Thursday, November 16, 2017

Why You Hate Chines ?


Di dalam buku Ringkasan Ilmu Logika karya Hasan Abu Amar terdapat pembahasan tentang asal muasal pembagian ilmu maka sudah barang tentu dan tak asing bagi kita medengar tentang ilmu wahmi (estimative faculty) yaitu sesuatu yang tidak material dan tidak mempunyai ukuran, seperti sedih, senang, marah, benci, cinta, kasih, sayang, cemburu, takut, berani dan lain sebagainya dimana sub pebahasan ini hakikatnya adalah fitrah yang ada didalam diri manusia.



Gejolak - gejolak rasa ini tidak bisa diukur dengan sebuah kata – kata dan timbul dengan sendirinya melalui berbagai media seperti indra dan hayal sehingga manusia sendiri kandang tak mampu membendungnya. Dia eksis didalam diri manusia namun tak tampak secara kasat mata dan hanya mampu diutarakan dengan simbol – simbol, analogi serta kiasan – kiasan agar bisa dipahami dengan mudah oleh sang pemberi dan penerimanya.

Seperti tema yang dicantumkan diatas maka yang akan dikemukakan dalam tulisan ini adalah kata “benci”. Benci adalah ketika orang yang kamu cintai di telikung oleh teman dekatmu (tidak berdarah tapi sakit), benci adalah ketika papa dan mamamu tidak membelikan motor seperti di sinetron anak jalanan, benci adalah ketika kucing mengambil ikan satu – satunya yang kau miliki, benci ialah ketika engkau menagih utang kepada temanmu namun kamu yang menjadi sasaran amarahnya, benci ialah ketika mencoba mendahului emak – emak di jalan raya, benci adalah ketika ayam yang telah kau besarkan terkena perempahan, benci adalah ketika sesuatu yang menjadi hak mu diambil oleh orang lain, benci adalah ketika kemerdekaanmu direnggut, benci adalah ketika harapan – harapan yang ingin kau gapai menjadi sirna.

Oh my god, begitu banyak macam – macam kebencian yang mengitari didalam kehidupan kita, ia sangat dekat dengan langkah – langkah kita, kebencian akan suatu permasalahan bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan mampu menjadi pemicu untuk meledakkan bom – bom waktu yang lain, maka jika itu yang terjadi bersiaplah menerima dampak – dampaknya. Tentu sebagai manusia normal kita menginginkan kehidupan yang damai tanpa adanya perselisihan dan perseteruan yang mengarahkan kita pada perpecahan serta akan membuat kekacauan, hal ini bermula dari terjangkitnya penyakit hati didalam diri.Kebencian inilah yang ingin dihilangkan oleh Naruto di dunia shinobi.

Belakangan ini di Indonesia terdapat persoalan yang menggelikan ketika setelah 72 tahun kemerdekaan terdapat ujaran – ujaran kebencian atas sesama warga negara, lebih khususnya benci dengan klan china bahkan banyaknya ketakutan akan dijajahnya Indonesia oleh Republik Rakyat Tiongkok dengan posisi politik internasional yang di issue kan sembarangan sehingga berpotensi memperpecah belah diranah horisontal masyarakat Indonesia sendiri. Maka dengan lantangkukatakan, sungguh hal ini adalah tindakan yang menyebalkan..!!!
Mengapa demikian ?, berikut penjelasannya :

1.      Setiap negara pasti ada sistem administrasi kenegaraan dimana mereka mempunyai otonomi untuk memperkuat otoritas, independensi dan jika di indonesia ada yang namanya permusyawaratan antar lembaga negara dalam melakukan kebijakan luar negeri.Semua negara pasti memerlukan atau berhubungan dengan negara lain sebagai bentuk kerjasama yang saling menguntungkan, sebagaimana sebagai person kita juga memerlukan hal itu.
Jadi apa yang kita khawatirkan saat ini terhadap tiongkok, bangsa – bangsa asia, kawasan timur tengah dan eropa adalah dugaan – dugaan manja tanpa landasan ilmiah.

2.      Yang menjadi kekeliruan sehingga timbulnya perasaan dengki didalam diri kita adalah cara pandang generalisasi persoalan atau menuduh secara keseluruhan terhadap tindakan human eror di suatu kelompok. Misal ketika ada pejabat dari golongan Islam atau Agama lainnya melakukan tindakan korupsi maka semua orang yang Islam atau beragama dianggap koruptor. Contoh lain ketika ada yang orang dari suku kita yang bertindak amoral maka suku itu di tuduh secara keseluruhan sebagai pelaku amoral.
Cara berfikir yang kolot seperti ini seyogyanya sudah sirna didalam kehidupan kita, sesuai dengan banyaknya ungkapan – ungkapan writers dan aktivis sosial media lainnya, apakah salah ketika seorang anak dilahirkan sebagai keturunan china ? jika salah, maka Tuhan tidak adil !
Mengapa demikian ? karena semua makhluk baik manusia dan alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan yang mempunyai porsi masing – masing untuk menjalankan hukum – hukum yang dibuat oleh-Nya. Tuhan akan berlaku Dzholim jika menciptakan sesuatu tanpa faedahnya. Namun jarang dari kita memikirkannya.

3.      Perlu disadari bersama bahwa Bangsa kita yang besar dan diantara ratusan suku yang didalamnya ada klan china/tionghoa telah bahu membahu membangun bangsa seperti yang kita rasakan saat ini. Anda bisa rasakan secara nyata ketika tidak ada clan ini, tentu akan memberatkan kehidupan anda misal ; Smart Phone, coba kita ingat – ingat kembali dilingkungan keluarga kita apakah tidak ada orang yang menggunakan media komunikasi yang berasal dari china ?, oke mungkin karena persoalan bisnis antar negara, persoalan ini bisa kita kesampingkan. Selanjutnya adalah persoalan tempat kita tinggal atau rumah, di era milenial ini anda bisa chek toko bangunan dilingkungan anda berada, apakah tidak terdapat klan china didalamnya yang berani jual dengan harga rendah dan konsisten merayu pembeli degan berbagai rethorika marketing?. Aku rasa tidak..!!! shanya mereka dan kekuatan koneksi mereka yang saat ini mampu mengelolanya. Belum lagi kebutuhan pangan kita, peralatan dapur, kosmetik, perfileman dan lain sebagainya banyak sekali didominasi orang indonesia keturunan china yang bertebaran membangun ekonomi mereka dan menghidupi kebutuhan masyarakat lintas suku.

4.      Selanjutnya tentang persoalan keeksklusifitasan atau ketertutupan yang dimiliki oleh klan ini, baik prilaku kehidupan sehari – hari dalam pergaulan sampai pada hubungan kawin silang yang sangat sulit dilakukan. Pemuda – pemuda jomblo di era reformasi hingga milenial ini  mengatakan susah dapetin cewek keturunan china. Tradisi mereka ini yang kadang membuat orang – orang jengkel !, Namun apakah kita ber hak membenci mereka ?
Padahal, semua suku pasti mempunyai karakteristik dan budaya masing – masing yang hingga kini masih dipertahankan, dengan filosofi hidup itulah yang membuat suku itu tetap eksis hinga kini. Dan sekali lagi, kita tidak bisa mengeneralisasi bahwa mereka totalitas eksklusif karena banyak dari bereka pula yang inklusif (terbuka) baik pergaulan maupun hubungan lain. Begitu pula dengan suku – suku lain yang ada di Indonesia bahkan di Dunia.

Tidak bermaksud untuk mengunggulkan ras kulit putih ini, melainkan hanya ingin membuka cara pandang kita dalam menghadapi problematika sosial yang berkembang, bahwa pada hakikatnya bangsa kita menerima berbagai elementasi suku yang membawa pesan kedamaian dan ketentraman ditanah air tercinta ini dengan membawa spirit persatuan. Persaingan antar manusia dan kelompoknya didalam melakukan sebuah usaha – usaha peningkatan kualitas hidup haruslah berjalan dengan fair dan dengan sikap yang dewasa. Memperuncing perbedaan adalah bisikan iblis untuk membuat hati kita waswas dan selalu berfikiran negatif dalam menilai orang lain sehingga berpotensi terjadinya perpecahan yang dengan perbuatan itu harapan – harapan untuk membangun dan mengisi dunia ini dengan keindahan menjadi berantakan. Mengasah perbedaan berati menjaga jarak untuk bersatu dan jika hal ini terus dilakukan maka akan membuat ketentraman dan ketenangan didalam kehidupan kita menjadi hilang.

Mulailah untuk mengambil langkah yang produktif untuk bersaing dengan membangun komunikasi yang baik antar sesama anak Bangsa tanpa melihat suku, ras dan agama, sebab potensi kebaikan yang ada didalam diri manusia tidak memandang itu. Bahkan jika kita mampu bersatu diantara banyaknya perbedaan maka kita akan menjadi pelangi yang indah di langit yang biru, dimana pelangi – pelangi tersebut adalah ciptaan Tuhan.

Tentangan untuk menjadi Negara besar dengan beragam ideologi dan bentuk tidaklah mudah, banyak pekerjaan – pekerjaan rumah berupa kasus bullying terhadap anak – anak atas nama perbedaan suku dan agama yang harus kita hilangkan, masih cepatnya orang – orang kita terpropokasi jika disulut dengan hal – hal yang berbau kesukuan dan hal yang berbau keyakinan, masih banyak ego – ego yang harus diredam oleh kita semua. Dimana dari kejadian yang terjadi ini mengharuskan kita untuk mengikat kembali sumpah setia kita untuk mentaati peraturan yang ada di Negara ini, bahwa untuk memperkuat kesatuan dan persatuan tidaklah cukup hanya dengan tulisan ini, tidak cukup kalau hanya dikerjakan oleh pemerintah, tidak cukup jika hanya melalui pemasangan sepanduk yang menyatakan kita satu, tidak cukup jika hanya dilakukan oleh segelintir kelompok saja, karena persatuan membutuhkan gerak bersama, maka gerakan persatuan diantara banyak perbedaan inilah yang harus dikedepankan.

Membenci sebenarnya adalah kebutuhan bagi kita, anda bisa bayangkan jika kita tidak membenci sesuatu yang kotor, sesuatu yang negatif dan sesuatu yang berefek kepada keburukan bagi kita. Namun banyak kesalah artian bagi kita dalam menghadapi kebencian ini dan mengambil langkah – langkah yang bahkan kita sendiri membencinya, padahal kebencian ini kebanyakan bersifat sementara dan selanjutnya ketika kita sudah memahami obyek dari kebencian tersebut maka kebencian itu bisa jadi akan menjadi sirna.

Bahwa disini kita harus melihat dari pandangan yang luas dan pemahaman yang mendalam terhadap fenomena – fenomena yang terjadi, karena segala sesuatu pasti ada maknanya !
Berlebihan dalam membenci yang dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi karakter didalam diri akan membuat manusia sulit mengontrol prilaku diri dan pasti akan terpuruk didalam angkara murka ilahi dan permasalahan yang medalam dengan sesama manusia.

Maka membencilah dengan argumentasi yang jelas....!!!

Tuesday, October 24, 2017

SEJARAH MENENTUKAN MASA DEPAN

Kalimat dari tema diatas menegaskan akan spirit pembangunan dalam menjalani kehidupan saat ini dengan landasan pemahaman historis dan orientasi futuristik sehingga pandangan – pandangan gerakan – gerakan menimbulkan prestasi – perstasi yang ingin digapai atas buah hasil pendahulu yang dianggap sukses dalam bidang tertentu.

Manusia mempunyai unsur didalamnya yaitu berupa penilaian, yang dimana potensi menilai tersebut mengidentikkan pada kebutuhan untuk selalu mempunyai tokoh yang di pedomaninya dan dengan itu manusia terus melakukan sebuah pencarian akan sosok yang sempurna baginya. Pencarian demi pencarian tidak terlepas dari pengamatan sejarah individu yang digandrunginya dan berupaya untuk mendalami step by step perjalanan hidup serta track record nya dikancah kehidupan yang menjadikannya sukses.

Suatu hal lain yang tidak bisa kita lepaskan lagi dari sifat manusia adalah keinginan untuk menjadi pribadi yang besar atau sukses. Harapan akan terwujudnya keinginan yang begini dan begitu melazimkan seseorang untuk senantiasa belajar guna memperdalam kapasitas diri dengan melakukan berbagai macam cara, entah hal itu sesuai dengan hukum kausalitas ataupun tidak bisa berpotensi membuat orang menjadi tidak terkendali dan tanpa sadar menyakiti unsur lain yang diluar darinya.

Tiada manusia yang lahir tanpa mencontoh, tiada manusia yang bisa berkembang secara independen, tiada pula makhluk didunia ini yang tidak membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Realitas inilah yang disebut dengan fitrah manusia untuk meniru para pendahulunya untuk menjalankan aktifitas kehidupan walaupun adanya perbedaan kondisi dan adanya perubahan akan perkembangan zaman yang pastinya manusia pasti mencari pelajaran dari aktor sejarah dengan melihat essensi perjalanannya. Namun dibalik heroistiknya seorang tokoh yang dikaguminya, kadang manusia melupakan tujuan yang sebenarnya dari kehebatannya tersebut.

Dewasa ini kebanyakan dari kita saat ini menggantungkan impian dan memahami kesuksesan dengan tolak ukur yang rendah yaitu berupa materi, ketenaran dan kenikmatan – kenikmatan yang bersifat sementara sehingga ketika sudah mencapai hal tersebut berakibat pada pola hidup yang cendrung hedonistik, mematikan rasionalitas dan jika akal sehat manusia menghilang maka bersiaplah untuk jatuh dalam lubang kehinaan.

Kebutuhan akan makanan, pendidikan, kesehatan, pakaian, tempat tinggal yang layak dan biaya hidup yang lainnya adalah kewajiban bagi manusia untuk dilengkapi serta dicarikan jalan keluarnya. Benturan – benturan akan masalah ekonomi membuat manusia kadang merasa gamang dan dengan serta merta mencari jalan keluar yang praktis untuk menyelesaikannya serta menghilangkan aspek – aspek lain sebagai syarat ideal dalam pencapaian problema yang dihadapi. Disinilah sebenarnya awal mula munculnya penyewengan – penyelewengan moral manusia yang menjadikan perbuatannya berdampak buruk bagi orang lain atau dengan kelemahan mental ini orang tersebut mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Perlu kita ingat bersama bahwa dunia ini mempunyai sistem akurasi yang kausal atau mempunyai hukum sebab - akibat yang dimana apabila perbuatan baik pasti akan mendapatkan ganjaran kebaikan, begitu pula sebaliknya jika berperilaku buruk maka keburukan itu cepat ataupun lambat akan kembali pada dirinya. Hal ini sudah banyak kita jumpai didalam sejarah dan berita dari media – media yang kita amati belakangan ini.

Sebagaimana yang di ungkapkan oleh sang revolusioner berperawakan sederhana dari India, Mahatma Gandhi “ada 3 hal yang tidak bisa disembunyikan dari dunia ini : yang pertama adalah matahari, yang kedua adalah rembulan dan yang ketiga adalah kebenaran”. Kita mengetahui hadirnya sang mata hari dan rembulan silih berganti dan kadang tertutup oleh awan yang dimana untuk sementara waktu menjadikan ia tak tampak namun pada akhirnya semua orang mengetahui dan merasakan manfaat dari benda langit tersebut. Begitu pula kebenaran, sehebat dan sekuat apapun manusia menutupinya maka tabir – tabir penghalang itu akan terungkap setelah itu maka nampak dengan jelas antara perbuatan yang benar dan perbuatan yang menyimpang.

Hal yang saat ini perlu kita lakukan untuk membuat sejarah bagi masa depan adalah berupaya agar tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang merugikan diri sendiri dengan orang lain dengan berhati – hati dalam bersikap, memahami kebenaran secara universal, berfikir dengan logis dan orientatif serta memperlakukan orang lain sebagaimana kita senang ketika diperlakuka. Artinya bahwa jika didalam kondisi tertentu reasionalitas kita hilang karena benturan keadaan maka yang harus kita lakukan adalah menahan diri dan jangan menjadikan hawa nafsu menguasai diri sebab jika kita meneruskan perlawanan kepada akal sehat dan hati nurani maka sudah pasti kita akan jatuh dalam jurang yang gelap dan cemooh dunia.

Pembentukan karakter manusia yang mengedepankan akal sehat dan meyakini eksistensi hati nurani tentu tidak didapat dengan cara yang instan, karena untuk mencapai hal itu perlu adanya penyucian diri baik secara jasadi dengan tidak mengkonsumsi barang haram atau sesuatu yang bukan menjadi hak kita, maupun secara bathiniah dengan banyak membaca dan mengkaji ilmu – ilmu atau pengetahuan yang mengarahkan kita pada tujuan kebenaran.

Tidaklah mudah untuk mencapai hal itu, pasti banyak godaan -  godaan yang menyertai orang untuk berubah kearah yang lebih baik, mengalihkan perhatian manusia untuk merecovery kesempurnaan manusia adalah sifat setan yang ada didalam diri kita, maka hanya ada satu jalan bagi kita untuk belajar konsisten, yaitu dengan mengikuti orang – orang yang benar, memegang tali – temali kebenaran yang telah diaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari serta dan berupaya dalam memahami segala fenomana – fenomena yang mereka hadapi secara terus menerus.


Tumpahkan semangat muda pada arah yang jelas dan perjuangan yang tidak absurd, karena sejarah menentukan masa depan.

Saturday, July 29, 2017

ERAU, Simbol Kemakmuran Rakyat

Image by Visit My Borneo
Dengan dilaksanakannya Erau Adat Kutai dan Internasional Folkarts Festival di “Kota Raja” Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara  Pada tanggal 22 sampai dengan 30 juli 2017 adalah sebuah isyarat kesemarakan pesta adat yang tidak hanya digelorakan rakyat lokal melainkan ditunggu oleh warga internasional, masyarakat menyambut dengan suka cita dan hati yang gembira. Namun bagaimana kita memaknai pesta adat erau yang sebenarnya ?

Banyak versi yang mendefenisikan tentang erau secara etimologi (bahasa) ada yang mengatakan erau berasal dari kata eroh yaitu ramai/rame atau gaduh, sedangkan dalam pandangan yang mulia H Aji Pangeran Ario Jaya Winata menuturkan Erau berasal dari sebuah nama tanaman yaitu teberau (pohon yang hidup dirawa, sejenis peredang) yang jika kering dan dibakar suaranya mengereketep (meledak – meledak) atau dalam bahasa lainnya mburuh.

Sebagai contoh dalam perbedaan antara eroh dan terbakarnya teberau adalah jika kata eroh dilekatkan pada seseorang yang sedang memancing berarti dia eroh dengan aktifitas sendirinya (eroh mancing) sedangkan dengan terbakarnya kayu teberau berati ramai secara universal.

Sedangakan menurut terminologi (istilah) menurut beliau berarti makmurnya masyarakat yang berada diwilayah – wilayah Kutai Kartanegara dengan pendapatan hasil nelayan, tani dan lain sebagainya yang meminta bepelas benua (besukur) kepada Raja (Sultan) atas hasil tersebut. Sederhananya erau adalah sebuah langkah pendiasporaan kemakmuran rakyat. Dimulai dari satu desa sampai yang terakhir di Desa  sabintulung (betulung – tulung) lalu di eraukan adatkan secara keseluruhan di pusat ibu kota kerajaan.

Perubahan zaman telah membawa erau pada tampilan – tampilan modern dengan berbagai keindahan budaya yang ditampilkan dalam pentas yang dinikmati rakyat, dimulai dari budaya lokal hingga budaya – budaya luar karena banyaknya negara – negara lain yang diundang dan perpartisipasi dalam pesta adat ini.

Perubahan struktur kepemimpinan tidaklah mengubah essensi erau yang membawa spirit kemajuan daerah baik dari zaman kerajaan perlahan berubah nama Raja menjadi Sultan dan di  era kemerdekaan Republik Indonesia hingga ditetapkannya otonomi daerah Kutai sampai dengan kembalinya Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang berjalan bergandengan menjalankan pembangunan - pembanguna.

Sinergitas antara Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam melaksanakan Pesta adat dan pesta Rakyat Kukar ini terus terlaksana di tiap tahunnya dengan berbagai inovasi – inovasi yang terus berkembang. Warisan leluhur ini terus mendunia dengan berbagai filosofi – filosofinya.

Perubahan zaman tidak bisa di hindarkan oleh suatu kaum manapun yang menghendaki lahirnya generasi – generasi baru sebagai pelanjut estafet perjalanan suatu daerah, Di tanah yang telah mendedikasikan dan meleburkan dirinya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah isyarat akan heterogennya masyarakat kita, terkumpul begitu banyak klan, suku, budaya yang berjalan harmonis di Bumi Kutai ini. Ini adalah sebuah perbedaan massa antara dahulu kala dan kondisi saat ini. Klan pendatang menghormati acara adat dan klan setempat membuka diri untuk menikmati keindahan seni dan budaya, sungguh mengelokkan mata dan menyejukkan jiwa.

Belajar dari sejarah bahwa erau sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemakmuran rakyat dari pedalaman sampai dengan ibu kota yang diadatkan sekaligus tempat bermusyawarah antara pemerintah dan rakyat yang berpadu dalam perencanaan pembangunan kerajaan. Tentu dengan terselenggaranya erau tahun ini penting bagi kita untuk mengevaluasi kondisi nyata yang terjadi di daerah kita, jika sejarah menjadi kaca bagi kita maka pantas kah hari ini kita mengadakan erau ?

Erau adalah media yang menjadi warisan budaya dalam memberikan spirit demi terwujudnya masyarakat makmur secara menyeluruh tanpa meninggalkan sekelumit wilayah tertinggal sekalipun. Erau adalah jembatan yang terpampang panjang untuk dilewati secara bersama – sama, erau bukan hanya acara ceremonial yang tanpa misi melainkan ada upaya – upaya yang terdapat didalamnya perencanaan pembangunan sosial dan ekonomi untuk masa yang akan datang, erau adalah sebuah deklarasi untuk kemajuan.

Perbedaan waktu dan kondisi saat ini dengan yang dulu mengharuskan kita memaknai sejarah, bahwa segala sesuatu pasti ada maksudnya, berdirinya tiang ayu sampai dengan  penyiraman air tuli pasti mempunyai filosofi, pemahaman atau makrifat, yang dimana kita seyogyanya terus mengkaji dan memahami secara integral agar generasi kita mempunyai alasan untuk mengenal dirinya yang sebenarnya.

Mari melestarikan budaya, karena budaya pasti mempunyai nilai seni, dan arti lain pada seni adalah keindahan...

Mengenali diri, asal – muasal dan kebiasaan – kebiasaan para leluhur berarti empati pada budaya yang dengannya akan menjadikan hidup menjadi indah...


Selamat Erau 2017.....

Sunday, July 9, 2017

Pengusaha Pejuang

Memaknai perjalanan hidup dengan berbagai aktifitas untuk membangun peradaban adalah sesuatu yang niscaya, apalagi jika dikonotasikan dengan makna perjuangan maka muncul pula berbagai pandangan – pandangan yang beragam dalam memaknainya. Dalam catatan kecil ini saya tidak menguraikan tentang isme – isme atau faham – faham yang berada dibelakang atau yang menjadi motif dalam sebuah tindakan kekinian melainkan hanya akan memberikan sebuah argumen yang terjadi dari kasus yang muncul belakangan ini.

Secara umum kita pahami tantang pengusaha adalah orang yang melakukan aktifitas usaha ekonomi guna mendapatkan keuntungan dan akan menanggung resiko yang terjadi, kelompok ini dikategorikan dengan kelas waisa, dimana mereka mempunyai pengaruh yang signifikan bagi kekuatan suatu bangsa. Pelaksana teknis pengelolaan perekonomian suatu Negara dan daerah adalah pengusaha, peranan penting ini yang harus dan terus dikembangkan , sebagaimana kita ketahui bahwa jumlah pengusaha di Negara kita hanya sebesar 1,5 % dari total 250 juta penduduk, sedangkan idealnya suatu Negara harus mempunyai sekitar 2 – 2,5 % bisa disebut Negara maju, di negara ASEAN singapore dengan score 7% menempati posisi teratas, malaysia 5 %, Thailand 4,5 %, dan Vietnam 3,3 %

Dari angka diatas bisa di lihat bahwa Indonesia, Negara yang kita cintai ini masih dalam katagori Negara yang tertinggal dalam ruang lingkup produktifitas Sumber Daya Manusia yang menjadi pengusaha, hal ini adalah catatan bagi kita untuk menghilangkan frame konsumtif dengan menjadikan lingkungan kita sebagai tempat berusaha, karena begitu banyak potensi – potensi Alam ini yang bisa dimaksimalisasikan yang dimana saat ini perekonomian kita masih didominasi oleh Pengusaha – pengeusaha kapital di berbagai penjuru dunia.

Tahap awal yang kita lakukan adalah meluruskan orientasi kita dalam berusaha bukan karena semata – mata karena mencapai banyaknya harta, menumpuk berbagai macam perhiasan dan berfoya – foya memuaskan hasrat pribadi. Lebih dari itu, cara pandang  yang harus kita tanamkan didalam benak kita adalah agar bagaimana kita bisa memberikan manfaat  bagi orang – orang yang berada disekitar kita yang mengalami keterbatasan dalam mencari sumber mata pencaharian, pandangan yang lebih luas lagi adalah memberikan kemakmuran pada Bangsa ini.
Sang pejuang adalah orang yang menginginkan bumi yang ia pijak menjadi merdeka dan makmur, dimana dirinya akan trus melawan jika ada sebuah sekat yang membatasinya untuk mengabdi. Pejuang yang telah banyak mendedikasikan dirinya bagi apa yang dia perjuangkan pasti akan menjadi pahlawan dan dikenang hingga raganya ditelan bumi ini. Maka perlu bagi kita semua yaitu rakyat Indonesia untuk menjadi Pengusaha Pejuang.

Mungkin banyak para pengusaha di Negara ini namun sedikit yang berlebel perjuang, jangan salah dalam memandang bahwa pengusaha luar yang fight di Indonesia membawa misi untuk membangun Negaranya, penerapan pengusaha pejuang ini sudah didedikasikan terlebih dahulu oleh mereka sehingga spirit ini yang membuat mereka berkembang dan bahkan banyak sekali orang – orang kita yang hidup dari perusahan yang mereka miliki.

Saat ini bukanlah hal produktif bagi kita untuk menghujat cina, amerika, rusia, iran, arab saudi, francis, itali, korea selatan, jepang dan negara – negara lain sementara kita hanya berdiam diri dengan hayalan – hayalan  semu yang berharap ekonomi akan tumbuh seiring dengan sendirinya. Hal yang harus dan segera kita lakukan adalah melakukan perlawanan yang sehat dan jauh dari kata cheos, keributan atau kegaduhan – kegaduhan lainnya, karena perlawanan kekinian adalah era perlawanan dengan kecerdasan, maka yan ternilai adalah ketika melakukan usaha – usaha yang fair dimata sosial lintas ras dan suku guna pembangunan ekonomi adalah realitas yang harus kita hadapi sehingga nama kita tidak menjadi catatan merah dalam sejarah di generasi mendatang.

Salah satu hal yang paling utama ketika menjadi pejuang dalam hal ini pengusaha pejuang yaitu adalah memahami tanggung jawabanya dalam arti kewajiban profesinya sebagai anak bangsa yang spesial, kewajibannya terhadap warga disekitar usahanya, kewajiban terhadap lingkungan dan kewajiban – kewajiban lainnya. Mengenai konteks ini maka saya persilahkan kepada para pembaca untuk menafsirkannya lebih mendalam dalam konteks pengusaha sebagai pengabdian profit.

Yang menjadi point akhir dari pembahasan ini adalah bagaimana pengusaha pejuang mempersiapkan mentalitas dalam menghadapi kondisi birokrasi kita, hal ini yang paling sulit karena didalamnya terdapat kultur yang tidak membangun alias transaksional menejemen atau dalam bahasa lainnya adalah mapia – mapia yang mencari fee dan  menyedot semangat juang untuk berwira usaha, selain itu akan muncul berbagai kebijakan yang berbelit dan menyengsarakan kita. Padahal regulasi pengembangan usaha bisa berjalan baik jika pemerintah dan pengusaha bisa besinergi dalam membangun.

Menyiapkan mental menghadapi bagian dari kita adalah sesuatu yang menyakitkan, jika kita tidak siap maka banyak pilihan – pilihan yang akan membawa kita para prilaku menyimpang dari tujuan kita sebagai pejuang yang bergerak di bidang profit. Oleh kareanya kita tidak mempunyai pilihan untuk terus bergerak dan mempelajari fenomena – fenomena berwirausaha sesuai dengan peraturan yang lazim dengan tidak menghalalkan segala cara untuk mencari sumber – sumber keuangan yang dimana orientaasinya akan mendzholimi pihak lain.

Key Word

Perbanyak kuantitas pengusaha, spirit pengusaha pejuang, mentalitas yang nasionalis dan profesional

Wednesday, May 3, 2017

Bangkitnya Kaum Tertindas (Memperingati Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional

Banyak dari kita mmpersepsikan makna bangkit adalah sebuah pemberotankan terhadap sesuatu aspirasi yang tidak bisa terpenuhi secara nyata oleh pemegang kebijakan, kadang yang kita maksudkan bangkit hanya pada tataran dzahir padahal kekuatan kata bangkit juga mempunyai makna batin  dan itulah letak dari konsistensi perjuangan.

Puji Tuhan, kita telah melewati peringatan Hari buruh Internasional dan sekarang merayakan hari pendidikan nasional yang dimana antara buruh dan pendidikan mempunyai hubungan erat untuk melakukan berbagai macam perubahan sosial kemasyarakatan. Buruh adalah profesi mulia yang tidak bisa terlepaskan dari berbagai sendi kehidupan seluruh Bangsa di dunia, kita semua bisa banyangkan jika tidak ada buruh di sebuah perusahaan maka sudah pasti perusahaan tersebut tidak bisa berjalan, ekonomi Bangsa kolaps dan dipastikan tidak ada yang namanya produktifitas. Di samping jumlahnya yang mayor, buruh juga mempunyai keahlian untuk melakukan sebuah pekerjaan – pekerjaan yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Buruh sering di identikkan sebagai kaum tertindas karena banyak kasus – kasus ketidakadilan yang dialaminya baik berupa tidak sesuainya gaji, lambannya penurunan gaji, pemutusan kerja secara sepihak, perlakuan sewenang – wenang dari pimpinan dan berbagai persoalan – soalan lain yang memacu kesolidaritasan para buruh untuk turun kejalan guna menyuarakan aspirasi atas berbagai kejadian tersebut diatas di tanggal 1 mei yang dikenal dengan may day.

Selain buruh ada kelompok yang juga merasakan ketertindasan yang cukup mendalan yaitu adalah lulusan sarjana (S1) yang belum mendapatkan panggilan kerja, mereka telah menghabiskan waktu yang panjang, tenaga besar dan biaya yang banyak guna meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia yang ada didalam diri mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak atau gaji yang besar guna mewujudkannya. 

Selanjutnya adalah kelompok petani yang belum mempunyai lahan atau petani yang gagal panen karena kondisi Sumber Daya Manusia dan Modal mereka yang tidak memadai yang membuat mereka tertindas karena kondisi.

Kemudian kelompok pengusaha kecil atau pedagang pasar yang kalah terhadap persaingan di era modern ini, mereka mempunyai produk namun didalam mengemas, tempat dan pemasaran kadang terbatas sehingga mereka juga mengalami ketertidasan secara struktural,

Bukan hanya itu, kelompok yang paling merasakan ketertindasan adalah kaum berakal yang membina moral masyarakat. Mereka paling merasa kesakitan melihat sebuah kondisi  buruk di kehidupan bermasyarakat yang dalam kata – kata bijak mengatakan “bagai mata tersaput debu, dan lidah menjadi kelu”. Semua orang mempunyai tanggung jawab dan mereka mempunyai tangungjawab terkait keseimbangan hidup manusia. Mereka yang menyadari akan tanggungjawabnya dalam membimbing manusia kejalan yang berkeadilan akan merasa luka ketika melihat  moralitas elit politik yang tidak lagi menajadikan manusia sebagai manusia, ketika alam dikelola sewenang – wenang dan ketika pembodohan menjadi budaya.

Tidak hanya itu para pembimbing moral masyarakat pasti mendapatkan tekanan – tekanan dari kelompok tertentu yang merasa terusik ketika budaya intelektual dan kesantunan terus digalakkan, kita pasti telah mendengar kisah Yesus atau Isa Al-Masih yang disalib karena melakukan perlawanan demi menegakkan keadilan di muka bumi ini pada zamannya, dan pada zaman ini para pewaris atau pelanjutnya pasti mengalami tekanan yang sama ketika melakukan proses pembinaan pada moralitas manusia di lintas profesi. Mereka terus memberikan hujjah (argumen kebenaran) kepada para pengusaha, politisi, akademisi, pelajar, petani, nelayan, pengemis, tukang becak, pegawai negara dan aktivis agar senantiasa membangun keseimbangan hidup dengan prinsip ke Tuhanan yang Maha Esa, mereka memberi pandangan yang jelas akan makna kehidupan yang sebenarnya.

Bagi kita yang pada hari merasa tertindas tentu harus menyadari peran mereka yang jauh lebih tertindas, embargo ekonomi yang kita hadapi hanyalah persoalan kecil yang masih bisa kita usahakan untuk bangkit membangunnya, namun yang  harus kita renungkan kembali adalah apakah dengan kekayaan yang telah kita raih akan mengantarkan kita pada kebaikan ? atau justru dengan itu kita bisa saja mendzolimi diri kita sendiri.

Banyak dari kita memahami kesejahteraan hanya pada tataran materi dan gaya hidup elit sehingga melahirkan stigma “kelas” dalam kehidupan masyarakat biasanya istilah ini disebut dengan si kaya dan si miskin sehingga yang hadir dikemudian hari adalah gaya hidup individualistik dimana hal itu menghasilkan kesenjangan sosial, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin tertindas. Jika prinsip itu masih kita pegang maka ketahuilah akan muncul persoalan – persoalan yang hari ini kita rasakan. 

Artinya untuk bangkit dari ketertindasan ini haruslah kolektif atau bersama – sama dengan memulai tujuan yang sama yaitu membangun peradaban yang bermoral. bersama – sama bukan berarti selalu bertemu melainkan terus bergerak dalam komando perintah Ilahiah. Hal ini akan kita dapatkan ketika kita terus belajar dan membuka hati untuk mengenali diri dan hakikat penciptaan semesta. Bangkit dari ketertindasan dengan membangun keseimbangan alam tidaklah mudah karena akan selalu ada evaluasi – evaluasi yang harus dibenahi baik didalam diri para penggerak maupun dieksternalnya yang ini menimbulkan gangguan – gangguan sehingga sang revolusioner era ini sering mengatakan, “untuk membangun Negara yang baik maka perbaiki terlebih dahulu diri kita”.

Bangkit dari ketertindasan bukan semerta – merta melakukan aksi yang mengakibatkan kerusakan dijalanan karena sudah jelas bahwa ketika emosi yang menjadi alas bagi kita untuk bergerak maka kita telah merusak keseimbangan hidup, bisa jadi bagi kita dengan merusak fasilitas umum adalah sebuah kebenaran yang harus dilirik namun pada kenyataannya hal itu justru kontra produktif karena ada hak masyarakat umum teerhadap fasilitas umum tersebut. Jika kita terbiasa mengambil atau merusak sesuatu yang bukan hak kita maka dalam pandangan saya hal itu bukanlah bangkit dari ketertindasan melainkan akan melahirkan penindas baru.

Bangkit dari ketertidasan dalam pengamatan saya akan dimulai dari kelompok kecil atau kaum minoritas yang senantiasa menuntut ilmu ini biasanya diisi oleh para Pemuda dimana mereka adalah orang terpilih dengan keagungan usia yang dimilikinya. Revolusioner Indonesia yang juga menjadi Wakil Presiden RI pertama yaitu Drs. Moh Hatta mengatakan “Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, tetapi manusia yang berkarakter tidak bisa diperoleh begitu saja”. Walaupun manusia yang berkarakter tersebut ditujukan adalah pada pemuda tidak semua pemuda mempunyai karakter yang bisa melakukan perjuangan untuk bangkit dalam arti yang sebenarnya, artinya apa ? karakter manusia baik itu pemuda maupun lansia tidak serta merta bisa mendapatkannya tanpa proses yang mungkin menyakitkan, ujian – ujian pasti menerpanya dan menjadikannya pribadi yang kuat.

Kesiapan untuk bangkit perlu terus di charge secara pribadi maupun melalui diskusi – diskusi rutin, Menebarkan nuansa – nuansa Intelektual dan keberanian untuk tidak takut jika kandas. Selain itu kita juga selayaknya bisa memahami kebangkitan dengan memahami zaman atau kondisi kekinian karena style perjuangan masa lampau dan bahasa zaman sekarang itu berbeda, kita harus bisa mengolah kebangkitan dengan memahami socio –cultural era ini agar kita tidak terjerembab dalam jebakan – jebakan musuh dalam hal ini Negara – negara Arogan pembuat tatanan dunia baru yang menyebabkan kondisi kita seperti ini.

Perjuangan Bung Karno dan kawan – kawan mengusir penjajah yang tampak sedangkan perjuangan kita melawan penjajah yang tidak menunjukkan wujudnya secara terang – terangan. kita harus menyadari hadirnya musuh dan harus membentengi diri serta  melawan musuh dengan cara – cara atau lagu – lagu yang di nyanyikannya. Sekarang adalah era Birokrasi bukan lagi era kekuatan fisik yng mendominasi, maka lawan semua ini dengan cara yang sesuai dengan kaidah – kaidah era ini.
Mari bangkit, dengan sebenar – benarnya bangkit.

Selamat hari buruh dan selamat hari pendidikan Nasional....