Wednesday, December 14, 2016

Keberlanjutan Program Satu Guru Satu Laptop

Evaluasi Gerbang Raja Part 1 Pendidikan

“Pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya” (Ki Hajar Dewantara)

Dalam ungkapan – ungkapan para tokoh sejarah, masa kini dan bahkan firman – firman Tuhan melalui utusannya dimuka bumi ini, banyak sekali menekankan akan pentingnya Menuntut Ilmu. Bahwa ilmu adalah sesuatu yang niscaya sebagai mana Tuhan telah menciptakan didalam diri manusia berupa akal sehingga mampu untuk menyerap tanda – tanda kekuasaan-Nya.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa pendidikan adalah suatu hal yang prioritas karena menyangkut persoalan kehidupan mendasar manusia dan kebutuhan dalam kehidupan berbangsa dan Negara. Maka penting bagi kita untuk menatap pendidikan secara Global sebagaimana jurnal yang dikarang oleh peneliti dari University of Ibadan, Nigeria yaitu  Martins Fabunmi yang melihat dari sudut pandang global dengan membandingkan kemajuan dari Negara satu dengan Negara lainnya. Sehingga bisa menjadi perhatian akan ketertinggalan dari Negara yang mempunyai pendapatan rendah dengan Negara yang berkembang. Semua itu di sandarkan  pada Perencanaan Pendidikan.

Dalam ulasan jurnal tersebut ada 3 Teori yang menjadi pondasi dalam melakukan sebuah perencanaan pendidikan diantaranya Social Deman Approach, Man Power Approach dan Investment Efficiency Approach.

1. Social Demand Approach (Pendekatan Tuntutan Publik)
Menurut Vembrianto (1985:46) “Pendekatan kebutuhan sosial atau social demand adalah suatu pendekatan dalam perencanaan pendidikan yang didasarkan atas tuntutan atau kebutuhan sosial akan pendidikan”.
Pendekatan sosial demand atau kebutuhan sosial atau tuntutan sosial adalah suatu istilah yang kabur dan mengcaukan (jarang digunakan oleh pendidik) dan dapat diartikan bermacam-macam. “Arti yang paling umum digunakan adalah kumpulan tuntuntan yang umum untuk memperoleh pendidikan, yakni jumlah dari tuntutan individu akan pendidikan di suatu tempat, pada suatu waktu tertentu, di dalam suatu budaya politik dan ekonomi tertentu”. (Coombs, 1982:33)
Sedangkan menurut A. W. Guruge dalam Udin S (2005:234) “Pendekatan kebutuhan sosial adalah pendekatan tradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyediakan lembaga-lembaga dan fasilitas demi memenuhi tekanan-tekanan untuk memasukkan sekolah serta memungkinkan pemberian kesempatan kepada pemenuhan keinginan-keinginan murid dan orangtuanya secara bebas”.

2. Investment Efficiency Approach/Cost and benefit (Pendekatan Ketepatgunaan Modal)
adalah suatu pendekatan yang menitikberatkan pada keseimbangan antara keuntungan dan kerugian (Yagi, 2010). Prinsip untung rugi inilah yang dipakai oleh individu yang rasional kalau memutuskan bagaimana sebaiknya membelanjakan uang agar keinginannya tercapai.
Ia meneliti alternatif-alternatifnya, menimbang biaya masing-masing alternatif  dan kepuasan yang menyertainya atau kegunaan yang akan diperolehnya dan kemudian memilih kemungkinan tertentu sebatas kemampuannya yang paling menguntungkan.

3. Man Power  Requerement Approach (Pendekatan Keperluan Tenaga kerja)
Menurut Effendi (2000:26)  “Pendekatan man power adalah pendekatan yang lebih menekankan pada pendayagunaan tenaga kerja hasil suatu sistem pendidikan”.  Sedangkan menurut Yagi (2010) ”Pendekatan ketenagakerjaan merupakan pendekatan yang mendisain perencanaan pendidikan dikaitkan dengan pengembangan tenaga manusia melalui pendidikan, guna memenuhi tuntutan kebutuhan sektor perekonomian”. Dengan demikian, perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan terhadap penerimaan ketenagakerjaan akan mengidentifikasikan mengenai besarnya kebutuhan tenaga kerja untuk kurun waktu tertentu.
“Pengembangan sumber daya manusia melalui sistem pendidikan adalah suatu syarat yang penting untuk perkembangan ekonomi dan merupakan suatu penanaman sumber daya yang langka yang baik, hasil pola dan kualitas pendidikan digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja”. (Coombs, 1982:34).
Pendekatan tenaga kerja berguna untuk mengatasi kesenjangan tenaga kerja dan ketidakseimbangan yang ekstrim dalam pola hasil pendidikan yang membutuhkan perbaikan. Pendekatan ini hampir tidak  memerlukan penelitian statistik yang terperinci. Pendekatan tenaga kerja dapat juga memberikan bimbingan yang bermanfaat bagi pendidik tentang bagaimana kualifikasi pendidikan pekerja untuk dikembangkan di masa mendatang. Misalnya, bagaimana seharusnya proporsi relatif dari orang yang berpendidikan atau tingkat pendidikan yang lebih rendah, pendidikan menengah, dan berbagai latihan setelah pendidikan tingkat menengah. Hal ini sangat berguna untuk diketahui para perencana pendidikan, tetapi jauh berbeda dari syarat-syarat tenaga kerja yang terperinci (Coombs, 1987: 37).
Perlu diperhatikan pula bahwa perhitungan kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia maupun yang akan tersedia tidak terlepas dari faktor kualitas yang diharapkan. Semua ini mempunyai implikasi bahwa seorang perencana pendidikan setidak-tidaknya dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan perkembangan, baik secara kualitas maupun kualitas, terutama menyangkut sektor-sektor ekonomi dengan pedistribusian yang dapat diproyeksi. Timan (2004:17) “Pertumbuhan ekonomi tidak hanya memerlukan sumber dan fasilitas fisik, tetapi juga memerlukan sumber-sumber manusia yang mengorganisasi dan menggunakan fasilitas fisik. Jadi pengembangan sumber manusia  melalui sistem pendidikan adalah suatu syarat penting untuk pertumbuhan ekonomi dan suatu investasi yang baik dari sumber-sumber yang langka, dengan menentukan pola dan mutu output pendidikan sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja di bidang perekonomian”.

Dari ulasan diatas kita bisa melihat indonesia sudah menerapkan dengan adanya program wajib belajar 12 Tahun, dan beasiswa bagi orang tua yang tidak mempu menyekolahkan anaknya (Social Demand Approach), adanya sekolah – sekolah berbasis kejuruan (Man Power) dan yang terakhir adalah hadirnya sebagian Institusi swasta yang maju (Investment Effieciency).

Dari teori – teori diatas pula pasti banyak penafsiran – penafsiran lain yang di jawantahkan melauli program – program unggulan yang dibuatkan kebijakan oleh pemerintah selaku penyusun undang – undang dan peraturan lainnya.

Di Kutai kartanegara program ini disebut Gerakan Pembangunan Rakyat Sejahtera (Gerbang Raja) dengan visi dan misi bupati terpilih dipemilu 2010 Rita Widyasari dan pemilu 2015 kemarin terpilih kembali dengan program Gerbang Raja jilid 2.

Gerbang Raja  mempunyai visi yaitu Menuju Terwujudnya “Masyarakat Kutai Kartanegara yang Sejahtera dan Berkeadilan”. Dalam program pendidikan program Gerbang Raja mempunyai uraian – uraian sebagai berikut :
a.      “Satu Guru – Satu Laptop”.
b.      Alokasi Dana Pendidikan 20 % dari APBD.
c.       Insentif bagi guru dan dosen.
d.      Terlaksanannya pemberantasan Buta Aksara Melalui Zona Bebas Buta Aksara (ZBBA).
e.       Terbangunnya Sekolah Unggulan di wilayah pantai dan hulu berbasis karakteristik daerah.
f.       Terbangunnya sekolah bertaraf Internasional.
g.      Terpenuhinya Buku Pelajaran bagi siswa.
h.      Adanya bantuan Pendidikan bagi siswa miskin.
i.       Dikembangkannya Pesantren dan Madrasah Unggulan.
j.       Dibangunnya Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Terpadu (SIMPENDU).
k.      Dikembangkannya Saluran Harapan, Pengaduan aspirasi Pendidikan (SAHADU SIDIK).


Seiring berjalannya waktu program – program ini pun telah berjalan seperti program “satu guru satu laptop” yang mempunyai visi meningkatkan efektifitas kualitas pendidikan agar para pendidik kita tidak gagap akan teknologi dan peserta didik dengan mudah dalam menyerap pelajaran yang dibawakan sesuai dengan fungsi teknologi yaitu memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan.

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Sebanyak 13.098 unit laptop merk HP dengan anggaran  +83 Miliar telah diserah terimakan kepada para guru (Nergeri maupun Swasta) yang ada di Kutai Kartanegara pada tahun 2012 lalu.

Sebenarnya tiada yang salah dari program ini jika dijalankan dengan konsep yang panjang dengan memperhatikan Output dan Outcome nya. Namun disayangkan masih banyak didunia nyata guru – guru yang telah mendapatkan laptop tersebut belum bisa mengoperasikan microsoft office, internet dan program – program lainnya, padahal teknologi ini sangat berguna bagi perkembangan pendidikan dan pada akhirnya laptop tersebut digunakan oleh orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan peruntukannya.

Maaf jika kalimat – kalimat diatas terkesan menyinggung, inilah realita yang harus kita hadapi terutama praktisi pendidikan, sejak dahulu para pengamat pendidikan telah menyampaikan harus adanya keberlanjutan dari program tersebut dengan memberikan pelatihan khusus bagi guru yang mendapatkan laptop agar bisa mengoperasikannya. Namun sayang imbuhan – imbuhan ini tidak didengarkan secara integral, padahal sudah jelas bahwa laptop ini telah mubadzir. Ya bagaikan pedang dan tuannya, pedang bisa melukai tuannya jika tuannya tak mampu untuk mengendalikannya, begitupula alat – alat yang lain.

Jika kita melihat lebih dalam lagi banyak human resouces (SDM) kita baik sarjana, akademisi bahkan anak – anak lulusan SMA/SMK/Sederajat bisa mengajarkan itu. entah regulasinya menggunakan sistem tender ataukah yang lainnya, Saya rasa orang – orang kita bisa bersaing. Sekarang hanyalah keinginan pemerintah untuk mewujudkan itu.

Alokasi dana 20% yang menjadi komitmen pemerintah di sektor pendidikan sebagai perwujudan dari teori social demand approach selayaknya digunakan tepat sasaran dengan mendahulukan program prioritas. Memang pendidikan tidak bisa dinikmati dengan cara yang praktis (1 atau 2 tahun) tapi apakah ada jaminan jika kinerja yang dilakukan pemerintah dan penyelenggara pendidikan saat ini bisa menghasilkan pendidikan yang berkualitas dimasa yang akan datang ?. sementara saat ini saja masih banyak lulusan SMA/SMK/Sederajat bahkan sarjana sekalipun yang masih menganggur dan angka kriminalitas di kukar pun saat ini terus meningkat.

Tidak memungkiri, ada program pemerintah yang bisa berjalan dengan baik seperti beasiswa gerbang raja, insentif untuk guru, dan lain lain. Namun pendidikan jangka panjang juga harus dibuatkan langkah – langkahnya guna adanya ketepat sasaran program dan pengevaluasian kinerja. Intinya bahwa pendidikan haruslah kontinuitas, bukan proyektif semata.


Maka ingatlah Bangsa yang besar bukan dilihat dari Sumber Daya Alamnya melainkan Sumber Daya Manusianya, out from the safe zone.

Thursday, October 27, 2016

BUAT TERUNA DARA KUTAI KARTANEGARA 2016


Teruna dan Dara atau dalam Bahasa Indonesianya adalah putra dan putri dalam hal ini di  Kutai Kartanegara adalah corong pengetahuan bagi masyarakat dunia tentang keindahan pesona bumi Kutai (Heart of Kalimantan).

Ajang audisi putra dan putri terbaik ini telah banyak melahirkan alumnus – alumnus yang tampan – tampan dan cantik – cantik dengan kualifikasi kecerdasan di atas rata – rata bahkan para finalis ini telah banyak mengikuti pelatihan – pelatihan dan kegiatan – kegiatan sosial guna menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai syarat untuk menyandang sebagai finalis.

Sebagai sesama dengsanak (saudara) yang hidup serumpun dalam tulisan ini saya akan menambahkan beberapa informasi  dari segi ekonomi dan keberlanjutan pariwisata kita di  kabupaten kaya dan berbudaya ini.

Seperti dalam tulisan – tulisan sebelumnya, berbicara tentang ekonomi adalah berbicara tentang pondasi Pendapatan Daerah kita karena, pokok bahasan ini adalah bagian integral dari perkembangan berbagai sektor dan berpengaruh pada sektor lainnya termasuk pariwisata. Oleh karenanya saya rasa penting bagi saudara untuk mengetahuinya.

Seperti yang anda ketahui bahwa Pondasi Ekonomi kita di Kutai Kartanegara saat ini tertumpu pada hasil minerba (mineral dan batu bara) yang dengan hasil tersebut Daerah kita mendapatkan fee dari perusahaan yang beroperasi dan dengan aturan perundang – undangan yang berlaku dengan Pemerintah Pusat yang secara sederhana disebut dengan Dana Bagi Hasil (DBH).

Tahun 2014 adalah puncak tertinggi dari APBD kita yaitu mencapai 9 T dan dari segi ketenaga kerjaan kita pada posisi yang optimal. Seiring berjalannya waktu semua berubah setelah negara api menyerang (maksudnya Harga Minyak dan Batubara Turun). Dampaknya adalah banyak karyawan dirumahkah dan berhematnya PNS serta para kontraktor karena penurunan Anggaran Daerah atau bahasa yang lagi tren-nya “Defisit).

Dengan adanya gejolak yang mendebarkan ini. Maka para karyawan,PNS dan kontraktor akan berfikir keras untuk memenuhi kebutuhan primer atau mencari cara agar tidak tergantung lagi dengan pendapatan seperti biasanya sehingga hal ini bedampak pada sektor pariwisata.Logika sederhananya, jika untuk memenuhi kebutuhan primer sudah menjadi sesuatu yang sulit, apalagi dengan kebutuhan skunder bahkan tersier dalam hal ini pariwisata bukanlah katagori kebutuhan primer.  Artinya dari sektor pariwisata juga mengalami penurunan pengunjung yang mayoritas dari wisatawan lokal.

Lalu bagaimana dengan orientasi dari ajang yang saudara ikuti ?

Saya secara pribadi memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara Teruna dan Dara Kutai Kartanegara tahun 2016 bisa menyelenggarakan kegiatan dengan maksimal ditengah himpitan ekonomi atau defisitnya anggaran pemerintah. Konsistensi ini haruslah terus digalakkan karena berkesenian, berbudaya dan berkreatifitas adalah fitrah manusia yang tidak pernah akan mati.

Selanjutnya saya ucapkan selamat kepada Teruna Ardi Maroni dan Dara Niluh Nyoman Mera T.R  karena telah menajadi Idola baru pilihan pemirsa di Kutai kartanegara serta menjadi duta atau perwakilan Daerah dalam bidang kepariwisataan. Harapan saya dengan semangat muda saudara dan saudari sekalian bisa membawa perubahan yang lebih maksimal bagi peningkatan kepariwisataan di  odah yang etam cintai ini.

Kepada seluruh elementasi penyelenggara baik peserta, panitia dan dewan juri seberataan,Sekarang saatnya kita sedikit menggeser paradigma berfikir kita yang tadinya bergantung menjadi yang “digantungi”. Maksudnya adalah jika saat ini kita masih tergantung pada APBD, maka kedepan dengan perlahan kita berusaha menghidupi APBD dengan mengolah tempat wisata kita menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Saya yakin dan percaya banyak diantara kita pesimis untuk menjadikan budaya dan wisata sebagai ujung tombak dalam peningkatan Pendapatan Daerah, namun jika hal itu adalah passion anda maka berfikirlah yang terbaik walau mentalitas sebagian besar dari kita atau sistem kita sudah terbiasa dengan hanya menerima dorongan dari pemerintah.

Sebenarnya banyak sektor dan potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan Pendapatan tim Pengelola Pariwisa yang berefek kepada peningkatan pendapatan Daerah diantaranya adalah dengan menggandeng pihak ketiga untuk menjadi sponsor.

Tentunya perusahaan swasta membutuhkan pencitraan dan juga ketepatan untuk memberikan CSR (Corporate Social Resposibility) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan kepada masyarakat. Kebutuhan dan ketepatan ini tentunya mempunyai indikator – indikator diantaranya basis massa besar, fasilitas yang memupuni dan optimalisasi destinasi yang ramai dikunjungi. Dan semua itu sudah anda miliki, tinggal bgaimana mengolahnya.

Kepada pemerintah daerah agar bisa mendorong kebijakan dengan memberikan peran kepada anak muda dalam kreasinya membangun kepariwisataan di Kutai Kartanegara. karena banyak hal – hal belakangan ini dikerjakan oleh yang bukan ahlinya atau hanya kepada kepentingan sesaat dengan tidak mengedepankan orientasi dari pekerjaan tersebut serta kurang terorganisirnya organisme kerja dilapangan. dan penting juga dilakukan pemerintah adalah selalu memback up dalam bentuk kekuatan pengaruh agar mempermudahkan bagi anak muda tersebut untuk mencari sumber penghasilan untuk daerah ini.


Demikian dari saya, mohon maaf jika tulisan ini membebankan saudara dan saudari semua, bahwa semakin kita mempunyai kekuatan yang besar maka semakin tinggi beban yang kita tanggung.

Sunday, October 16, 2016

Surat Cinta Buat Aparat Keamanan

Salam Hormat...

Sebelum memulai menuliskan buah fikir dan perasaan ini saya terlebih dahulu menyampaikan penghormatan yang sedalam – dalamnya kepada para kesatria pelindung rakyat dan penegak kesaktian Pancasila yaitu Aparat Keamanan baik itu Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, Satuan Polisi Pamong Praja dan segenap pejuang dalam istilah lainnya yang dimana pada saat ini masih  survive menjaga stabilitas kehidupan Barbangsa dan Bernegara.

Dalam beberapa tahun belakangan ini Negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia mengalami berbagai macam “serangan” yang mungkin disebagian besar masyarakat kita masih awam memandangnya. Di Era Kemerdekaan para leluhur kita terbiasa dengan serangan fisik yang dilakukan oleh para kolonial untuk mengambil Sumber Daya Alam kita berupa rempah – rempah, di orde baru serangan tersebut mulai berevolusi dengan ketergantungan Bangsa kita terhadap suasembada pangan dengan konsep revolusi hijau yang pada ending nya menyusahkan kita untuk mengontrol pengadaan pupuk sehingga harus impor dengan perusahaan kapital dunia, belum lagi tentang mudahnya perizinan tambang emas di Papua, minyak di sumatra, di kalimantan dan daerah lain. Selain itu pada massa orde baru pun tidak terlepas dari konflik sesama anak bangsa “civil war” antara masyarakat dengan masyarakat dan masyarakat dengan aparat keamanan yang tidak sedikit jiwa yang menjadi korban.

Bapak dan ibu yang terhormat, sekarang zaman telah berubah, reformasi sudah meledak di tahun 1998 akibat krisis dan arogansi kepemerintahan serta telah meninggalkan catatan hitam akan hilangnya para aktivis dan tumpahnya darah secara masal di bumi Indonesia ini.

Dari berbagai perubahan zaman  ke zaman yang telah dipaparkn diatas lagi – lagi ada sebuah kebimbngan atau kedelematisan bagi aparat keamanan. Di satu sisi mereka menjaga ketertiban atas perintah pimpinan, di sisi lain mereka juga bagian yang tidak bisa terpisahkan dari masyarakat.

Bapak dan ibu.....
Serangan – serangan (Invasi)  yang bisa kita terjemahkan di abad ke 21 ini sebenarnya sama dengan abad – abad sebelumnya, yaitu ke Arogansikan (pujungan) Negara – negara materialis yang rakus akan kekuasaan dengan menciptakan berbagai dinemika baru untuk mengisap negara – negara lainnya dengan modus yang berbeda. Baik, serangan kekinian yang tanpa kita sadari adalah sebagai berikut :

1. Culture War (Serangan Budaya)

James Petras, seorang dosen dan sosiolog dan kritikus pemerintah AS, yang tinggal di New York, mendefinisikan imperialisme kebudayaan sebagai berikut, "Imperialisme kebudayaan berarti campur tangan secara terprogram dan kekuasaan kebudayaan pihak penguasa Barat atas rakyat, dengan tujuan menyusun kembali nilai-nilai, perilaku, lembaga-lembaga dan identitas rakyat yang telah dieksploitasi, dalam rangka menyelaraskannya dengan interes para imperialis.

Budaya dalam hal ini budaya Indonesia bukan hanya tertumpu pada nilai kesenian yang ada berupa tari, teater, musik dan seni rupa saja melainkan adab, tata krama atau etika dalam kehidupan sehari – hari masyarakatnya. Ketahanan budaya sadar atau tidak disadari sangat rentan lumpuh dengan kerasnya arus globalisasi yang ditawarkan oleh Imprealis yaitu Amerika dan Isreael (zionis) .

Ujung tombak serangan di era globalisasi ini adalah hadirnya revolusi industri dan teknologi dengan penguatan media masa sebagai marketnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini sangat dibutuhkan masyarakat dunia karena tujuan diciptakannya teknologi adalah sebagai alat mempermudah manusia dalam melaksanakan aktifitasnya. Saya yakin dan percaya para penemu sosmed, camera, Hp, tv dan lain – lain mempunyai niat yang mulia bagi kehidupan manusia. Namun yang disayangkan adalah ketika buah karya yang revolusioner ini jatuh ketangan orang – orang jahat.

Bapak ibu yang saya cintai, kita kembali kekonteks bagaimana media menjadi ujung tombak dari timbulnya serangan budaya ini adalah dengan banyaknya tayangan – tayangan yang menjejalkan tentang buruknya cara berpakaian dengan mengatas namakan seni (keindahan), sinetron atau drama yang tidak mendidik, guyonan yang berlebihan, film – film barat yang banyak menayangkan kebebasan sebebas bebasnya, bahkan promosi hubungan antar sesama jenis, dimana tanpa kita perhatikan anak – anak muda kita sangat gemar mengkonsumsi aktifitas ini.

Ini semua tidak mungkin berjalan jika tanpa ada sponsor, hal ini tidak akan berjalan dengan sendirinya pasti ada by design dibaliknya. Kita bisa lihat dengan industri informasi dan telekomunikasi bagaimana mereka membentuk pola berfikir masyarakat agar menyetujui pola fikir mereka dengan penggiringan alam dibawah sadar kita melalui tayangan – tayangan tersebut diatas.

Alasan saya memaparkan tematik mengenai culture war ini adalah agar – bapak ibu yang terhormat bisa mengambil langkah pencegahan sebelum terjadinya hal – hal yang bersifat fatal yang menimbulkan gejolak di masyarakat kita dengan hilangnya rasa nasionalisme atau hilangnya identitas anak bangsa sehingga timbulnya budaya hedonis dan ketika makhluk hedonis yang menjadi pemimpin bangsa maka yakin dan percayalah mereka akan mengambil keputusan/langkah yang pragmatis yang mengakibatkan mayoritasnya koruptor di Negeri ini.

2. Narkoba dan Korupsi

Bapak dan Ibu penjaga keselamatan Generasi Bangsa, jika saat ini masih ada aparat keamanan yang masih menikmati uang haram dari Narkoba dan Korupsi maka percayalah bangsa ini tidak akan pernah maju. Karena bagaimana mungkin kita membersihkan diri dengan air lumpur ? artinya pemberantasan Narkoba dan Korupsi haruslah dimulai dari pihak pemberantas itu sendiri, Namun sayangnya sistem kepangkatan dan nepotisme kemapiaan sudah mengakar ditubuh institusi ini. Satu – satunya cara bagi institusi keamanan adalah “tega” untuk memotong kangker yang menjadi parasit ini dan bagi aparat keamanan yang saat ini terlibat dalam kejahatan ini seyogyanya sadar serta berani untuk bertanggungjawab dengan menyerahkan diri, jadilah kesatria..!!!

3. Radikalisme

Bapak dan Ibu penjaga kedamaian Bangsa kami sangat mengetahui tugas anda sangatlah berat....
Seperti yang anda ketahui bahwa ada sebuah by design yang dibuat oleh kelompok Imprealis dalam hal ini Zionist untuk menyerang kerukunan Bangsa kita dengan membuat sebuah faham yang ditransfer dari timur tengah  yaitu faham radikal (Radikalisme). Faham radikal ini mempunyai ciri khas mengkafirkan kelompok  yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Gerakan – gerakan ini sama dengan tayangan ditimur tengah dengan membawa isu Sara yang nantinya akan berlanjut pada cheos (kacau) nya sebuah Negara. Dalam kondisi tertentu Umat kita walaupun mayoritas BerAgama namun mayoritas minim pemahaman Agamanya, karena kurangnya literatur inilah kadang mudah untuk dipropokasi dengan mengataskan kesucian agama sehingga ketika seseorang emosional maka apapun yang dilakukannya akan membabi buta.

Bapak ibu yang termulia.....

Lihatlah sekarang isue – isue tentang pimpinan daerah non muslim yang dulunya adem ayem saja namun sekarang jadi problem yang sangat tajam. Isue – isue kemazhaban yang diangkat dari suriah antara kelompok sunni dan syiah (yang sebenarnya tidak ada persoalan) padahal murni kepentingan pipanisasi minyak. Persoalan kenyamanan beribadah yang semula baik – baik saja namun sekarang heboh dengan hadirnya kelompok “suci” pembela Agama Tuhan yang akan membubarkan kegiatan beribadah kelompok lain. Padahal, Tuhan tidak perlu dibela oleh mereka, bahkan atanpa adanya merekapun Agama Tuhan akan baik – baik saja. Coba lihatlah kegaduhan yang mereka buat atas nama perdamaian sama kan seperti kelakuan zionis yang menajajah palestina dengan mengatasnamakan perdamaian???

Mohon maaf yang sebesar – besarnya kepada bapak dan ibu aparatur keamanan. Beberapa tahun belakangan ini dalam pengamatan saya diinternal keamanan ada prilaku untuk membesar – besarkan persoalan yang sesungguhnya itu kecil demi pencitraan institusi dan tuntutan kegiatan yang memakan anggaran yang tinggi.

Sekali lagi saya sampaikan bahwa jangan salahkan oknum yang telah menjadi mayoritas dan mengakar di institusi pengan menjadi alasan untuk ber apology atau dijadikan kambing hitam melainkan dengan berani memotong budaya politisasi kasus dan cara berfikir untuk memulihkan nama baik. Yakin dan percaya jika saudara hadir ditengah masyarakat dengan sebenar – benarnya hadir maka institusi anda akan baik dengan sendirinya tanpa harus ada racikan – racikan media yang justru terlihat lebay.

Pekerjaan menjadi aparat keamanan yang berat dan membutuhkan mentalitas atau kesabaran yang tinggi disisi lain sebagai bawahan harus menerima perintah dengan saklek, tidak perlu tau perintah itu benar atau salah, sebagai pimpinan pula kadang memikirkan tambahan lebih untuk menambah biaya hidup anggota – anggotanya sehingga menghalalkan segala cara untuk solidaritas ini. Apapun itu bapak – bapak dan ibu – ibu sekalian itulah pekerjaan, pekerjaan ini akan menjadi baik jika dilakukan dengan cara yangterhormat dan penuh kesadaran, sebaliknya akan merugikan jika tertipu dengan hal yang sementara untuk memenuhi kebutuhan hedonis saja atau dengan sendirinya dinilai sebagai orang yang hina.

Andai pekerjaan ini memang berat untuk dikerjakan maka lebih baik menanggalkan seragam kbesaran bangsa ini dan jadilah masyarakat biasa.

Orang – orang bijak mengatakan “tiada cinta sejati tanpa nasihat”.

Inilah kalimat penutup surat ini, semoga bermanfaat.......


Salam hormat ....

Wednesday, October 12, 2016

Arah Pembangunan Kutai Kartanegara


Masa yang silam Kutai Kartanegara yang menyandang kerajaan tertua dan kabupaten terkaya terkenal dengan kemakmuran rakyatnya yang bermata pencaharian sebagai petani, seiring berkembangnya zaman saat industri dan teknologi mulan merangkak naik di kutai kartanegara ada peralihan mata pencaharian terutama di sektor perkayuan dengan kayu andalan kutai yaitu kayu ulin, di iringi dengan tanaman industri lainnya. Semua berubah lebih pesat ketika perusaaan Tambang mulai beroperasi dan menjadi tumpuan ekonomi masyarakat sehingga freme yang terbangun jika tidak kerja ditambang maka tidak mendapatkan gaji yang mencukupi untuk pembiayaan kehidupan masyarakat diantaranya pendidikan (sekolah), kesehatan, kebutuhan primer dan lain – lain.

Transformasi ini telah terjadi dan tidak ada kuasa bagi kita untuk merubah sejarah dan kembali ke masa lalu, namun berfikir dan menuangkan ide sangat dibutuhkan dengan kondisi seperti ini. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa akhir – akhir ini telah terjadi kemunduran produksi dengan meningginya harga batu bara dan minyak (energi) di kutai kartanegara sehingga berpengaruh kepada proses pemutihan (PHK) dengan jumlah yang fantastis yaitu + 1.500 Karyawan, turunnya Dana Bagi Hasil (DBH) antara pusat dan Daerah dengan itu turun pula lah APBD Kutai Kartanegara yang dulunya sempat mencapai angka 9 T dan kini pada tahun 2016 di APBD-Perubahan diprediksi hanya sebesar 4 T. Terjun tiruk nya APBD membuat pemerintah kabupaten Kutai Kartanegara mulai berfikir keras dengan cara rasionalisasi anggaran dan struktural organisasi kepemerintahan, bahkan opini yang beredar dengan penghapusan TPP bagi PNS.

Dibalik perkara itu semua bagaimana dengan keberlanjutan daerah ini di masa yang akan datang..?
Menganalisa pandangan untuk yang akan datang adalah sesuatu yang lumrah dan sah – sah saja, hadirnya pertanyaan yang mengarah kepada sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang bukan berarti kita menjadi peramal atau dukun. Bahwa para pendahulu telah membuktikan karya – karya ratusan tahun yang lalu dan sampai sekarang kita bisa menikmati dan melihatnya seperti candi – candi di Indonesia, Tembok cinda, Piramida di Mesir dan masih banyak warisan – warisal infrastruktur lainnya.

Langkah pertama yang menjadi landasan kita dalam menganalisa hal tersebut adalah dengan melihat kenyataan yang sebenar – benaranya terjadi di daerah yang kita cintai ini.
1.      Kondisi infrastruktur
2.      Kondisi Perekonomian dan Pasar
3.      Kondisi Pendidikan
4.      Kondisi Pariwisata
5.      Kondisi Pertanian
6.      Kondisi Hukum dan Keadilan
7.      Dll
Dari beberapa point diatas secara umum jika kita mempertanyakan pada khalayak ramai dalam hal ini masyarakat Kutai Kartanegara maka saya yakin bahwa banyak pembangunan – pembangunan yang kurang bahkan tidak memuaskan dalam anggapan mereka.
Hal ini akan selalu menjadi pertentangan – pertentangan yang sering disebut dengan proses dialektika antara pandangan versi pemerintah dan apa yang disarakan masyarakat dalam versi mereka. Oleh karenanya ada satu hal yang menjadi tolak ukur yang selalu dan harus menjadi pegangan antara keduanya yaitu adalah standard Ilmiah.  Standard ilmiah yang dimaksud adalah independensi riset atau penelitian yang tidak bergantung pada salah satu kepentingan.

Sesungguhnya ketersusunan atau sistematika dalam pelaksanaan pembangunan tentunya tidaklah harus menggunakan perasaan ataupun kehendak sesaat yang membuat kacau dan tumpang tindih serta turunnya kualitas pembangunan kearah yang sia –sia (mubadzir).

Puji Tuhan, Dengan defisitnya anggaran kali ini mempunyai dampak positif bagi kita semua terutama kepada pemerintah yaitu adalah berfikir. Dimana nikmat berfikirlah yang mampu membedakan antara manusia dan binatang, nikmat berfikir inilah yang mampu merubah keadaan yang bisa menjadi bermakna, dengan nikmat berfikir menjadikan defisit anggaran bagi Kabupaten yang masyarakatnya cukup dominan bekerja sebagai PNS mulai beralih dan melahirkan pengusaha – pengusaha baru untuk meramaikan pembangunan ekonomi menengah – kebawah dan bisa jadi mengembangkan perekonomian yang lebih besar.

Maka dimomentum defisit ini baik itu akademisi, petani, nelayan, mahasiswa, pedagang, pengusaha dan seluruh masyarakat Kutai Kartanegara agar bergotong royong dalam rangka bangkit dari posisi status quo (berjalan ditempat) menuju posisi kejayaan sesuai dengan profesi dan keahliannya masing – Masing tanpa berharap  dari Anggaran pemerintah. Perlahan mari kita kemblikan freme berfikir para leluhur kita untuk mandiri dan berkonstribusi bagi bangsa khususnya daerah yang kita cintai ini.

Ayo maju... maju...
Ayo maju.... maju...
Ayo maju... maju...

Thursday, September 22, 2016

Anti Christ (Dajjal)


Sebelum membahas panjang lebar mengenai tematik diatas maka marilah kita sama – sama menyimak definisinya :

Antikristus adalah pemimpin yang dinubuatkan Alkitab yang akan menjadi musuh Kristus, yang akan menyesatkan banyak orang. Dalam eskatologi Islam, Antikristus adalah Dajjal, karena diramalkan oleh Muhammad bahwa Dajjal akan bertarung dengan Isa (Yesus Kristus), dan kata "anti" memiliki arti "melawan", Kata "antikristus" berasal dari bahasa asli Yunani Koine "ἀντίχριστος" antikristos. Dimana kata tersebut terdiri dari dua akar kata αντί + Χριστός (anti + Kristos). "αντί" (anti) berarti mengganti, melawan atau mengambil tempat orang lain, dan "Χριστός" (Kristos) berarti Kristus, yang dalam bahasa Yunani sama dengan "Mesias" yang berarti "yang diurapi", dan mengacu kepada Yesus dari Nazaret dalam teologi Kristen. Jadi antikristus berarti melawan, mengganti, atau mengambil tempat Kristus. Bisa juga berarti Kristus palsu atau Kristus gadungan.

Konsep ke Tuhanan pada hakikatnya adalah menyembah Yang Maha Esa walaupun pada praktiknya ada yang menggunakan konsep politeisme, pastilah ada pemimpin dari Tuhan/Dewa yang paling utama yang mempunyai hak veto untuk menentukan hukum – hukum dunia dan alam semesta. Apapun dan bagaimanapun konsep tersebut adalah sebuah keyakinan yang menjadi fitrah manusia, dimana keyakinan tidak bisa dipaksakan, maka Tuhan telah menyediakan bahasa yang Universal yang bisa diterima khalayak ramai.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat dunia memeluk keyakinan (Agama) Kristen dan Islam. Maka untuk memahami anti christ atau dajjal tentunya kita melakukan pendekatan keagamaan (Kristen dan Islam) dalam hal ini riwayat – riwayat yang meramalkan kondisi akhir zaman.
Bagi sebagian besar kaum atau pemeluk agama yang jarang sekali mempelajari ilmu keagamaan pasti bingung untuk menafsirkan persoalan masa lalu yang akan terjadi dizaman yang akan datang yaitu tentang kebenaran ada atau tidaknya sang anti christ/Dajjal.

Menjelaskan ramalan yang akan terjadi dimasa yang akan datang perlu penalaran yang tinggi dan pengetahuan yang luas serta dengan penuh kehati – hatian. Bukti – bukti yang muncul adalah sebagian dari redaksi ramalan tersebut tanpa menerangkan secara jelas obyek yang dibahas sehingga bias. Ujung dari perkara ini adalah menyerahkan kepada individu masing – masing atau sesuai dengan keyakinan individu/kelompok.

Jika saat ini kita berada di akhir zaman maka sudah tentu kita mengantisipasinya dengan memperkokoh keimanan kita tentang utusan Tuhan dan musuh Tuhan yang didalam beberapa riwayat yang mengatakan akan munculnya berbagai fitnah dengan memutar balikkan fakta, menawarkan surga padahal menggenggam neraka dan menutupi surga dengan mengumbar neraka.

Mungkin disebagian besar umat manusia terobsesi dengan simbol – simbol (mata satu) yang menunjukkan hadirnya sang anti christ dalam bentuk manusia, berjalan atau merangkak. Namun banyak dari kita melupakan missinya yaitu sebagai penebar fitnah. Bahwa dajjal menginginkan manusia tergelincir dalam lembah perlawanan terhadap hukum – hukum Tuhan.

Untuk menangkal kejahatan – kejahatan yang terbungkus rapi seolah – olah seperti kebenaran bukan dengan cara benci terhadap minion atau kartun – kartun yang bermata satu lainnya, melainkan memperbaiki cara berfikir kita dan memposisikan diri kita pada sesuatu yang berlawanan dari nilai kejahatan yaitu adalah Nilai – Nilai Kebenaran. Fitnah – fitnah yang terjadi di antar Agama dan kelompok yang membuat Agama atau kelompok tersebut terpecah belah adalah “permainan’ dari dajjal.

Memperbaiki cara berfikir sebagai jalan perlawanan kepada dajjal (setan besar) adalah dengan melihat realitas atau kebenaran yang terjadi dilapangan bukan berdasarkan opini – opini yang propokatif tanpa didasar dengan bukti yang kongkrit. Banyak diantara kita ketika dihembuskan suatu informasi yang didalamnya ada muatan kesukuan dan keagamaan maka secara spontan ingin membela dan menjadi pahlawan tanpa melihat aspek – aspek kebenarannya.

Hal lain yang perlu kita lakukan dalam mengantisipasi diri dari jebakan dajjal adalah dengan memperkaya pengetahuan kita atau belajar dari sumber – sumber yang terpercaya seperti membaca buku dan membaca buku pun jangan hanya dari satu sember saja melainkan dari banyak sumber agar tidak memandang sebelah mata persoalan yang ingin di kaji. Karena salah satu ciri dari dajjal adalah mata satu yang artinya memandang sebelah mata perkara tertentu.

Selanjutnya berhubungan baik dengan manusia tanpa melihat dari perbedaan kulit, suku, dan Agama melainkan melihat mereka dari yang menciptakannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa segala perbedaan yang terjadi adalah hak Tuhan dan kita sebagai manusia tidak berhak untuk menjadikan orang tersebut sama seperti kita.

Ingat, apapun yang kita lakukan dengan nuansa emosional pasti akan membawa bencana dan hal ini menjadi peluang besar bagi dajjal untuk mempermainkan kita, orang yang mempunyai emosi yang tinggi akan menghilangkan kesadarannya dan dengan kehilangan kesadaran tersebut dajjal masuk kedalam diri kita selayaknya orang kesurupan.

Jangan berfikir bahwa dajjal nantinya akan datang tapi sadarilah dajjal saat ini ada di dalam diri kita dan disekeliling kita .


waspadalah .... waspadalah.....