Sebelum memulai menuliskan buah
fikir dan perasaan ini saya terlebih dahulu menyampaikan penghormatan yang
sedalam – dalamnya kepada para kesatria pelindung rakyat dan penegak kesaktian
Pancasila yaitu Aparat Keamanan baik itu Kepolisian Republik Indonesia, Tentara
Nasional Indonesia, Satuan Polisi Pamong Praja dan segenap pejuang dalam
istilah lainnya yang dimana pada saat ini masih survive menjaga stabilitas kehidupan Barbangsa
dan Bernegara.
Dalam beberapa tahun belakangan
ini Negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia mengalami berbagai macam “serangan” yang mungkin disebagian besar
masyarakat kita masih awam memandangnya. Di Era Kemerdekaan para leluhur kita
terbiasa dengan serangan fisik yang dilakukan oleh para kolonial untuk
mengambil Sumber Daya Alam kita berupa rempah – rempah, di orde baru serangan
tersebut mulai berevolusi dengan ketergantungan Bangsa kita terhadap suasembada
pangan dengan konsep revolusi hijau yang pada ending nya menyusahkan kita untuk
mengontrol pengadaan pupuk sehingga harus impor dengan perusahaan kapital
dunia, belum lagi tentang mudahnya perizinan tambang emas di Papua, minyak di
sumatra, di kalimantan dan daerah lain. Selain itu pada massa orde baru pun tidak
terlepas dari konflik sesama anak bangsa “civil war” antara masyarakat dengan
masyarakat dan masyarakat dengan aparat keamanan yang tidak sedikit jiwa yang
menjadi korban.
Bapak dan ibu yang terhormat,
sekarang zaman telah berubah, reformasi sudah meledak di tahun 1998 akibat krisis
dan arogansi kepemerintahan serta telah meninggalkan catatan hitam akan
hilangnya para aktivis dan tumpahnya darah secara masal di bumi Indonesia ini.
Dari berbagai perubahan
zaman ke zaman yang telah dipaparkn
diatas lagi – lagi ada sebuah kebimbngan atau kedelematisan bagi aparat
keamanan. Di satu sisi mereka menjaga ketertiban atas perintah pimpinan, di
sisi lain mereka juga bagian yang tidak bisa terpisahkan dari masyarakat.
Bapak dan ibu.....
Serangan – serangan (Invasi) yang bisa kita terjemahkan di abad ke 21 ini
sebenarnya sama dengan abad – abad sebelumnya, yaitu ke Arogansikan (pujungan)
Negara – negara materialis yang rakus akan kekuasaan dengan menciptakan
berbagai dinemika baru untuk mengisap negara – negara lainnya dengan modus yang
berbeda. Baik, serangan kekinian yang tanpa kita sadari adalah sebagai berikut
:
1. Culture War (Serangan Budaya)
James Petras, seorang
dosen dan sosiolog dan kritikus pemerintah AS, yang tinggal di New York,
mendefinisikan imperialisme kebudayaan sebagai berikut, "Imperialisme
kebudayaan berarti campur tangan secara terprogram dan kekuasaan kebudayaan
pihak penguasa Barat atas rakyat, dengan tujuan menyusun kembali nilai-nilai,
perilaku, lembaga-lembaga dan identitas rakyat yang telah dieksploitasi, dalam
rangka menyelaraskannya dengan interes para imperialis.
Budaya dalam hal ini
budaya Indonesia bukan hanya tertumpu pada nilai kesenian yang ada berupa tari,
teater, musik dan seni rupa saja melainkan adab, tata krama atau etika dalam
kehidupan sehari – hari masyarakatnya. Ketahanan budaya sadar atau tidak
disadari sangat rentan lumpuh dengan kerasnya arus globalisasi yang ditawarkan
oleh Imprealis yaitu Amerika dan Isreael (zionis) .
Ujung tombak serangan di
era globalisasi ini adalah hadirnya revolusi industri dan teknologi dengan
penguatan media masa sebagai marketnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini
sangat dibutuhkan masyarakat dunia karena tujuan diciptakannya teknologi adalah
sebagai alat mempermudah manusia dalam melaksanakan aktifitasnya. Saya yakin
dan percaya para penemu sosmed, camera, Hp, tv dan lain – lain mempunyai niat
yang mulia bagi kehidupan manusia. Namun yang disayangkan adalah ketika buah
karya yang revolusioner ini jatuh ketangan orang – orang jahat.
Bapak ibu yang saya
cintai, kita kembali kekonteks bagaimana media menjadi ujung tombak dari
timbulnya serangan budaya ini adalah dengan banyaknya tayangan – tayangan yang
menjejalkan tentang buruknya cara berpakaian dengan mengatas namakan seni
(keindahan), sinetron atau drama yang tidak mendidik, guyonan yang berlebihan,
film – film barat yang banyak menayangkan kebebasan sebebas bebasnya, bahkan
promosi hubungan antar sesama jenis, dimana tanpa kita perhatikan anak – anak
muda kita sangat gemar mengkonsumsi aktifitas ini.
Ini semua tidak mungkin
berjalan jika tanpa ada sponsor, hal ini tidak akan berjalan dengan sendirinya
pasti ada by design dibaliknya. Kita bisa lihat dengan industri informasi dan
telekomunikasi bagaimana mereka membentuk pola berfikir masyarakat agar
menyetujui pola fikir mereka dengan penggiringan alam dibawah sadar kita
melalui tayangan – tayangan tersebut diatas.
Alasan saya memaparkan
tematik mengenai culture war ini adalah agar – bapak ibu yang terhormat bisa
mengambil langkah pencegahan sebelum terjadinya hal – hal yang bersifat fatal
yang menimbulkan gejolak di masyarakat kita dengan hilangnya rasa nasionalisme
atau hilangnya identitas anak bangsa sehingga timbulnya budaya hedonis dan
ketika makhluk hedonis yang menjadi pemimpin bangsa maka yakin dan percayalah
mereka akan mengambil keputusan/langkah yang pragmatis yang mengakibatkan
mayoritasnya koruptor di Negeri ini.
2. Narkoba dan Korupsi
Bapak dan Ibu penjaga
keselamatan Generasi Bangsa, jika saat ini masih ada aparat keamanan yang masih
menikmati uang haram dari Narkoba dan Korupsi maka percayalah bangsa ini tidak
akan pernah maju. Karena bagaimana mungkin kita membersihkan diri dengan air
lumpur ? artinya pemberantasan Narkoba dan Korupsi haruslah dimulai dari pihak
pemberantas itu sendiri, Namun sayangnya sistem kepangkatan dan nepotisme
kemapiaan sudah mengakar ditubuh institusi ini. Satu – satunya cara bagi
institusi keamanan adalah “tega”
untuk memotong kangker yang menjadi parasit ini dan bagi aparat keamanan yang
saat ini terlibat dalam kejahatan ini seyogyanya sadar serta berani untuk
bertanggungjawab dengan menyerahkan diri, jadilah kesatria..!!!
3. Radikalisme
Bapak dan Ibu penjaga
kedamaian Bangsa kami sangat mengetahui tugas anda sangatlah berat....
Seperti yang anda ketahui
bahwa ada sebuah by design yang dibuat oleh kelompok Imprealis dalam hal ini
Zionist untuk menyerang kerukunan Bangsa kita dengan membuat sebuah faham yang
ditransfer dari timur tengah yaitu faham
radikal (Radikalisme). Faham radikal ini mempunyai ciri khas mengkafirkan
kelompok yang tidak sepemahaman dengan
mereka.
Gerakan – gerakan ini sama
dengan tayangan ditimur tengah dengan membawa isu Sara yang nantinya akan
berlanjut pada cheos (kacau) nya sebuah Negara. Dalam kondisi tertentu Umat
kita walaupun mayoritas BerAgama namun mayoritas
minim pemahaman Agamanya, karena kurangnya literatur inilah kadang mudah untuk
dipropokasi dengan mengataskan kesucian agama sehingga ketika seseorang
emosional maka apapun yang dilakukannya akan membabi buta.
Bapak ibu yang
termulia.....
Lihatlah sekarang isue –
isue tentang pimpinan daerah non muslim yang dulunya adem ayem saja namun
sekarang jadi problem yang sangat tajam. Isue – isue kemazhaban yang diangkat
dari suriah antara kelompok sunni dan syiah (yang sebenarnya tidak ada
persoalan) padahal murni kepentingan pipanisasi minyak. Persoalan kenyamanan
beribadah yang semula baik – baik saja namun sekarang heboh dengan hadirnya
kelompok “suci” pembela Agama Tuhan yang akan membubarkan kegiatan beribadah
kelompok lain. Padahal, Tuhan tidak perlu dibela oleh mereka, bahkan atanpa
adanya merekapun Agama Tuhan akan baik – baik saja. Coba lihatlah kegaduhan
yang mereka buat atas nama perdamaian sama kan seperti kelakuan zionis yang
menajajah palestina dengan mengatasnamakan perdamaian???
Mohon maaf yang sebesar –
besarnya kepada bapak dan ibu aparatur keamanan. Beberapa tahun belakangan ini
dalam pengamatan saya diinternal keamanan ada prilaku untuk membesar – besarkan
persoalan yang sesungguhnya itu kecil demi pencitraan institusi dan tuntutan
kegiatan yang memakan anggaran yang tinggi.
Sekali lagi saya sampaikan
bahwa jangan salahkan oknum yang telah menjadi mayoritas dan mengakar di
institusi pengan menjadi alasan untuk ber apology atau dijadikan kambing hitam
melainkan dengan berani memotong budaya politisasi kasus dan cara berfikir
untuk memulihkan nama baik. Yakin dan percaya jika saudara hadir ditengah masyarakat
dengan sebenar – benarnya hadir maka institusi anda akan baik dengan sendirinya
tanpa harus ada racikan – racikan media yang justru terlihat lebay.
Pekerjaan menjadi aparat
keamanan yang berat dan membutuhkan mentalitas atau kesabaran yang tinggi
disisi lain sebagai bawahan harus menerima perintah dengan saklek, tidak perlu tau
perintah itu benar atau salah, sebagai pimpinan pula kadang memikirkan tambahan
lebih untuk menambah biaya hidup anggota – anggotanya sehingga menghalalkan
segala cara untuk solidaritas ini. Apapun itu bapak – bapak dan ibu – ibu sekalian
itulah pekerjaan, pekerjaan ini akan menjadi baik jika dilakukan dengan cara
yangterhormat dan penuh kesadaran, sebaliknya akan merugikan jika tertipu
dengan hal yang sementara untuk memenuhi kebutuhan hedonis saja atau dengan
sendirinya dinilai sebagai orang yang hina.
Andai pekerjaan ini memang
berat untuk dikerjakan maka lebih baik menanggalkan seragam kbesaran bangsa ini
dan jadilah masyarakat biasa.
Orang – orang bijak
mengatakan “tiada cinta sejati tanpa nasihat”.
Inilah kalimat penutup
surat ini, semoga bermanfaat.......
Salam hormat ....

No comments:
Post a Comment