Thursday, March 9, 2017

Hamba Yang Merdeka

Pandangan kali ini pastinya akan membicarakan manusia dimana setiap manusia pasti mmpunyai berbagai keterikatan antara satu dengan yang lainnya, lebih dalamnya lagi adalah keterikatan antara manusia dengan sang pencipta. Manusia diperhadapkan pada pilihan – pilihan yang diamana dengan akalnya manusia diberikan kebebasan melakukan apa yang menjadi keinginannya.

Dalam perjalanan sejarah manusia jika kita memperhatikan dengan seksama maka kita akan banyak menemukan gaya hidup manusia hingga kita pernah mendengar sebuah sistm yang disebut sistem perbudakan dimana manusia yang mempunyai kekuatan dan harta yang banyak bisa memiliki atau membeli manusia sebagai pelayannya. Sistem perbudakan sangat mengeksploitasi manusia/budak sebagai buruh yang tak bergaji, asisten rumah tangga yang tak mendapatkan imbalan, seorang budak pada waktu itu tak mmpunyai harapan dan cita – cita untuk membangun kehidupan karena wajib mengabdikan dirinya kepada Tuannya. Kemerdekaan bagi budak adalah sesuatu hal yang langka, mereka  ditempatkan pada kelas terbawah kehidupan manusia

Dalam lingkup lain sejarah manusia terutapa pada abad ke- 18 dan 19 setelah perang dunia ke II terdapat Negara – negara arogan yang menganggap suatu kelompok, suku atau bangsa adalah sebagai budak dan mereka menjajahnya, dengan powerfull yang dimiliki mereka memerintah masyarakat lemah untuk bekerja demi mengenyangkan perut dan melayani kelompok mereka, mereka yang congkak dengan identitas sebagai kolonial menindas kaum lemah yang hidup damai di Negaranya, mereka memperlakukan manusia tidak lagi sebagi manusia melaikan seperti indukan sapi yang diperas susunya, kuda yang ditunggangi dan seperti kerbau yang menggarap tanah di sawah.

Penjajahan adalah sejarah kelam bagi setiap kehidupan manusia dari era ke era, disanalah kita mulai dan harus mengingat unsur – unsur atau alasan – alasan dari keterjajahan sehingga lahirnya kedzholiman secara sistematis. Penjajahan hadir selain karena adanya penjajah dan yang dijajah juga dikarnakan masifnya mentalitas manja dan penakut dari segenap masyarakat yang menjual dirinya atas nama bangsanya/kelompoknya, mereka seolah – olah kuat dikomunitasnya namun rapuh ketika berhadapan dengan kelompok yang diluar komunitasnya, orang – orang mengistilahkan dengan sebutan “jago kandang”. Salah satu alasan lain yang sangat berpengaruh dibalik terjajahnya suatu kaum adalah Lemahnya SDM kaum tersebut, ketertutupan dengan dunia luar membuat mereka tidak mengerti kekuatan kaum arogan sehingga mereka syok ketika tiba – tiba penjajah datang dan merampas haknya.
Bagaimana kita saat ini ?

Saya tidak menakwilkan kemerdekaan dengan pondasi kebebasan dengan sebebas – bebasnya karena sudah jelas kebebasan seperti itu utopis  dan tanpa arah yang kongkrit, kebebasan seperti itu seperti bebasnya binatang buas yang telah terlepas dari kandangnya dan siap menerkam kebebasan orang yang lemah. Kemerdekaan yang dimaksud disini adalah kemerdekan yang tersusun dan tersistem secara rapi dngan memahami aturan – aturan dari prinsip – prinsip kebenaran universal dengan memperhatikan hak diri dan orang lain untuk hidup dalam keselarasan, Namun, diatas perinsip – prinsip itu adalah prinsip kebenaran dalam garis ke Tuhanan.

Bagi kita yang telah terjerembab dan tak menyadari posisi kita antara merdeka atau tidak, maka ada beberapa langkah yang bisa dipetik

Pertama, Berfikir.
Untuk memulai sebuah kemerdekaan yang masif didalam diri dan lingkungan maka yang harus diaplikasikan terlebih dahulu adalah kemerdekaan berfikir, karena dengan merdekanya fikiran kita dan lepasnya kita dari ketergantungan secara otomatis membuat hadirnya jiwa/diri kita dalam bersikap terhadap fenomena – fenomena yang ada. Banyak cara yang bisa kita jadikan pegangan dalam mewujudkan kemerdekaan berfikir ini diantaranya dengan melakukan berbagai aktifitas belajar, dimulai dari menyadari akan berbagai kelemahan kita yang membuat kita tergantung, selalu membuka wawasan terhadap persoalan – persoalan baru dan berusaha untuk mencarikan solusinya, melepaskan cara berfikir materialis karena kita semua telah mengetahui sifat dari materi yang selalu berubah – ubah, tidak konsisten dan tentunya akan menjatuhkan nilai dari akal kita.

Sederhananya kemerdekaan berfikir yang dimaksud adalah mempunyai pandangan tersediri yang bukan hanya bersifat egoisme belaka dan jika ada kesamaan dengan pendapat orang lain maka dengan sedirinya kemerdekan ini melebur diranah yang lebih univresal.

Kedua, Kehormatan.
Menjaga kehormatan berbeda dari egoisme yang tak berdasar, bereda jauh antara orang yang mencari nafkah dengan bekerja sesuai untuk memenuhi kehidupan orang yang ditanggungnya dengan orang yang rela tak melakukan apa – apa karena hanya urusan tidak mau untuk menjadi bawahan, sangat siginifikan bedanya antara orang yang menuntut haknya karena telah melaksanakan kewajiban dengan orang yang mengemis banyak hak dengan meninggalkan tanggungjawab yang diembannya.
Modal terbesar yang dimiliki manusia adalah kehormatannya tanpa itu maka manusia akan kehilangan kualitas kemanusiaanya. Siapapun didunia ini tidak menginginkan kehormatannya di injak – injak karena hal itu sudah menjadi fitrah manusia. Namun sayangnya banyak sekali diantara kita menggadaikan kehormatan demi mengejar omong kosong duniawi, atas nama globalisasi mengubah pandangannya untuk menjadi hedonis, modern, kekinian dan bermewah – mewahan sehingga untuk memenuhi kebutuhan itu dia mengemis melakukan pinjaman bahkan menghalalkan segala baik dengan berbohong, korupsi dan lain sebagainya.

Terjerembab dalam lobang kehinaan adalah aib bersejarah yang dimiliki manusia dimana orang – orang yang ada disekelilingnya akan melakukan sebah penilaian yng diskriminatif bahkan orang setelahnya akan mengingat apa yang ia kerjakan. Kelamnya perbuatan ini akan berpengaruh pada psikologi orang terdekat kita terhadap kita dan orang lain. maka cara yang tepat untuk menghilangkan noda hitam ini adalah dengan tidak mengulaingnya dan terus melakukan perbuatan baik sebagaimana kata – kata bijak “perbuatan baik, menghilangkan perbuatan buruk”.

Ketiga, Revolusioner
Belajar dari para pendahulu di setiap negara atau bangsa yang namanya hingga kini terus dikenang, dimana orang – orang menyebut mereka sebagai revolusioner. Mereka melakukan sebuah perubahan yang sangat berefek besar bagi kehidupan manusia dengan melakukan perlawanan ditengah keterjajahan yang dialaminya, ketika orang – orang sudah berputus asa dari harapan dan cita – cita, mereka terus bangkit walau nyawa sebagai taruhannya, ketika mayoritas  manusia sudah bertekuk lutut tanpa daya dan upaya maka mereka meyakini kemenangan akan tiba. Inilah sebuah paradigma revolusioner yang dibangun.

Di kala ini banyak sekali orang – orang latah mengungkapkan kata revolusi dalam kehidupan sehri -  hari dan tidak sedikit orang yang meremehkan dengan menjadikan kata revolusi hanyalah sebagai wacana. Revolusi dipandangan mereka hanyalah kata – kata kuno yang tak pantas diungkapkan serta didengarkan di era modern  ini, revolusi menjadi asing didalam sanubari para generasi penikmat kemerdekaan.

Revolusi adalah perubahan secara total dalam suatu bangsa untuk merdeka dari belenggu kaum tiran dan buah dari bangkitnya kaum tertidas yang dimana perubahan yang saat ini kita dapatkan belumlah secara total karena masih banyak tangan – tangan penjahan yang mencengkram bangsa kita dan bangsa – bangsa lainnya. Maka bisa kita simpulkan bahwa revolusi belum selesai !

Perubahan medan pertempuran melawan kaum arogansi dunia kadang membuat kita mengabaikan langkah untuk melawan dengan selalu berada di zona aman, berleha – leha dalam bertindak sehingga cahaya revolusi kian meredup didalam diri kita. Serangan – serangan ini mulai terasa ketika orang – orang mulai tersadarkan tentang berubahnya moralitas generasi kekinian dengan sangat pesat, lancangnya anak muda kepada orang tua, maraknya perbuatan zina, mengguritanya jejaring narkoba, kotornya tingkah laku para penguasa, dan hilangnya rasa cinta anak bangsa kepada negaranya. Serangan ini bertubi –tubi terus digencarkan namun tak semua dari kita melawan bahkan dengan suka cita menikmatinya. Penyerangan senyap ini memabukkan dan mematikan logika kita sehingga kita terperdaya dengan khayalan – khayalan manja, sebagian besar dari kita telah terperangkap dan enggan untuk keluar dari penjara kesenangan dunia yang imitasi ini.

Kobaran api revolusi dikalangan pemuda dan segenap elementasi anak bangsa haruslah terus menyala, bersinar dalam ruang hampa yang gelap gulita menjadi bercahaya, sebab soft war masih terus berjalan dan hanya spirit ini yang bisa mengalahkannya, api ini akan terus menghantarkan kehangatan bagi orang – orang disekitarnya, penyadaran – demi penyadaran niscaya akan bermunculan ketika cahaya sang fajar revolusi telah membias untuk semua. Tentunya hal ini tidak akan terwujud jika kita hanya berdiam diri dan tidak melakukan daya dan upaya untuk mencapainya dengan seksama, menunggu orang lain adalah tidakan yang  terbelakang dan primitif, walau sangat diperlukan hadirnya para penyambut obor revolusi ini.
Yang tak kalah penting dalam pembahasan ini adalah penjawantahan revolusi dalam kehidupan sehari – hari dimana sebagai penulis catatan kecil ini, saya memberikan kebebasan para pembaca untuk menafsirkan sendiri  sesuai dengan kemampuan dan bidangnya yang pastinya konsep revolusi tidaklah “one man show”.

Menajadi hamba yang merdeka tidaklah mudah karena pasti banyak mengalami rintangan – rintangan dan cobaan – cobaan terutama perlawanan tehadap diri sendiri, karena musuh terbesar  manusia adalah dirinya sendiri. Ketika dia telah mampu mengontrol dirinya yang liar maka dengan mudah ia untuk mengatur urusan – urusan yang ada diluarnya. Dan tentunya dengan pengenalan dia terhadap dirinya maka dia akan banyak tahu banyak hal,dia akan mengetahui manusia – manusia yang selaras dengan tidakannya bahkan lebih utama dari dirinya, dan bertahap dia mengenali Tuhannya dengan sebenar – benarnya pemahaman.

Inilah hamba yang merdeka ... 

Monday, March 6, 2017

BUDAYA BELAJAR


Akhir – akhir ini belajar menjadi sosok yang manakutkan dikalangan mayoritas pemuda, wajah mereka tertunduk lesu ketika berhadapan dengan tugas – tugas yang dimana mereka tak mampu untuk melihat orientasinya dimasa mendatang, belajar dipandang hanya sebagai rutinitas formal yang dengan terpaksa dilakukan karena orang – orang secara serentak melakukannya, belajar menjadi keterpaksaan, belajar adalah kegiatan yang membosankan.

Sekarang ada sebuah gerakan yang secara sadar dan tidak disadari baik dari internal maupun dari eksternal diri pemuda terarah untuk menghindari yang namanya belajar, gerakan ini merasuk disanubari para pelajar hingga mengganggap sekolah adalah sosok yang menyeramkan, saudara bisa amati tentang kondisi kekinian para  pelajar kita dimana mereka lebih bergembira ketika tidak ada guru dikelas, mereka akan bersorak dengan girang ketika ada pengumuman bahwa jam sekolah diliburkan, belajar adalah beban yang memberatkan mereka.

Banyak benturan – benturan lain dalam minimnya kebiasaan belajar dikalangan kita selain dari membosankannya cara mengajar diantaranya adalah banyaknya para lulusan sekolah/kuliah formal yang tidak mempunyai peran besar terhadap dirinya (mendapatkan pekerjaan) dan orang lain (membuka peluang pekerjaan), di sisi lain tidak sedikit orang yang berpendidikan rendah/standard bisa menghasilkan materi yang lebih besar dari lulusan orang yang berpendidikan tinggi tersebut, alasan lain yang bisa ditambahkan adalah minimnya para pembelajar berkarya atau melakukan sebuah gerakan yang mengajak kepada yang lain untuk saling mencerdaskan atau menularkan budaya belajar, mereka kadang berprilaku ekskusif dan tidak menujukkan nilai dari ilmu yang mereka pelajari, kadang tidak konsisten untuk menjadi pelopor dalam  menjalankan kebiasaan belajar dikalangan masyarakat. Persoalan yang lebih memberatkan yaitu adalah menghadapi kelompok yang anti terhadap budaya belajar, mereka yang diajak selalu menghindar hanya demi menyibukkan urusan – urusan material belaka. Padahal belajar dan menumbuhkan budaya belajar akan membuat tatanan yang merata dalam proses urusan material masyarakat hingga mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.

Ditengah berbagai fenomena – fenomena yang muncul banyak figur – figur politik atau figur yang menjadi sorotan masyarakat menampilkan kegiatan – kegiatan yang tidak mendidik. Kehura – huraan gaya hidup yang dikemukakan dengan mengajak mereka dengan hayalan – hayalan fana mengatasnamakan impian (dream) sebagai seorang idol benar – benar telah merusak cara pandang masyarakat an apabila cara pandang atau cara berfikir manusia rusak maka leburlah semuanya.

Terkikisnya budaya belajar selayaknya menjadi sorotan kesemua kalangan karena dengan hal inilah Negara bisa berkembang dengan pesat, kultur dalam peningkatan Sumber Daya Manusia inilah yang menjadi penentu arah dari perjalanan Bangsa kedepan. Jika budaya belajar menjadi hal yang prioritas untuk kita lakukakan saat ini, maka jangan berekspektasi yang berlebihan terhadap sedikitnya jumlah, mulailah melakukan diskusi – diskusi akademis yang cair dan tidak kaku, mulailah membuat berbagai macam tulisan melalui pengamatan saudara, bergeraklah untuk mengajak orang lain untuk membaca, janganlah merasa puas dengan pelajaran di sekolah atau kuliah saja, latihlah diri saudara untuk melakukan ekspresi – ekspresi dalam bentuk dan kemasan yang menarik sehingga bisa ditularkan kepada khalayak ramai dan jika bisa realisasikan apa yang anda tulis atau teliti sehingga bisa bermanfaat bagi orang – orang disekitar.

Banyak hal yang harus bergerak untuk wilayah ini, para akademisi,  lulusan strata 1, Mahasiswa, siswa dan penggiat pendidikan setidaknya wajib membuka ruang diskusi, melakukan upaya – upaya penyelamatan generasi melalui aksi nyata, karena tak layak bagi orang yang berpengetahuan menyendiri tanpa berbagi, seandainyapun hal itu sulit diaplikasikan maka dukunglah para penyebar kebiasaan mengajar dilingkungan kita. Karena sepahit – pahitnya belajar lebih pahit lagi hidup dalam kebodohan dan kita tidak mengharapkan generasi mendatang akan jatuh dalam lubang yang gelap yang semuanya itu adalah warisan dari kita saat ini.

Pemerintah yang ada saat inipun harus berupaya membuat sebuah gebrakan yang strategies dan inovatif, menghilangkan kesan – kesan simbolik seremonial dan terus berupaya dalam mengkonsolidasikan program – program yang sederhana namun mempunyai efek yang besar bagi mewujudkan budaya belajar disemua lapisan masyarakat. Ada beberapa bidang dikepemerintahan seperti perpustakaan, disdik, pemberitaan di diskominfo, pariwisata, dan lain – lain yang bisa dimanfaatkan guna mengkulturalisasikan belajar. Pemerintah pun diharapkan aktif dalam melakukan hegemoni – hegemoni dengan memberikan fasilitas dan contoh yang baik yang bukan melalui ucapan – ucapan “mari belajar” atau “revolusi mental” saja melainkan harus hadir dalam socio kultur yang ada. Karena duduk dikantor saja tidak menyelesaikan semuanya.


Tuesday, February 28, 2017

Pengelolaan Pasar

Manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai keterkaitan antara satu dengan yang lainnya, hal ini dilandasi dari berbagai macam faktor salah satunya adalah faktor kebutuhan, kebutuhan pun terdiri dari berbagai macam tingkatan yang sering disebut kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari tentunya manusia mau tidak mau pasti melakukan upaya yang melibatkan orang lain sehingga bisa menghasilkan apa yang ingin dia raih tersebut. Dengan keterlibatan orang lain yang saling membutuhkan inilah melahirkan berbagai macam transaksi sehingga hadirlah tempat transaksi yang disebut dengan pasar.

Secara umum kita telah memahami pasar dan proses tata kelolanya karena hal ini adalah naluri manusia untuk berserikat dan mencari kebutuhan serta memenuhi kebutuhan orang lain. Pasar tempat banyaknya manusia menggantungkan kehidupannya sehari – hari

Anda pasti pernah melihat para pedagang sudah melakukan pekerjaannya di waktu yang sangat dini bahkan ada yang membawa anak – anaknya untuk beraktifitas, anda mungkin pernah merasakan bagaimana melakukan transaksi dengan menekan harga sayur semurah mungkin sehingga para pedagang tidak mendapatkan untung dari kerja kerasnya, anda pasti bisa membayangkan bagaimana kondisi kejiwaan mereka yang berada dalam pusaran  harapan – harapan akan hadirnya para pembeli.

Di posisi lain kita juga pernah melihat dan mungkin kita menjadi korban akan kecurangan yang dilakukan oleh para pedagang, ditipu dengan bumbu – bumbu kebohongan agar kita lekas membeli barang yang dijual, pernah mendapatkan barang yang tidak sesuai dengan apa yang ada dibenak kita dari hasil rethorika para pedagang.

Di sisi yang lain lagi ada sebuah sistem atau jejaring – jejaring yang sangat merugikan dari kedua belah pihak  (antara pedagang dan pembeli) yaitu adalah kebijakan dan pemegang kebijakan itu sendiri.

Persoalan ini tidak akan bisa diurai dan ditenun hingga rapi ketika masih muncul praktik – praktik kecurangan dielit pengelola pasar yang menghilangkan keadilan sosial dan keadilan ekonomi, sebagai mediator dalam hal ini Pimpinan Daerah atau Pemerintah akan timpang ketika tak mampu untuk tegas dalam menjalankan aturan. Proses berjalannya aturan akan menjadi “runyam” apabila tidak bisa diimbangi oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas dan memiliki niat yang tulus  tanpa ada moti memperkaya pribadi atau kelompoknya.

Perbedaan pendapat antara para pedagang yang merasa tidak mendapatkan keadilan dari pemerintah adalah sesuatu yang wajar, pemerintah harus membuka ruang kesepemahaman agar tiada hati yang terluka karena sakitnya orang teraniaya membahayakan penguasa. Mungkin inilah yang dimaksud dengan hak rakyat untuk sejahtera.

Pembangunan yang berkelanjutan di sektor pasar adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diorganisir karena banyaknya latarbelakang pelakunya, membludaknya manusia yang terlibat, massifnya tekanan jiwa diarea sana dan buyarnya wacana – wacana yang menyangkut hajat manusia.

Dari sekian persoalan diatas akan lebih  memudahkan  jika pengelolaan pasar berlandaskan dengan pandangan akademis, haruslah menggunakan penelitian yang obyektif, melihat dari berbagai aspek, baik tata letak hingga kemudahan bertransaksi,  bukan untuk semata – mata menyenangkan hati pemegang kebijakan. Hal ini sangatlah penting jika dilaksanakan baik dari sisi keberlanjutan politik penguasa ataupun keberlanjutan perjalanan ekonomi daerah. Sistemnya haruslah berkesinambungan dengan mengesampingkan penghargaan – penghargaan yang fana tanpa orientasi pembangunan yang jelas, haruslah bersabar dari tawaran – tawaran kepentinggan yang membelokkan visi yang sebenarnya.

Konsistensi akan realisasi dari visi yang telah dirumuskan secara akademis di RPJMD haruslah terlaksana dengan menghilangkan perasaan para konsituen yang menginginkan jatah yang berlebih. Pemimpin tentunya harus bisa memberikan penjelasan serta tindakan yang tepat dalam mengorganisir timnya sendiri karena ketika memperturuti hawa nafsu atau keperluan semua tim maka tidak akan ada habis – habisnya walau jumlahnya sebesar gunungan emas.

Cepatnya perubahan keinginan untuk membangun tanpa melihat kondisi nyata akan menjadi bumerang rezim penguasa karena akan terjadinya perlambatan pembangunan, terbatasnya anggaran dan mangkraknya infrastuktur serta munculnya pelemahan – pelemahan ekonomi dari masyarakat bawah hingga masyarakat menengah – keatas dalam hal ini para ASN. Dampak – dampak ini bermunculan karena acuhnya penguasa dari ramalan – ramalan riset yang telah disusun dengan rapi yang telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit, apatisnya para aparatur dari tanggungjawab yang diemban dan pragmatisnya cara pandang tentang pembangunan.


Semua perkara diatas muncul dari moralitas para steak holder, pembenahan diri untuk lebih baik adalah satu – satunya harapan agar diperiodesasi suatu rezim meninggalkan prestsi yang langsung mengena di hati rakyat dengan menerapkan sistem berkeadilan yang sebenarnya yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional)

Thursday, February 16, 2017

BERTUHAN PADA HAWA NAFSU


Kegelisahan yang timbul dalam pengamatan didalam kehidupan kita sehari – hari tentunya dipandang perlu agar tema ini di kemukan, yang dimana pada saat ini muncul berbagai polemik tentang kehidupan ber-Agama/ber-Tuhan yang semuanya mempunyai penafsiran berbeda – beda.

Kemerosotan pada nilai ketuhanan akan menjadi bias ketika kita menganggap Tuhan sebagai menifestasi utuh dari diri kita dan tidak meniscayakan hadirnya kelompok lain yang berbeda pandang dari kita dengan berlandaskan pada firman – firman Tuhan yang bahkan kita sendiri masih sedikit pengetahuan untuk menafsirkannya. Padahal, Ilmu Tuhan sangatlah luas, tak terjangkau oleh kita sebagai ciptaanya dan dimana Tuhan telah mengutus/menunjuk hamba – hamba-Nya yang terpilih untuk menjadi juru bicara-Nya dimuka bumi ini. Tentunya segala sesuatu termasuk penunjukkan orang – orang terpilih tersebut bukan tanpa perhitungan, melainkan adanya pengetahuan – pengetahuan yang makhluk sendiri tidak memahami maksud dan tujuan Tuhan.

Saat ini banyak dikalangan kita yang melupakan salah satu bagian dari diri kita sendiri yaitu Nafsu. Nafsu dipandang fatamorgana yang berterbangan dilangit yang biru, amat banyak menghias angkasa, nafsu bahkan dipandang tidak ada saat hati menjadi keras diselimuti oleh awan gelap. Keberadaan nafsu memang sulit untuk dijelaskan dengan kata – kata namun kehadirannya nyata dikeseharian kita. Inilah fitrah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Anda, saya dan seluruh manusia dipenjuru dunia pastinya pernah merasakan emosional dengan berbagai perkara yang dimiliki, pernah merasakan berkeinginan akan sesuatu secara berlebih – lebihan, baik itu bersifat materil maupun keinginan secara inmateril.

Kita akan bergeser kejurang yang curam ketika kita tidak melakukan pembenahan diri dalam meyakini Tuhan yang sebenarnya. Kadang diri kita membatasi eksistensi keagungan tuhan didalam dengan menganggap bahwa tuhan hanya berada di tempat – tempat ibadah saja, kadang pula ada pandangan yang secara fulgar mengajak para konstituennya dengan atas nama Tuhan untuk melakukan sebuah gerakan – gerakan politik dengan mengedepankan emosional dibanding logical practice atau bebabi buta tanpa mengedepankan norma agama sebagai ujung tombaknya. Dalam biasnya fenomena yang muncul ini sudah selayaknya kita tetap bersikap tenang dalam menghadapinya, karena dimana tekanan jiwa atau was was didalam diri kita muncul maka disitulah setan mulai merasuk didalam diri kita dan membuat kita kehilangan kesadaran diri. Lalu apakah ini yang dinamakan ber Tuhan?

Tidak, inilah yang dinamakan ber Tuhan pada hawa nafsu, ketika hidangan – hidangan yang menggoda dimeja makan kita tersedia maka dengan seksama ada rasa atau bisikan – bisikan tajam yang mengajak kita untuk melahapnya, ketika tawaran – tawaran akan emas dan sejenisnya terhampar didepan mata kita maka muncul pula rasa ingin memilika tanpa mengerti kejelasan peruntukannya, ketika iming – iming kekuasaan dan jabatan mulai diketik dimeja kerja kita maka hadirlah sifat utuk menempati posisi yang tinggi tanpa melihat kondisi diri dan tanggungjawab yang tanggungnya.

Bisikan yang rakus, labilnya jiwa, kesombongan yang mengelora dan tak terkontrolnya diri adalah bentuk penafikkan terhadap Tuhan yang Maha segala – galanya. Maka sudah selayaknya bagi kita sebagai manusia yang fana berusaha mendekat dan menghadirkan Tuhan didalam diri kita disetiap tempat dan aktifitas yang kita lakukan, mematuhi segala bentuk Aturan yang telah ditetapkan dan dicontohkan secara jelas oleh-Nya melalui utusan – utusan-Nya yang telah dipercaya. Jangan jadikan Tuhan hanya sebagai kedok bagi kita untuk membenarkan apa yang kita lakukan.

Semoga Tuhan menjaga kita semua....


Wednesday, February 1, 2017

Dewasa Bersosial Media


Seiring berkembangnya informasi dan teknologi, manusia dimanjakan dengan media sosial seperti Fecebook, Twitter, Instagram, path dan lain – lain yang tujuan sebenarnya adalah untuk bersosialisasi, mengenal manusia satu dengan berbagai manusia dipenjuru dunia, menggapai berbagai macam informasi, mencari ilmu pengetahuan dan menjadi sarana hiburan ditengah kehidupan yang melelahkan.
Kecanggihan dari dampak globalisasi ini mampu membuat ruang baru bagi aktifitas manusia yang kerap disapa dengan sebutan “Dunia Maya”. Dengan berbagai macam informasi yang kita dapatkan semenjak lahir bisa terakumulasi dan terkoneksi dari berbagaimacam pendapat yang mempengaruhi alam bawah sadar kita sehingga kadang melakukan bentuk penghukuman (justifikasi) terhadap fenomena yang muncul di dunia nyata.
Sebagai penggiat sosmnd (sosial media) anda pasti pernah terpancing dengan sebuah judul berita yang dibagikan oleh teman anda dan setelah itu anda memberi tanggapan menurut perspektif sesuai informasi atau pengetahuan yang telah anda dapatkan. Contoh mengenai kasus – kasus yang mengangkat tentang persoalan kesukuan, agama sampai persoalan sekte – sekte yang beraneka ragam dihamparkan diruang maya ini pastilah menggelitik untuk diberi tanggapan dan dengan tanggapan itu akan berpengaruh pada kejiwaan yang terpuaskan untuk sesaat.
Bagi sebagian besar masyarakat memaknai bahwa internet dan sosmed adalah sumber pengetahuan yang bisa dipercaya tanpa menyaring informasi – informasi yang berkembang sehingga terikut dengan alur provokasi kebencian yang mendatangkan gejolak emosi didalam diri.  Adapula dikalangan kita yang mempunyai hobby berdiskusi dan melakukan pertentangan dengan pendapat orang lain atau media yang menyebarkan wacana.
Belakangan ini muncul di dunia nyata tentang penolakan kelompok satu dengan kelompok lain, muncul pula diskusi saling ejek mengejek antara anak – anak TK dengan anak – anak TK yang lainnya, putusnya tali persahabatan kekeluargaan bahkan kemanusiaan. Semua itu dipicu oleh informasi yang sepotong – sepotong lalu didramatisir menjadi kebenaran mutlak. Munculnya rasa curinga dengan istilah “jangan – jangan” dia atau orang itu benar seperti itu, padahal bisa saja dia khilaf dan hanya sebuah tulisan amarah untuk memuaskan batin, finally dampak dari hal itu membentuk pola fikir masyarakat (dalam hal ini penggiat sosmed) menjadi negative thinking dan apabila prilaku ini berkembang kepada masyarakat keseluruhan maka tunailah sudah visi misi setan untuk menghancurkan moralitas kita.
Reader sekalian perlu kita mengingatkan kembali bahwa sosial media hanyah fasilitas bagi kita untuk mengakes atau mebagikan informasi bukan sebagai satu – satunya sumber kebenaran dan mudah menebarkan informasi yang kita sendiri belum mengetahui kebenarannya. Selain itu perlu bagi kita untuk menebarkan fatrah dari kita sebagai manusia berupa informasi yang berupa kebenaran dari berbagai sisi, pengetahuan yang mendalam,   tayangan – tayangan yang mendidik dan menghilangkan penghinaan terhadap sesama manusia.
Saat ini marilah kita memulai untuk berfikir jangka panjang akan apa yang kita lakukan, sekali lagi saya sampaikan jangan terpancing dengan akun abal – abal yang digerakkan oleh musuh – musuh kemanusiaan guna membuat cheos antar sesama kita sehingga kita melupakan hal – hal  prioritas yang harus kita kerjakan, dimana kita mempunyai tanggungjawab akan hal itu. Ingatkah ketika kita memberikan komentar dan membagikan sesuatu hal yang bernada perpecahan, apakah permasalahan itu telah selesai ? ataukan kita membuat persoalan baru.  Saya meyakini kita sema umat beragama dan pasti mempunyai ajaran yang melarang perbuatan – perbuatan yang negatif, pasti kita semua bisa membedakan antara perbuatan baik dan buruk, maka apabila kita melakukan perbuatan buruk sesuai dengan kehendak kita disitulah kita menjadi manusia yang berfahaman sekuler.

Akhirnya kita akan memandang dengan elok ketika sosial media dihamparkan dengan sesuatu yang bernilai positif, saling memahamkan dengan bahasa yang santun dan bergembira dengan candan yang tidak menjatuhkan. Inilah yang dinamakan dengan kedewasaan adalam bersosial media dengan menjadikan pengendalian diri kearah positif sebagai kuncinya.