Sampe Sejenis gitar atau alat music petik dengan dawai berjumlah 3 atau 4. Biasanya diberi hiasan atau ukiran khas dayak.
Suling Alat musik tiup yang terbuat dari bambu.
Ada beberapa jenis seruling:
1. Bangsi/seruani
2. Suling dewa
3. Kelai
4. tompong
Taraai Sebuah gong kecil yang digantung pada sebuah standar.(tempat gantungan). Alat pemukul terbuat dari kayu agak lunak.
Uding (uring) Sebuah kecapi 0 yang terbuat dari bamboo atau batang kelapa. Alat ini dikenal juga sebagai genggong (bali) atau karinding (jawa barat)